KEPEL

Stelechocarpus burahol

Tanaman kepel merupakan jenis tumbuhan dengan perawakan pohon yang tingginya dapat mencapai 25 m. Tanaman kepel adalah tanaman asli Indonesia dan  tersebar dari Asia Tenggara sampai ke pulau Solomon, secara geografis pohon kepel ditemui di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaysia. Tumbuhan ini tumbuh liar di hutan dan tempat-tempat seluruh Jawa pada ketinggian sampai dengan 150-600 m dpl. Secara umum, kepel tumbuh baik pada tanah yang subur, banyak mengandung humus, dan memiliki kelembaban yang relatif tinggi. Kepel merupakan anggota dari suku Annonaceae atau keluarga kenanga-kenangaan dan memiliki beragam nama di Indonesia. Di Jawa Tengah dan Yogyakarta kepel juga dikenal dengan nama simple atau kecindul, karena ukuran buahnya yang segede kepalan tangan orang dewasa, orang Jawa menamakannya buah kepel. Melambangkan unsur kesatuan dan keutuhan mental dan fisik seperti tangan yang terkepal.

Tanaman kepel ini merupakan flora identitas dan  lambang kekuasaan kerajaan Kesultanan Yogyakarta. Pada masa tersebut, tanaman kepel hanya boleh ditanam dilingkungan keraton Kesultanan Yogyakarta. Buah kepel digemari puteri keraton-keraton dan dipercaya menyebabkan keringat beraroma wangi dan membuat air seni tidak berbau tajam. Masyarakat awam tidak diperbolehkan menanam tanaman ini, kecuali beberapa abdi dalem keraton. Pada jaman penjajahan orang percaya bahwa hanya orang yang kuat lahir batin yang mampu meniru gaya hidup keluarga keraton. Kepercayaan waktu itu  hanya pejabat setingkat adipati yang pantas dan kuat lahir batin meniru perilaku keluarga kerajaan.

Di Jawa Barat, kepel disebut burahol, sampai dua orang taksonomis mancanegara yang  mengidentifikasi tanaman itu memberi nama Latin Stelechocarpus burahol. Burahol Sunda ini sama jenisnya dengan kepel Jawa, pohon itu juga banyak tumbuh di hutan, tetapi para istri Raja Sumedang, Galuh, dan Dipati Ukur tidak tertarik pada pohon itu. Rakyat Jawa Barat menganggap buah itu tidak bernilai, karena dagingnya tidak banyak. Sebaliknya, bijinya yang besar-besar yang memenuhi ruangan buah. Akibatnya, tidak ada yang peduli ketika pohon burahol dari hutan ditebangi, setiap kali ada bagian dari hutan dibuka untuk dijadikan daerah permukiman baru.

Pohon hias potensial

Pohon kepel lumayan indahnya, dengan batang yang tegak lurus, dan tajuk berbentuk kerucut. Tajuknya teratur berbentuk kubah meruncing ke atas (seperti cemara) dengan percabangan mendatar atau agak mendatar. Diameter batang  utamanya mencapai 40cm, berwarna coklat-kelabu tua sampai hitam, yang secara khas tertutup oleh banyak benjolan yang besar-besar. Daunnya berbentuk lonjong-jorong sampai bundar-telur/bentuk lanset,  berwarna hijau gelap, tidak berbulu, merontal tipis; tangkai daunnya mencapai 1,5 cm panjangnya. Bunganya mula-mula berwarna hijau kemudian berubah menjadi keputih-putihan, muncul pada tonjolan-tonjolan di batang atau ranting. Buahnya bertipe mirip buah buni (berrylike ripe carpels), buah yang matang hampir bulat bentuknya, berwarna kecoklat-coklatan. Kalau selesai berbuah kemudian menumbuhkan tunas daun muda yang baru, pohon itu lebih semarak lagi, karena hijaunya daun tua dihias dengan warna merah daun muda seperti daun kayu manis. Daun itu akan lebih mengkilat kalau tertimpa sinar matahari.

Buah di sekeliling batang utama pohon dan buah masak

Khasiat  Buah dan Daun Kepel

Daging buah, biji dan akar kepel mengandung anti bakteri, saponin, flavonoida dan polifenol, terpenes, dan quercetin, disertai tingginya kadar vitamin C serta A, dan daunnya mengandung flavonoida dan polifenol. Dalam riset yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian IPB dan dijurnalkan dalam Scientific Repository Institut Pertanian Bogor dijelaskan beberapa manfaat antara lain :

  • Berfungsi sebagai hepaprotektif atau perlindungan terhadap fungsi hati pada daging buah kepel. Dari hasil riset ini ditemukan adanya kemampuan mengembalikan kinerja produksi enzim dalam hati dan membantu melakukan regenerasi sel terhadap hati yang mengalami kerusakan.
  • Mempengaruhi sistem produksi keringat dan enzim pemicu bau badan. Pada dasarnya aroma alami tubuh disebabkan oleh dua faktor, feromon yang membawa aroma alami dan mercaptan yang membawa aroma kurang sedap. Buah kepel akan bekerja mengendalikan produksi mercaptan. Selain dalam daging buah kepel ditemukan agen anti bakteri yang kuat melawan pembentukan amonia yang berasal dari reaksi keringat dan bakteri serta jamur.
  • Membantu melancarkan kencing dan meluruhkan endapan dalam ginjal: Flavonoidnya tergolong lengkap dengan kadar alkaloid, fenolik, dan quercetin yang tinggi. Antioksidan terbukti tidak mengganggu fungsi ginjal, melainkan justru membantu mempercepat proses regenerasi sel pada ginjal dan menghambat kerusakan sel ginjal. Selain itu, dalam buah kepel juga ditemukan adanya kemampuan diuretik yang akan mendorong  lebih banyak menghasilkan air kencing.
  • Sebagai obat asam urat : Kandungan alkaloidnya yang tinggi efektif mengatasi  asam urat yang menjadi penyebab rasa nyeri dan kerusakan sendi. Alkaloid akan larut dalam darah dan menetralisir kadar pH pada area sendi dengan cepat.

·Sebagai anti kanker : Dalam daging buah kepel juga ditemukan kandungan acetogenin, styryl lactons, dan isoflavon yang akan bekerja sebagai anti kanker. Acetogenin merupakan senyawa unik yang bekerja menghambat permeabilitas mitokondria dari sel kanker dan mengontrol apoptosis sel kanker. Styryl lactons memiliki peran untuk meningkatkan tumor supressor gene, sedang isoflavon akan bekerja mengendalikan sifat estrogenik sel kanker.

·Mempercepat proses regenerasi sel : Kandungan vitamin E, terpenes, dan quercetin dalam daging buah kepel menjadikan munculnya manfaat buah kepel terhadap fungsi regenerasi sel dan pemurnian DNA. Itu sebabnya di masa lalu Putri Keraton sering mengonsumsi buah kepel untuk membantu mengatasi jerawat sekaligus menghilangkan sisa bekas luka jerawat. Sifat regenerasi sel ini juga akan membantu menjaga kebugaran tubuh dan menjaga seseorang awet muda.

Banyak  manfaat yang bisa kita ambil dari buah kepel selain sebagai buah segar juga alternatif sebagai herbal yang sangat membantu mengatasi beberapa penyakit.   Tanaman langka ini masih bisa ditemukan di Keraton Yogayakarta, Kebun Raya Bogor dan Taman Buah Mekarsasi. Dengan manfaatnya yang begitu banyak dan saat ini masih merupakan buah-buahan langka di Indonesia, sudah barang tentu memiliki peluang yang besar untuk dibudidayakan.

 

Referensi :

Sunarni, Titik. (2007). Flavonoid antioksidan penangkap radikal dari daun kepel (Stelechocarpus burahol (Bl.)Hook f. & Th.).Majalah Farmasi Indonesia, 18(3), 111 – 116, 2007.

Hutapea, J.R. (1994). Inventaris Tanaman Obat Indonesia III, Badan Penelitiandan Pengembangan Kesehatan, Jakarta.

https://www.deherba.com/buah-kepel-khas-keraton-yang-bermanfaat-bagi-kesehatan.html. Di akses 30 Agustus 2017

  http://warungbuahmbaksri.blogspot.co.id/ Di akses 30 Agustus 2017

https://www.khasiat.co.id/daun/daun-kepel.html  Di akses 31 Agustus 2017

http://khasiat-manfaat-tanamanobat.blogspot.co.id/2013/09/atasi-asam-urat-kolesterol-dengan-daun.html Di akses 4 September 2017

http://darsatop.lecture.ub.ac.id/2015/10/kandungan-dan-khasiat-daun-kepel/Di akses 4 September 2017

Bagikan Artikel :