Skip to main content
x

Atasi Harga Anjlok, KWT Sekar Wangi Sulap Salak Menjadi Minuman Segar dan Bernilai Ekonomis Tinggi

Banjarnegara- Desa Prigi Kecamatan Sigaluh Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu desa sentra penghasil Salak, dimana sebagian besar penduduknya berpengasilan dari bertani yaitu budidaya salak dan hampir 1/3 wilayah adalah kebun salak.

Adanya pandemi Covid-19, sangat  terasa dampaknya bagi petani salak menggantungkan hidupnya dari salak, terutama turunnya harga dipasaran. Kendati begitu, hal ini tidak serta-merta membuat petani harus tidak bersemangat dan putus asa karena itu juga bukan solusinya, salah satu Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Prigi, yaitu KWT Sekar Wangi mencoba untuk mensiasati harga yang turun ini dengan menyulap buah salak yang harganya sangat murah dengan merubah menjadi aneka olahan makanan, salah satunya adalah minuman segar salak.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo  (SYL) seringkali mengatakan terutama dalam menghadapi wabah Covid19, bahwa pertanian tidak berhenti dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional serta meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia agar lebih baik.
“Di mana sektor pertanian memiliki potensi yang sangat besar dalam menumbuhkan ekonomi nasional," ujar SYL.

Didampingi penyuluh pertanian,  KWT Sekar Wangi mencoba untuk berinovasi, salah satunya dengan membuat minuman segar salak. “Disaat harga buah salak jatuh, kami mencoba inovasi dibidang pengolahan  dengan bimbingan dari penyuluh pendamping didesa kami. Produk olahan yang dibuat, disamping cara pembuatannya mudah, bisa juga dilakukan oleh semua anggota di kelompok kami,” kata Lisyanti Ketua KWT Sekar Wangi.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengapresiasi penyuluh yang semangat mendorong dan mengawal petaninya untuk maju dan berinovasi ditengah wabah Covid 19 ini.  
"Masalah pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa. Sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm, terutama pasca panen dan olahannya. Banyak yang bisa dikerjakan untuk menaikkan nilai pertanian, khususnya pasca panen. Tuntutannya adalah petani harus berinovasi. Buat terobosan agar hadir produk-produk baru," paparnya.

Lisyanti memaparkan, cara pembuatan minuman segar salak sangat mudah dan sederhana, bahan dasarnya hanya salak segar, gula pasir, air dan garam.  Dengan perbandingan 3 kg salak, 1 kg gula dan 5 liter air, potong salak yang sudah dikupas dan dibersihkan, sementara didihkan air, gula dan sedikit garam, masukkan salak yang sudah di potong-potong dan dinginkan. Untuk minuman segar yang akan dijual setelah mendidih langsung di masukkan ke cup dan packing, tapi bila akan dikonsumsi bisa langsung didinginkan dan masukkan kulkas.

“KWT Sekar Wangi sudah mampu menjual dengan harga 1 cup 2000-2500 rupiah. Hal ini lebih menguntungkan dibandingkan salak yang hanya dijual dalam bentuk buah segar saja. Kami sebagai penyuluh hanya bisa memotivasi kepada mereka untuk tetap semangat berproduksi dan terus berinovasi agar disaat pendemi Covid 19 ini mereka tidak terlalu putus asa dan tetap bisa mencukupi kebutuhan keluarga mereka, "ungkap Yekti Nunihartini selaku penyuluh pertanian di Desa Prigi.

Penulis :Yekti Nunihartini

Editor : Yeniarta

Telah terbit di :

1. Media lokal Swadaya Online : https://www.swadayaonline.com/artikel/6628/Atasi-Harga-Anjlok-KWT-Sekar-Wangi-Sulap-Salak-Menjadi-Minuman-Segar-dan-Bernilai-Ekonomis-Tinggi/

2. Media mainstream : http://www.jurnas.com/artikel/73722/Petani-dan-Penyuluh-Banjarnegara-Sulap-Salak-Jadi-Minuman-Bernilai-Tinggi/