OPTIMASI LAHAN, PRODUKSI DAN SEBARAN DIFUSI INOVASI

Oleh : Nurlela *);  Dwi Astuti, R **) ; Asri Indrawati **)

 

Pemanfaatan seluruh potensi sumber daya alam dalam suatu kawasan agribisnis dimaksudkan sebagai upaya menjadikan sumberdaya tersebut memiliki produktivitas sesuai yang diharapkan dan menunjang terwujudnya program ketahanan pangan dan antisipasi kerawanan pangan, yang diakibatkan semakin bertambahnya jumlah penduduk akan pemenuhan kebutuhan pangan.

Sektor pertanian tidak saja memiliki permasalahan pada ketenagaan, tetapi juga terjadi pada kesehatan lahan yang semakin menurun baik fisik maupun kimiawi, optimasi lahan menjadi titik balik untuk dapat mengembalikan fungsi lahan pertanian sebagai salah satu faktor produksi yang sangat penting, sebagai media tumbuh bagi tanaman.

Penyuluh Pertanian adalah perorangan warga negara Indonesia yang melakukan kegiatan penyuluhan, dan seorang penyuluh pertanian profesional merupakan seseorang yang memiliki kompetensi sesuai standar kompetensi kerja untuk menyelenggarakan kegiatan penyuluhan pertanian. Upaya peningkatan kompetensi substantive, social maupun manajerial dapat ditempuh oleh seorang penyuluh pertanian melalui jalur kediklatan. Dalam satu kesempatan mendampingi peserta Diklat Dasar Bagi Penyuluh Pertanian Kabupaten Wonogiri melakukan praktik kerja penyuluhan pertanian (PKPP) di Kecamatan Jatisrono kabupaten Wonogiri, Widyaiswara sebagai pembimbing  harus menuntaskan materi sebagaimana yang diamanahkan dalam siklus diklat fungsional terhadap seluruh tugas pokok dan fungsi peserta diklat (penyuluh pertanian), dan aspek evaluasi pelaksanaan penyuluhan menjadi fokus diantara penyelesaian tugas lainnya.

Menjadi perenungan tersendiri ketika penyelenggaraan penyuluhan pertanian yang notabene menggunakan anggaran publik tidak pernah diketahui kemanfaatannya, sebagai seorang profesional, maka evaluasi ini menjadi bagian utama pemberi input untuk dilaksanakannya/dilanjutkan ataupun direvisinya  sebuah program.

Kecamatan Jatisrono, merupakan satu dari dua lokus kegiatan praktik kerja peserta diklat dasar penyuluh pertanian Kabupaten Wonogiri tahun 2016. Tahun 2015 Kecamatan Jatisrono dalam mendukung program ketahanan pangan melalui upaya khusus peningkatan produktivitas Padi, Jagung dan Kedele telah menerima sebanyak 2 unit program Optimasi Lahan.  Kegiatan percepatan optimasi lahan diharapkan dapat memberi manfaat baik secara ekologi, ekonomi maupun sosial, yaitu dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Masyarakat tidak hanya mendapatkan manfaat langsung berupa pendapatan uang, tetapi juga mendapat manfaat tidak langsung seperti tercukupinya ketersediaan sarana dan prasarana berusahatani.

Evaluasi terhadap propgram optimasi lahan dilakukan untuk mengetahui : (1) perkembangan dari kegiatan usaha tani yang dilakukan oleh pelaku utama penerima manfaat setelah program berlalu selama 1 tahun; (2). ekses daripada program optimasi lahan itu sendiri, terhadap  produksi dan sebaran difusi inovasi. Evaluasi ini dilakukan dengan menggunakan indicator sederhana berupa paket teknis (pelaksanaan fisik) dan pendampingan yang diberikan kepada penerima manfaat. Instrumen evaluasi tidak dilakukan uji validitas dan reliabilitas dikarenakan waktu yang tersedia tidak memungkinkan untuk dilakukannya kedua uji tersebut.

Evaluasi dilakukan hanya satu hari dengan bantuan kuesioner model before and after dengan variabel dan indicator yang digunakan seperti pada tabel 1.

                     Tabel 1. Variabel, Indikator dan Sub Indikator evaluasi

No Variabel/Aspek Indikator Sub Indikator/Alat ukur
1  Teknis  Penggunaan sarana  produksi  Penggunaan sarana produksi sebelum  dan setelah kegiatan optimasi lahan
     Penerapan teknologi  sesuai anjuran  Penerapan  teknologi  sebelum dan  setelah kegiatan optimasi lahan
2  Ekonomi  Penambahan produksi  Jumlah produksi yang diperoleh antara  sebelum dan sesudah kegiatan  optimasi lahan
3  Sosial  Wilayah difusi inovasi  Jumlah pelaku utama yang  mengadopsi  penerapan optimasi  lahan
     Pengetahuan pelaku  utama terhadap  optimasi lahan  Seberapa jauh pengetahuan pelaku  utama mengenai optimasi lahan

Evaluasi program optimasi lahan dilakukan terhadap pelaku utama penerima manfaat pada satu kelompok tani Sidodadi Desa Gondangsari sebanyak 30 orang, dengan menggunakan teknik wawancara dan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitattif non parametrik dengan skala interval.

Hasil analisa dari penerapan teknologi anjuran sebagaimana terlihat pada Gambar 1.

                        Gambar 1. Penerapan teknologi anjuran pada optimasi lahan

Gambar 1 menunjukkan bahwa benih yang digunakan oleh seluruh pelaku utama  responden adalah  benih berlabel baik sebelum maupun setelah kegiatan optimasi lahan. Untuk umur pindah tanam (sesuai anjuran 12 – 18 HSS) sebelum kegiatan 43,33% responden sudah menerapkan setelah kegiatan ada peningkatan menjadi 93.33% responden. Untuk kedalaman pada saat tanam (< 3 cm) 13,33% responden sebelum kegiatan masih belum sesuai anjuran setelah kegiatan optimasi lahan mengalami peningkatan menjadi 80%. Untuk jumlah bibit/tancap (sesuai anjuran 1-2 bibit/tancap) sebelum kegiatan 13.33% responden belum menerapkan setelah kegiatan mengalami peningkatan menjadi 96,67%. Untuk sistem tanam dari sebelum kegiatan 6,67% responden menerapkan sistem tegel atau jajar legowo, setelah kegiatan jumlah responden yang meningkat menjadi 90%.

Dari variable penggunaan sarana produksi, diperoleh hasil seperti Gambar 2. 

                          Gambar 2. Penggunaan sarana Produksi dari optimasi lahan

Gambar 2 menunjukkan bahwa  jumlah benih yang digunakan setelah kegiatan optimasi lahan mengalami penurunan sehingga pelaku utama sudah mulai mengurangi jumlah benih yang digunakan, dapat dikatakan ada efisiensi dalam usaha taninya. Selain itu ada peningkatan penggunaan pupuk organik dan kapur pertanian untuk memperbaiki kualitas tanah. Jumlah pupuk urea yang digunakan mengalami penurunan sedangkan penggunaan pupuk NPK mengalami peningkatan hal ini untuk meningkatkan kualitas lahan dan mencegah adanya penyakit.

Variabel lain yang tidak kalah pentingnya adalah aspek ekonomi, karena dari aspek inilah pelaku utama dapat menyakini diri atas manfaat dan keuntungan dihimbaunya penerapan paket-paket teknologi tersebut untuk diterapkan di lahan usahanya. Hasil analisis menggambarkan adanya peningkatan produksi pada seluruh responden dan ini  berimplikasi pada peningkatan pendapatan pelaku utama penerima manfaat. Ada kenaikan provitas rata-rata sebesar 16,37% yaitu dari 41,24 ku/ha menjadi 47,62 ku/ha, jika asumsi harga GKG sebesar Rp. 3.900,-/kg , maka terdapat peningkatan sebesar Rp. 18.145.000,-., dan luasan lahan usahatani 30 responden adalah 7,29 ha, maka rata-rata peningkatan pendapatan pelaku utama sebesar Rp. 2.489.026,-/ha. Dengan demikian ketika luasan penerima manfaat seluas 20 ha per unitnya, maka kelompoktani sidodadi desa gondangsari  dengan program ini dapat meningkatkan pendapatan sebesar Rp. 49.780.520,-

Penggunaan benih yang diterapkan pada program inipun menunjukkan tingkat efisiensi input benih sebesar Rp. 168.724,-/ha,  sehingga 1 unit program dengan luasan 20 ha akan terdapat efisiensi input benih sebesar Rp. 3.374.480,-

Ketika kita coba berhitung dengan gambaran angka yang ada, maka Kecamatan Jatisrono dalam pelaksanaan optimasi lahan ini memberi nilai positif dari benih dan provitas dengan konversi nilai sebesar Rp. 106.310.000,- (seratus enam juta tiga ratus sepuluh ribu rupiah)

Untuk mengetahui aspek sosial pelaku utama pada program optimasi lahan,  hal yang diangkat/dituangkan dalam angket adalah sumber informasi program, pengetahuan tentang tujuan dan manfaat program, dan peningkatan IP atas program yang diterima, sosialisasi dan pendampingan, dan hasilnya adalah bahwa Dari tiga puluh responden yang diwawancarai menyatakan bahwa informasi tentang program Optimasi Lahan  96,67 % responden  mendapatkan dari Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dan 3,33 % dari kelompok tani. Selain itu 80% responden mengetahui tujuan program Optimasi Lahan yaitu untuk meningkatkan kualitas tanah dan meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) sedangkan 20 % responden tidak mengetahui. 

Dari segi manfaat program 40% responden menyatakan sangat bermanfaat dan 60% responden menyatakan bermanfaat. Untuk responden yang melakukan sosialisasi ke pelaku utama lain tentang program optimasi lahan sebesar 0,63% kepada 62 pelaku utama lainnya dan 0,37% belum melakukan sosialisasi ke pelaku utama lainnya. Prosentase responden yang melakukan pendampingan ke pelaku utama lainnya adalah sebesar 53,3% kepada 52 orang pelaku utama lainnya dan 46,7% tidak melakukan pendampingan ke pelaku utama lainnya.

Upaya memahami situasi agribisnis Kecamatan Jatisrono pada produktivitas di semua komoditas potensial yang masih belum memenuhi kapasitas target, tentunya masih memiliki harapan untuk digarap secara bersama. Gambaran angka-angka di atas juga sebuah cerminan bahwa setiap inisiasi strategis bila dihubungkan kepada perspektif pelaku utama sebagai konsumen dari nilai sebuah inovasi akan dapat memberikan tingkat profitabilitas tinggi, dan untuk memulainya diperlukan pemetaan strategi. Pertanggungjawaban penggunaan anggaran publik yang terukur dapat ditunjukkan melalui pelaksanaan evaluasi sekalipun dalam bentuk yang sangat sederhana, namun hal ini sudah pernah dilakukan, atau bahkan akan dilakukan sesering mungkin, sangat disadari bahwa masih banyak variabel yang belum tertuang dan bisa diangkat untuk dilakukannya kajian lebih lanjut.

Terimakasih buat rekan-rekan penyuluh pertanian seantero Indonesia, atas kerjasamanya.

 

 

*) Widyaiswara Ahli Madya pada BBPP Ketindan

**) Penyuluh Pertanian Kabupaten Wonogiri

Bagikan Artikel :