MENGENAL PESTISIDA NABATI

Oleh                : Alfa Aliffia Pradikta, SP.

Kata Kunci      : PHT, pestisida nabati

 

  1. Latar Belakang

Dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida kimia mendorong untuk memberlakukan pembatasan penggunaan bahan- bahan kimia pada proses produksi terutama pestisida kimia sintetik dalam pengendalian hama dan penyakit di bidang pertanian, perkebunan dan kehutanan. Kebijakan nasional telah diberlakukan dalam pelindungan tanaman yaitu program Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan mengutamakan pemanfaatan agens pengendali hayati atau biopestisida termasuk pestisida nabati.

 

  1. Arti Pestisida Nabati dan Jenisnya

 

b.1. Arti Pestisida Nabati

Pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya dari tumbuhan. Pestisida nabati dimasukkan ke dalam kelompok pestisida biokimia karena mengandung biotoksin. Pestisida biokimia adalah bahan yang terjadi secara alami dapat mengendalikan hama dengan mekanisme non toksik. Secara evolusi tumbuhan telah mengembangkan bahan kimia sebagai alat pertahanan alami terhadap pengganggunya. Tumbuhan mengandung banyak bahan kimia yang merupakan metabolit sekunder dan digunakan oleh tumbuhan sebagai alat pertahanan dari serangan organisme pengganggu.

Bahan aktif pestisida nabati adalah produk alam yang berasal dari tanaman yang mempunyai kelompok metabolit sekunder yang mengandung beribu-ribu senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid, fenolik, dan zat – zat kimia sekunder lainnya. Senyawa bioaktif tersebut apabila diaplikasikan ke tanaman yang terinfeksi OPT, tidak berpengaruh terhadap fotosintesis pertumbuhan ataupun aspek fisiologis tanaman lainnya, namun berpengaruh terhadap sistem saraf otot, keseimbangan hormone, reproduksi, perilaku berupa penarik, anti makan dan sistem pernafasan OPT (Setiawati et al. 2008).

Di Indonesia sebenarnya sangat banyak jenis tumbuhan penghasil pestisida nabati, diperkirakan sekitar 2400 jenis tanaman yang termasuk ke dalam 235 famili (Asmaliyah et al, 2010).

 

b.2. Jenis- jenis Tumbuhan yang Potensi menjadi Pestisida Nabati

Jenis- jenis tumbuhan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai pestisida nabati antara lain: Akar hijau, akar tuba, akasia, balik angin, bawang putih, belimbing wuluh, brotowali, birah, maja, baru cina, cambai, kencur, cengkeh, cupa, duku, durian, gullasar, gadung, jarak, jarak pagar, jejer, jeruk purut, dlingo, kacang panjang, kapas, kapuk, karet, kecubung, keluwih, kelapa, kenikir, kayu manis, kemiri, kemang, lada, lempuyang, mengkudu, mimba, mindi, nangke, pacar cina, papaya, petai, serai wangi, sirsak, tembakau, terong asam (Setiawati et al. 2008).

 

 

C. Keuntungan Pestisida Nabati

Keuntungan yang didapat dari penggunaan pestisida nabati antara lain  (Suriana N.,2012) :

  1. Mempunyai cara kerja unik yaitu tidak meracuni (non toksik).
  2. Mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan secara relatif aman bagi manusia dan hewan peliharaan karena residunya mudah hilang.
  3. Penggunaan dalam jumlah (dosis) kecil / rendah.
  4. Mudah diperoleh di alam.
  5. Cara pembuatan relatif mudah dan secara sosial  ekonomi penggunaannya menguntungkan bagi petani kecil di negara berkembang.

 

  1. Teknik Pembuatan Pestisida Nabati
  1. Sederhana (Jangka Pendek)

Dalam bentuk ekstrak secara sederhana, dapat dilakukan oleh petani dan penggunaannya biasanya dilakukan sesegera mungkin setelah pembuatan ekstrak. Pembuatan secara sederhana ini berorientasi kepada penerapan usaha tani berinput rendah.

  1. Skala Laboratorium (Jangka Panjang)

Pembentukan ekstrak secara laboratorium (jangka panjang) dilakukan oleh tenaga ahli yang sudah terlatih dan hasil kemasannya memungkinkan untuk disimpan relatif lama. Pembuatan cara laboratorium ini biasanya membutuhkan biaya tinggi, sehingga produk pestisida nabati menjadi mahal, bahkan lebih mahal dari pestisida sintesis. Oleh karena itu pembuatan pestisida nabati dianjurkan dan diarahkan kepada teknik pembuatan sederhana.

Pembuatan pestisida nabati dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain :

  • Penggerusan, penumbukan, pembakaran, dan pengepresan untuk menghasilkan produk berupa tepung, abu atau pasta.
  • Perendaman untuk produk ekstrak. Pembuatan ekstrak dapat dilakukan dengan beberapa cara :
  • 1. tepung tumbuhan + air
  • 2. Tepung tumbuhan + air kemudian dipanaskan atau direbus (distilasi)
  • 3. Tepung tumbuhan + air + detergen
  • 4. Tepung tumbuhan + air + surfaktan (pengemulsi) pestisida
  • 5. Tepung tumbuhan + air + alcohol/ methanol + surfaktan
  1. Ekstraksi dengan menggunakan bahan kimia pelarut disertai perlakuan khusus oleh tenaga ahli dan dengan peralatan khusus.
  2. Prinsip Kerja Pestisida Nabati

Dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman, pestisida nabati menjalankan prinsip kerja yang unik dan spesifik. Prinsip kerja pestisida nabati ada tiga yaitu menghambat, merusak dan menolak. Hal ini akan tampak pada cara kerja pestisida nabati dalam melindungi tanaman dari gangguan hama dan penyakit. Cara kerja pengendaliannya bisa melalui perpaduan beberapa cara ataupun cara tunggal. Berikut adalah beberapa mekanisme kerja pestisida nabati dalam melindungi tanaman dari organisme pengganggu (Suriana N.,2012):

§  Menghambat proses reproduksi serangga hama, khususnya serangga betina.

§  Mengurangi nafsu makan.

§  Menolak makan

§  Merusak perkembangan telur, larva dan pupa, sehingga perkembangbiakan serangga hama dapat dihambat.

§  Menghambat pergantian kulit

 

Penggunaan pestisida nabati yang dapat dipadukan dengan musuh alami bila bahan pestisida nabati tersebut tidak beracun bagi musuh alami. Diharapkan dengan adanya informasi mengenai jenis- jenis tanaman yang berpotensi sebagai bahan penghasil pestisida nabati dan pemanfaatannya dapat membantu masyarakat dalam mengenal dan memanfaatkan jenis- jenis tersebut dalam pengendalian PHT.

 

Daftar Pustaka

[Asmaliyah, 2010] Asmaliyah, Etik Erna Wati H.; Sri Utami; Kusdi Mulyadi; Yudhistira; dan Fitri Windra Sari. 2010. Pengenalan Tumbuhan Penghasil Pestisida Nabati dan Pemanfaatannya Secara Tradisional. Jakarta. Kementerian Ketuhan Badan Penelitian dan Pengenmbangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Produktivitas Hutan.

[Hasibuan, 2008] Hasibuan, B.E. 2008. Pupuk dan Pemupukan. Medan. USU Press.

[Setiawati, 2008] Setiawati, Wiwin; Rini Murtiningsih; Neni Gunaedi; dan Tati Rubiati. 2008. Tumbuhan Bahan Pestisida Nabati dan Cara Pembuatannya untuk Pengendalian Organisme Penganggu Tumbuhan (OPT). Bandung. Balai Penelitian Tanman Sayuran.

[Suriana 2012] Suriana, Neti. 2012. Pestisida Nabati : Pengertian, Kelebihan, Kelemahan, dan Mekanisme Kerja. informasitips.com (Diakses 03 Oktober 2016).

 

 

Bagikan Artikel :