DUBES AFRIKA: “PESERTA PELATIHAN HARUS BISA MENTRANSFER ILMU KEPADA MASYARAKAT DI NEGARANYA MASING-MASING”

Peserta International Training on Processing Technology of Agricultural and Animal Husbandry Product for African Countries: Sharing Best Practices to Achieve SDGs sebanyak 13 orang dari 12 negara Afrika diantaranya Afrika Selatan, Burundi, Burkina Faso, Ghana, Guinea Bissau, Kenya, Mozambik, Namibia, Nigeria, Tanzania, Sierra Leone dan Zimbabwe, melakukan kegiatan praktek pengolahan hasil tanaman pangan di laboratorium pengolahan hasil pertanian Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan. Diawali dengan pengolahan dari ubi kayu berupa pembuatan tepung cassava yang kemudian diolah lagi menjadi olahan mie ubi jalar, taro dan cake brownies.
Acara kegiatan praktek dilanjutkan kunjungan lapang menuju Bakpao Telo sebagai salah sentra industri pengolahan ubi jalar ungu/ telo (dalam bahasa Jawa), yang terlatak 6 km dari BBPP Ketindan. Di Bakpao Telo, peserta terlebih dahulu dikenalkan sekilas profil Bakpao Telo dan dilanjutkan dengan peninjauan secara langsung pembuatan aneka keripik telo. Diawali dari sortasi, pencucian, pengupasan, perajangan telo, pembersihan dilanjutkan dengan pengorengan, pengeringan dan pengemasan yang disertai dengan pengawasan agar produk memenuhi standar mutu. Tidak berhenti disitu saja, peserta juga melanjutkan kegiatan kunjungan lapangan ke CV. Lastrindo dengan materi cara pembuatan aneka keripik buah-buahan tropis dan cara penggunaan vacuum friying  baik dilevel rumah tangga maupun level industri besar.
Dari semua kegiatan praktek dan kunjungan lapangan, tampak semua peserta menikmati dan serius belajar. Mereka bahkan enggan beranjak dari laboratorium pengolahan hasil BBPP Ketindan karena tertarik dengan berbagai macam olahan yang dihasilkan oleh BBPP Ketindan, sebagai salah satu UPT Kementerian Pertanian dibawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP). Sama halnya seperti yang terjadi di Bakpo Telo dan CV Lastrindo, peserta juga tertarik cara pengolahan dan peralatan yang digunakan.
Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Duta Besar untuk Negara Afrika yang sekaligus menjabat sebagai Direktur Non Aligned Movement (NAM) Center for South South Technical Cooperation (CSSTC), H.E Ambbassador, Ronny P Yuliantoro, yang sangat mengharapkan bahwa peserta bisa menyerap semua ilmu dan materi yang telah diajarkan selama mengikuti pelatihan. “Setelah pulang ke negaranya masing-masing, peserta harus mentransfer ilmu kepada masyarakat di negaranya masing-masing. Hal ini sangat penting mengingat jika musim kering tiba, masyarakat bisa meningkatkan perekonomian keluarganya melalui pengolahan hasil tanamannya sendiri. Sektor pertanian masih menjadi pilihan hidup bagi masyarakat di Negara-Negara Afrika sebagai mata pencaharian mereka.,” pungkas Ronny P. Yuliantoro disela-sela wawancaranya.

 

Bagikan Artikel :