HAMA PASCA PANEN

Oleh: Selly Septariani, SP

Kata Kunci : Hama Pasca Panen, Acarus siro Linneaus

PENDAHULUAN

Pengetahuan tentang ekologi serangga hama pascapanen merupakan dasar penerapan pengendalian hama terpadu (PHT). Sifat struktur penyimpanan secara umum adalah kondisinya yang stabil dibandingkan lingkungan alami dan ketersediaan pangan yang melimpah.  Karakter penyimpanan ini menguntungkan hama gudang, walaupun adakalanya terjadi kelangkaan sumber makanan.  Habitat penyimpanan merupakan reservoir alaminya, toleransinya yang tinggi terhadap faktor fisik di penyimpanan.Keragaman perilaku makan pada berbagai bahan simpan,laju reproduksi yang tinggi, Kemampuan yang tinggi dalam menemukan lokasi sumber makanan ,kemampuan bertahan hidup dalam kondisi tanpa pangan dan Adaptasi morfologi (ukuran kecil, bentuk pipih, gerakan cepat dll.).  Studi ekologi yang dilakukan pada kondisi yang mirip dengan tempat penyimpanan lebih berguna untuk mengembangkan program pengendalian.  Dengan demikian dapat diperoleh lebih banyak gambaran tentang faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi dan kelimpahan hama pada kondisi nyata.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEBARAN DAN KELIMPAHAN HAMA GUDANG

  1.    Iklim

Unsur-unsur iklim mikro yang sangat berpengaruh pada perkembangan hama gudang, yaitu : temperatur, kelembaban, kadar air dan aerasi.

  1.   Suhu Kadar Air Biji dan Sumber Makanan          

Masa perkembangan, ketahanan hidup dan produksi telur serangga hama pascapanen tergantung pada kesesuaian lingkungan dan makanan.

        3.   Faktor Makanan

Makanan yang cukup dan sesuai dengan yang dibutuhkan hama pascapanen akan mendukung perkembangan populasi hama

 

KERUSAKAN OLEH HAMA PASCAPANEN

Hama pascapanen adalah organisme-organisme yang merusak hasil pertanian baik yang telah dipanen atau lewat masa panen.Kerusakan  berhubungan dengan kondisi produk yang menunjukkan adanya habitat serangga, bekas makanan seperti berlubang, alur gerekan dan lain-lain (Anonim, 1998). Sedangkan kehilangan adalah akibat adanya aktifitas serangga (termakan) sehingga akan mengurangi jumlah material yang disimpan (Kartasapoetra, 1991).

Perubahan kualitas ini dapat diklasifikasikan dalam 4 kategori yatu  Kondisi awal biji ketika biji dikirim ke penyimpanan, kondisi penyimpanan antara panen dan prosesing awal, teknik penanganan dan perlakuan pada sejumlah biji yang disebut Alur Teknik Penyimpanan. Dan Faktor deteorisasi biologi terutama oleh adanya cendawan dan hama-hama invertebrata (serangga dan tungau) (Kartasapoetra, 1991).

Menurut (Kartasapoetra, 1991). Secara umum, faktor yang mempengaruhi perkembangan dari hama pascapanen dibagi ke dalam 2 faktor :

1. Faktor luar (Eksternal) : terdiri dari iklim, makanan, musuh alami, dan manusia

2. Faktor dalam (Internal); lebih banyak dipengaruhi oleh faktor genetik hama itu sendiri.

BIOEKOLOGI HAMA PASCAPANEN

            Acarus siro Linneaus

Gambar.Acarus siro Linneaus

      Sumber http://biodiversitycyprus.blogspot.co.id

Hama ini tergolong Filum : Arthropoda, Kelas : Arachnida, Ordo : Acarina, Famili : Acaridae (Kalshoven, 1981). Tungau A. siro dikenal sebagai “Grain mite”, tersebar luas di dunia dan menyerang berbagai produk-produk terutama jika kadar air tinggi dan telah diserang oleh cendawan (Krischik dan Burkholer, 1997). Tungau ini ditemukan pada tepung, keju dan pada banyak produk-produk lainnya (Kalshoven, 1981).

Telur paling sedikit 100 butir per betina.Stadia telur dapat berlangsung beberapa bulan pada suhu 00C.Tubuh berwarna putih kekuningan agak oval dimana bagian tungkai dan mulut berwarna agak coklat kemerah-merahan. Tungau biji dapat hidup pada lahan-lahan pertanian, gudang, biji-bijian, tepung atau produk pangan lain yang mengandung cukup kadar air. Tungau ini berkembang sangat cepat dan menyebabkan kerusakan pada embrio biji.Keberadaannya dicirikan dengan adanya bau yang agak menyengat.

Perkembangan A. siro secara sempurna berada pada temperatur diantara 5°C dan 32°C, pada RH 60-90%. Jumlah maksimum tingkat pengembangan, suatu tingkat hakiki peningkatan 7.04, terjadi pada sekitar 25°C dan RH 90%. Pada temperatur 20°C dan RH 80%, kawin dan meletakkan telur tetapi pada peletakan telur kelembaban dan temperatur yang lebih rendah semakin tertunda untuk 1 hari atau lebih. Betina harus lebih dulu kawin berulang-kali untuk menjangkau produksi telur maksimum. Jumlah telur maksimum rata-rata per betina mencapai 435 di mana kondisinya adalah 15°C dan RH 90%.

Ahasverus advena Waltl.

Gambar . Ahasverus advena

Sumber: https://www.grainscanada.gc.ca/storage-entrepose/sip-irs/fgb-cg-eng.htm

 

 

 

 

Hama ini tergolong Filum : Arthropoda, Kelas : Hexapoda, Ordo : Coleoptera, Famili : Silvanidae (Kalshoven, 1981). Spesies ini merupakan hama kosmopolitan dan dikenal sebagai “Foreign grain beetle”. Kemungkinan spesies ini berasal dari Amerika dan tersebar pada daerah tropik dan daerah yang beriklim sedang.Ditemukan pada berbagai komoditi termasuk pada biji-bijian cerealia, biji kakao, biji kelapa, kopra, kacang tanah, terutama pada komoditi yang lembab dan berjamur.(Dobie et al., 1991).

Warna kumbang ini yaitu coklat kemerah-merahan (Kartasapoetra, 1991).Panjang kumbang 2 – 3 mm. kedua tepi anterior dari protoraks terdapat tonjolan seperti gigi.Antena terdiri dari 11 ruas dengan bentuk menggada dan tarsi 5 ruas.Spesies ini dapat dijadikan sebagai indikator bahwa kondisi penyimpanan lembab (Dobie et al., 1991). Larvanya berwarna putih mempunyai kaki torakal sehingga dapat bergerak aktif, ukuran panjang tubuhnya sekitar 4 – 5 mm, pupanya berwarna putih dengan ukuran panjang sekitar 2 mm (Kartasapoetra, 1991).

Araecerus fasciculatus (Fabricius)

    Gambar. Araecerus fasciculatus (Fabricius), Sumber :http://www.uniprot.org/taxonomy/251759

Hama ini tergolong dalam Filum : Arthropoda, Kelas : Hexapoda, Ordo : Coleoptera, Famili : Anthribida (Kalshoven, 1981). Hama ini dikenal sebagai “Coffee bean weevil” atau hama biji kopi. Selain menyerang biji kopi A. fasciculatus juga menyerang jagung, gaplek, kacang tanah, ubi jalar, biji kakao dan rempah-rempah (Hill, 1983).Larvanya ditemukan pada biji kopi yang dikeringkan juga pada ubi kayu, biji pala, bunga pala, biji kakao terutama pada biji kualitas rendah (Kalshoven, 1981).

Kumbang A. fasciculatus ditemukan pada daerah tropik dan subtropik.Pada bagian elitra dan protoraksnya terdapat banyak bercak yang berwarna terang, selanjutnya dikemukakan bahwa elitra A. fasciculatus lebih pendek dibanding ukuran abdomennya.(Dobie et al., 1991).Kumbang A. fasciculatus berukuran 3 – 5 mm (Kartasapoetra, 1991).Berwarna coklat gelap atau coklat kelabu (Kalshoven, 1981).Tipe antenanya adalah menggada (Clubbed) yaitu tiga ruas terakhir membesar (Hill, 1983).

Kumbang betina dapat menghasilkan telur 15 butir selama siklus hidupnya, dimana siklus hidupnya rata-rata berlangsung selama 30 hari tergantung pada suhu dan kelembaban (Syamsuddin, 2008).Seekor betina dapat menghasilkan telur 50 butir, pada suhu 280C dan kelembaban 70%.Siklus hidupnya berkisar antara 46 - 68 hari (Dobie et al., 1991).Kumbang ini dapat hidup selama 17 minggu jika makanan cukup (Kalshoven, 1981).

Setiap induk kumbang betina dapat memproduksi telur sebanyak 15 butir, telur-telur ini diletakkan di permukaan material dan baru akan menetas setelah + 9 hari. Larva-larva langsung melakukan penggerekan dan selanjutnya masuk ke dalam material (biji-bijian) dengan meninggalkan sisa-sisa gerekannya yang berupa tepung.Siklus hidup larva ini berlangsung sekitar 20 hari.Masa berkepompongnya berlangsung dalam biji yang telah kosong berlangsung + 5 hari (Soekardi dalam Kartasapoetra, 1991).

Tribolium confusum (Jack du val)

                                                                                                    Gambar.Tribolium confusum (Jack du val), Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Tribolium_castaneum.jpg

Kumbang T. confusum tergolong dalam ordo Coleoptera, famili Tenebrionidae.Dikenal sebagai “Confused flour beetle”.Kumbang ini dikenal berasal dari Ethiopia dan dapat menyerang biji kakao, kacang tanah, buncis, ercis dan biji kopi (Dobie et al., 1991).Hill (1993) menyatakan kumbang ini dapat menyerang beras, kopra, dedak, bungkil, biji pala dan wijen.Kumbang ini merusak material-material yang sudah hancur (Secondary pest).Kalshoven (1981), menyatakan bahwa kumbang ini dapat bersifat kanibalis terhadap pupa dan telur.Kumbang T. confusum berwarna coklat kemerah-merahan, bentuk tubuhnya pipih dengan panjang berkisar antara 3 - 4 mm (Rees, dalam Subramanyam dan Hagstrum, 1995).Kartasapoetra (1991) menyatakan bahwa tipe antena kumbang ini adalah menggada.

Tiap induk atau kumbang betina dapat menghasilkan telur 450 butir sepanjang siklus hidupnya, telur diletakkan dalam tepung atau pada bahan-bahan lain yang sejenis yang merupakan pecahan-pecahan kecil.Larva bergerak aktif karena memiliki 3 pasang kaki torakal. Larva-larva ini selama perkembangannya mengalami pergantian kulit antara 6 - 11 kali, tetapi tidak jarang pula hanya 6 - 7 kali, ukuran larva yang telah dewasa antara 8 – 11 mm. Menjelang masa berkepompong larva ini akan muncul di permukaan material, tetapi setelah menjadi imago selanjutnya masuk kembali ke dalam material. Siklus hidupnya sekitar 35 - 45 hari (USDA dalam Kartasapoetra, 1991).

Cryptolestes ferrugineus (Stephens)

Gambar.Cryptolestes ferrugineus (Stephens) http://www.gov.mb.ca

Hama ini tergolong dalam Filum : Arthropoda, Kelas : Hexapoda, Ordo : Coleoptera, Famili : Cucujidae .Kumbang C. ferrugineus dikenal sebagai “Rusty grain beetle”. Kumbang ini adalah hama kosmopolit tersebar dari daerah beriklim tropik sampai ke daerah beriklim subtropik. Berstatus sebagai

hama sekunder dimana menyerang biji-bijian, kacang-kacangan dan produk lain di penyimpanan. Kumbang ini berukuran 1,5 – 2 mm, berwarna coklat terang. Bentuk antena seperti benang dan panjang (Dobie et al., 1991).

Kumbang betina meletakkan telur kira-kira 200 butir, diletakkan pada permukaan komoditi (Syamsuddin, 2008).Setelah beberapa hari menjelang terjadinya penetasan telur yang pada mulanya berwarna putih berubah menjadi agak buram (Kartasapoetra, 1991).Larva ini tidak dapat langsung masuk ke dalam biji tetapi dapat masuk jika kulit biji mengalami kerusakan (pecah) akibat penanganan pascapanen.Siklus hidup kumbang ini tergantung suhu dan kelambaban.Kumbang C. ferrugineus pada kondisi suhu 330C kelembaban relatif 70% siklus hidupnya 23 hari.Kelembaban relatif 80% siklus hidupnya 27 - 30 hari (Dobie et al., 1991).

 

Ephestia cautella (Walker)

Gambar. Ephestia cautella (Walker), Sumber: http://www.insectslimited.com/insect-information

Hama ini tergolong dalam Filum : Arthropoda, Kelas : Insekta, Ordo : Lepidoptera, Famili : Pyralidae (Kalshoven, 1981). Serangga ini dikenal sebagai “The dried current moth”.Ngengat ini selain menyerang produk biji-bijian juga menyerang kacang-kacangan, biji kakao, buah-buah yang dikeringkan (Dobie et al., 1991).

Hama ini merupakan hama utama pada daerah tropik dan daerah beriklim panas. Buah-buah yang dikeringkan lebih disukai tetapi serangga ini juga menyerang produk-produk yang disimpan termasuk tepung, biji-bijian, biji kakao, kurma, kacang-kacangan dan biji-bijian lain (Syamsuddin, 2008). 

Ngengat berwarna abu-abu dengan panjang tubuh sekitar 6 mm. Bila kedua sayap direntangkan panjangnya mencapai 17 mm, sisi atas sayap depan mempunyai semacam pita. Larva berwarna coklat agak kotor atau coklat merah dengan bitik-bintik agak gelap. Kepompong mempunyai ukuran panjang 7,5 mm dan kokonnya berwarna putih (Kartasapoetra, 1991).

Menurut Kalshoven (1981) ngengat ini dapat memproduksi telur sekitar 30 butir selama siklus hidupnya, siklus hidup sekitar 31 - 42 hari.Pada suhu 300C stadia telur 3 hari, larva mengalami 5 instar.Dalam kondisi optimum (320 C dan kelembaban relatif 70%) stadia larva 22 hari. Sebelum menjadi pupa larva instar terakhir membentuk kokon. Stadia pupa kira-kira 7 hari.Dalam kondisi yang optimum perkembangan dari telur sampai imago kira-kira 29 - 31 hari (Dobie et al., 1991).

 

   PENGENDALIAN HAMA PASCA PANEN

Tindakan pengendalian dengan memanipulasi ekologi hama pascapanen yang biasa digunakan antara lain :

a.   Sortasi, yaitu memilih dan memisahkan produk yang akan disimpan dalam gudang, mana yang terserang hama dan mana pula yang keadaan atau kualitasnya benar-benar baik;

b.   Pengolahan, dimana produk-produk yang telah terserang hama pascapanen dipisahkan, terutama jika kadar air masih tinggi, dilakukan pengeringan yang dapat dilakukan dengan cara penjemuran;

c.   Penataan, yang dimaksud disini ialah penempatan produk di dalam gudang secara teratur dalam keadaan ruangannya yang bersih.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dobie, P., Haines, C.P., Hodges, R.J., Prevet, P.F. & Rees, D.P. 1991. Insect And Arachnids Of Tropical Stored Products. Their Biology and Identification. Nasional Resources Institute (NRI), United Kingdom. 158 p.

Kalshoven LGE, 1981. The Pest of Crops in Indonesia, Ichtiar baru-van Hoeve. Jakarta

Kartasapoetra. 1991. Hama Hasil Tanaman Dalam Gudang. Rinka Cipta. Jakarta.

Syamsuddin. 2008. Bioekologi Hama Pasca Panen dan Pengendaliannya. Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XIX.Komisariat Daerah Sulawesi Selatan. 5 November 2008. p. 417-421. Tettey, E., Jonfia-Essi

Toekidjo, Martoredjo. 1996. Ilmu Penyakit Lepas Panen. Ghalia Indonesia. Jakarta

http://barry.fotopage.ru/gallery/show_image.php?imageid=27330 (gambar judul artikel)

 

Bagikan Artikel :