Skip to main content
x

Berkenalan dengan Mesin Rice Transplanter di Tengah Pandemi Covid-19

Physical distancing di lahan dengan memanfaatkan mesin rice transplanter untuk percepatan tanam padi di lahan sawah pada musim kemarau ini.

Musim penghujan hampir usai dan musim tanam mulai berjalan kembali. Prediksi dari BMKG, Kabupaten Pacitan akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari biasanya. Petani mulai memikirkan cara agar dapat melanjutkan usahataninya ditengah kondisi alam yang seperti ini.
Selain itu, pandemi Covid-19 yang belum selesai, mengharuskan petani tetap turun ke lahan. “Walaupun ada virus Corona, bagaimana mau makan jika kami di rumah saja”, ujar salah satu petani. Pun demikian dengan arahan dari Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) menegaskan bahwa seluruh insan pertanian harus tetap melakukan pekerjaannya di tengah Pandemi Covid 19, untuk mencegah terjadinya krisis pangan.
“Walaupun dalam kondisi pandemi covid-19, don’t stop, maju terus, pangan harus tersedia dan rakyat tidak boleh kekurangan pangan. Setelah panen segera lakukan percepatan tanam, tidak ada lahan yang menganggur selama satu bulan,” tegas SYL. Arahan dari Menteri Pertanian tersebut diterima dan disikapi dengan baik oleh petani. Meskipun dalam keadaan berpuasa Ramdhan, para petani di Desa Mlati Kecamatan Arjosari Kabupaten Pacitan tidak patah semangat menanam padi sawah di MK I ini.
Salah satunya adalah Pramono dari kelompok tani Sido Makmur. Untuk menyikapi kondisi iklim, pandemi Covid-19 dan bulan puasa ini, Pramono menyewa mesin Rice Transplanter dari desa tetangga untuk menanam padi sawahnya.
“Dengan menggunakan mesin tanam ini, saya tidak perlu mencari banyak buruh tanam di tengah himbauan untuk physical distancing. Selain itu mempercepat tanam karena kondisi air yang semakin sulit”, tegas Pramono.
Setelah masuk usia tanam, bibit padi dari baki persemaian sudah disiapkan dan regu tanam mesin rice transplanter datang untuk melakukan tugasnya. Ketika proses menanam ini, banyak petani yang melewati lahan Pramono berhenti untuk ikut menyaksikan cara kerja mesin rice transplanter. Dari sini petani belajar bersama tentang teknologi baru tanam padi dan berbagai komentar diutarakan setelah para petani melihat langsung cara kerja mesin rice trasnplanter di lahan Pak Pramono tersebut.
Menurut pengalaman Pramono, ia tidak memerlukan waktu lama untuk menanam padi di lahan sawahnya yang berukuran 0,25 hektar. Karena baru pertama kali dan proses belajar, waktu yang banyak diperlukan yaitu ketika melakukan persiapan membuat papan persemaian di lahan dengan dialasi plastik. Hal tersebut dilakukan karena baki persemaian yang ada untuk mesin transplanter tidak mencukupi kebutuhan bibit yang diperlukan. Namun secara keseluruhan, dengan mesin ini menghemat waktu dan biaya tanam yang biasa dikeluarkan jika menggunakan tanam manual oleh buruh tani.
Operasional mesin rice transplanter perdana di kelompok tani Sido Makmur ini juga dijadikan sebagai media belajar (demplot) untuk seluruh petani di Desa Mlati. Dengan mengetahui cara kerja rice transplanter tersebut, diharapkan dapat menjadi solusi mengingat ketersediaan buruh tanam yang semakin berkurang. Selain itu sebagai alternatif lain di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir, dimana kegiatan tanam tetap harus dilakukan demi menjaga ketersediaan pangan dengan tetap bekerja sesuai protokol pencegahan Covid-19, yaitu jaga jarak aman, pakai masker, dan selalu menjaga kebersihan tangan serta kesehatan.
Prof. Dedi Nursyamsi selaku Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian menyatakan, “Masyarakat Indonesia semua butuh pangan. Dari pangan yang sehat dan bergizi maka akan membuat imunitas tubuh yang kuat, otomatis membuat bangsa kita sehat. Dan ketersediaan pangan dan olahan yang sehat itu semua berkat kalian sebagai pahlawan pertanian”.(Maria/Yeni)

Berita juga terbit di:

https://www.swadayaonline.com/artikel/6291/Berkenalan-Dengan-Mesin-Rice-Transplanter-di-Tengah-Pandemi-Covid-19/

 

Tags