KELOMPOK TANI HIDAYAH SUKSES LAHIRKAN PEMUDA TANI DI BALI

Provinsi Bali terkenal didunia dengan surga keindahan yang luar biasa, baik dari sisi budaya, pesona alamnya mapun eksotisme pariwisata yang sangat kental dengan nuansa adat istiadat yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Bali. Pun dari sisi dunia pertanian yang juga dibalut dengan keindahan alam bercampur budaya.

Pertumbuhan sektor pertanian yang sudah maju perlu menjadi perhatian pertumbuhan ekonomi di Bali. Karena selain pariwisata, sektor pertanian, perikanan dan kehutanan menjadi sektor unggulan yang harus diperhatikan oleh pemerintah baik daerah maupun pusat.

            Tingginya alih fungsi lahan dan krisinya generasi muda yang bergerak dalam, bidang pertanian mengancam sektor pertanian dan ketersediaan pasokan kebutuhan bahan makanan yang dihadapkan pada peningkatan permintaan yang didorong oleh perkembangan pariwisata. Selain alih fungsi lahan resiko yang berpotensi buruk adalah anomali iklim  sehingga menghambat kinerja pertanian.

            Sebuah kawasan pertanian di Desa Candikuning, Kecamatan Baturuti Bedugul Kabupaten Tabanan Provinsi Bali melahirkan kelompok tani yang menjadi pusat pelatihan atau permagangan pertanian perdesaan swadaya atau lebih dikenal dengan sebutan P4S Hidayah Bali, yang didirikan oleh Hadiman Marzuki dan Nyoman Suta. Uniknya di P4S ini anggotanya bisa memadukan dua keyakinan yaitu Hindu dan Islam dan hidup berdampingan rukun satu sama lain seperti layaknya keluarga sendiri.

            Terletak di jantung obyek wisata Danau Barantan atau dikenal dengan Danau Bedugul, dengan ketinggian 1200 dpl, P4S Hidayah Bali bergerak disektor pertanian dengan pengembangan budidaya strawberry dan sayuran organik, pengembangan tanaman hias, peternakan kelinci organik dan pengolahan hasil pertanian, sedangkan usaha diluar pertanian yaitu rumah makan, penjualan rempah-rempah, agrowisata dan wisata alam.

            Krisisnya petani muda yang peduli dengan dunia pertanian, membuat P4S Hidayah Bali sangat getol agar petani disekitarnya mampu menjawab tantangan di era globalisasi ini dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan yang baik agar menjadi petani yang tangguh dan mandiri sehingga mereka/ petani tersebut dapat menentukan sendiri langkah usahataninya yang berorientasi pasar (agribisnis) terutama di bidang hortikultura. Kelebihan dari P4S dan KUB yang telah dibentuk  ini telah melakukan teknologi budidaya hortikultura secara organik, banyak sarjana yang terjun ke dunia agribisnis dan menjaring pemuda sekitar untuk terjun ke dunia pertanian dan telah banyak menjalin kemitraan dengan berbagai supplier, hotel berkelas standar hingga hotel berbintang, restoran dan supermarket ternama di Bali.

            P4S yang telah berkembang pesat ini telah banyak meraih penghargaan sebagai petani teladan salah satunya pengelola P4S Hidayah Bali melalui Hadiman Marzuki tahun 2017 yang penyerahan penghargaannya pada kegiatan Penas Aceh. Dan membuat Kelompok Usaha Bersama (KUB) dengan tiga kelompok petani berjumlah 240 orang yaitu Poktan Usaha Mulia, Poktan Matahari dan Poktan dengan beberapa komoditas yang berbeda-beda, dengan tingkat klasifikasi utama, madya lanjut dan pemula. Rata-rata komoditas yang digeluti hortikultura/ sayuran dataran tinggi, peternakan sapi, babi dan kelinci.

Capaian KUB ini sangat luar biasa, namun dibalik semua itu manajemen dari KUB ini masih berjalan sendiri-sendiri atau dikelola sendiri oleh masing-masing perorangan atau Poktan itu sendiri. Sehingga ketika ada permasalahan yang dialami oleh salah satu kelompok otomatis tidak ada yang bertanggungjawab dengan kondisi KUB tersebut karena manajemen dikelola sendiri. Beberapa hal yang menjadi permasalahan dan kebutuhan yang dialami oleh KUB saat ini adalah benih kentang yang masih didatangkan dari pulau Jawa serta bibit strawberry yang terkena virus diseluruh Indonesia sehingga memerlukan bibit unggul/ berkualitas, permodalan,green house paprika, packing house dengan fasilitas coolstorage, cultivator, hand tractor, green house smart dan pelatihan penguasaan teknologi tepat guna terkait hortikultura. Dari sisi permodalan, petani harus memutar keuangan karena tempo pembayaran dari hotel dan restoran biasanya tiap tiga bulan sekali baru terbayarkan.

            Dengan pesatnya perkembangan P4S Hidayah Bali dan KUB ini, masih perlu pendampingan dari pemerintah agar perbaikan di manajemen mereka bisa diperbaiki dibawah kendali P4S Hidayan Bali dan jika mengalami kesulitan sebagai penanggungjawan P4S Hidayah Bali siap untuk membantu kebutuhan dan permasalahan KUB. Tantangan teknologi dan menjamurnya petani-petani seperti KUB ini sangat berdampak jika para petani tersebut ketinggalan jauh dengan Iptek dan inovasi-inovasi yang berkembang. Jika tidak disiapkan dengan baik, bukan tidak mungkin P4S dan KUB ini akan bisa tergeser oleh kelembagaan lainnya baik perorangan maupun kelembagaan/ perusahaan. Peran dan perhatian dari pemerintah dalam hal ini sangat diperlukan untuk keberlangsungan kelembagaan yang telah sukses melahirkan petani baru dan melatih petani atau masyarakat umum dengan baik.

Bagikan Artikel :