MENUJU LUMBUNG PANGAN MELALUI DIKLAT BUDIDAYA JAGUNG DI WILAYAH PERBATASAN NTT

Kementerian Pertanian menargetkan Indonesia bisa menjadi lumbung pangan dunia pada 2045. Untuk mencapai lumbung pangan dunia pemerintah secara bertahap akan menghentikan impor sejumlah komoditas pangan.

Untuk mengatasi hal itu, Kementan membangun empat lumbung pangan di wilayah perbatasan. Empat perbatasan tersebut berada di Kepulauan Riau, Entikong, NTT dan Merauke. Pembangunan lumbung dan sawah di empat perbatasan tersebut harus mampu dan dipersiapkan untuk menyediakan suplai ekspor. Kepulauan Riau menyediakan suplai ekspor ke Singapura, Entikong disiapkan untuk suplai ke Malaysia, NTT menyediakan suplai ke Timor Leste  dan Merauke disiapkan untuk suplai ke Papua Nugini dan Fiji.

Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan bekerjasama dengan Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kupang sebagai UPT dibawah lingkup Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan, menyelenggarakan diklat budidaya jagung dalam rangka mendukung lumbung pangan dunia di wilayah perbatasan dengan peserta 30 orang petani yang berasal dari beberapa kelompok tani Kabupaten Belu dan Malaka Provinsi NTT, 18 – 22 April 2017 di BBPP Kupang. Dipilihnya kedua kabupaten tersebut karena mewakili wilayah berpotensi untuk pengembangan tanaman pangan terutama jagung.

Dibuka secara langsung oleh Kepala BBPP Ketindan, Djajadi Gunawan, acara ini juga dihadiri oleh Kepala BBPP Kupang Adang Warya dan jajarannya, Kepala Bidang Penyelenggaraan Diklat, Kepala Seksi Pelatihan Non Aparatur dan widyaiswara pengampuan budidaya jagung BBPP Ketindan pejabat struktural dan widyaiswara dari BBPP Ketindan dan BBPP Kupang.

Djajadi Gunawan dalam pembukaan dan sambutannya, menyampaikan bahwa diadakannya diklat budidaya jagung di BBPP Kupang ini sebagai tindak lanjut mendukung program Kementerian Pertanian menuju lumbung pangan dunia. Upaya meningkatkan ketahanan pangan suatu daerah ditentukan oleh kemampuan masyarakat pedesaan dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan secara periodik dan berkelanjutan karena pedesaan merupakan basis pembangunan pertanian. Faktor kunci dalam menentukan lumbung pangan dunia adalah dukungan yang terkait dengan lahan dan pengairan, infrastruktur pertanian, inovasi teknologi kesinambungan, efisiensi dan daya saing, pasca panen, pasar serta peran petani dan regulasi. Suksesnya program ini adalah kerjasama yang baik dari semua lini, dari hulu hingga ke hilir. Kegiatan diklat budidaya jagung ini juga dibuka bersamaan dengan kegiatan diklat milik BBPP Kupang yaitu diklat kesehatan hewan bagi penyuluh/ petugas dan diklat teknis SIWAB bagi inseminator non aparatur

Bagikan Artikel :