S A L I B U

Komoditas tanaman pangan memiliki peranan pokok sebagai pemenuh kebutuhan pangan, pakan dan industri dalam negeri yang setiap tahunnya cenderung meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan berkembangnya industri pangan dan pakan sehingga dari sisi Ketahanan Pangan Nasional fungsinya menjadi amat penting dan strategis. Pengembangan sektor tanaman pangan merupakan salah satu strategi kunci dalam memacu pertumbuhan ekonomi pada masa yang akan datang. Kementerian Pertanian, sebagai kepanjangann tangan pemrintah dalam memnuhi kebutuhan pangan penduduk, mencanangkan program peningkatan produksi pangan. Dalam upaya mendukung pencapaian sasaran produksi padi telah dialokasikan di daerah (Kabupaten/Kota/Provinsi) kegiatan padi meliputi : 1) Budidaya Padi Inbrida (sawah/tadah hujan/lahan kering), 2) Budidaya Padi Hibrida, 3) Budidaya Padi Teknologi Hazton, 4) Budidaya Padi Teknologi Salibu, 5) Budidaya Mina Padi, 6) Budidaya Padi Jajar Legowo (Jarwo) Super, 7) Budidaya Padi Organik/Desa Pertanian Organik Padi, 8) Budidaya Padi/Beras Khusus, dan 9) Pengembangan Unit Pengelola Pupuk Organik (UPPO).  Diantara ke delapan teknologi yang dialokasikan di daerah, teknologi padi salibu merupakan teknologi yang belum banyak diaplikasikan di lahan pertanian.  Teknologi Salibu adalah teknologi budidaya padi dengan memanfaatkan batang bawah setelah panen sebagai penghasil tunas/anakan yang akan dipelihara. Tunas berfungsi sebagai pengganti bibit pada sistem tanam pindah (ta-pin) (Dirjen Tanaman Pangan, 2017).

Wilayah kerja Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan yang melaksanakan teknologi padi salibu yaitu di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Total luasan lahan yang digunakan untuk aplikasi padi salibu sekitar 112,5 ha yang terbagi menjadi 5 (lima) Subak yaitu  Subak Yeh Batu, Subak Tembau, Subak Gede Padangbulia, Subak Pasut Silangjana, Subak Keladian.  Kelebihan menggunakan padi salibu bagi petani yang melaksanakan, mereka memperoleh tambahan pendapatan dikarenakan biasanya lahan diberokan sementara waktu diubah menjadi ditanami padi salibu sehingga yang awalnya tidak berpendapatan menjadi berpendapatan. Namun, selain terdapat kelebihan juga ada kekurangan yaitu penggunaan pupuk unsur N lebih banyak sehingga berdampak pada biaya produksi yang tinggi dan potensi hama penyakit yang cenderung tinggi. Apabila dibandingkan dengan padi konvensional, produktivitas padi salibu cenderung lebih rendah daripada padi konvensional. Produktivitas padi salibu, disajikan pada tabel berikut.

 

Tabel Produktivitas Padi Salibu

No.

Kelompok Tani

Desa

Luas Tanam (Ha)

Luas Panen (Ha)

Produktivitas (Kw/ ha)

Produktivitas sebelumnya

Persentase penurunan dibandingkan konvensional (%)

1.

Subak Yeh Batu

Sukasada

12,5

12,5

43,2

67,2

35,71

2.

Subak Tembau

Sukasada

12,5

12,5

40

69,6

42,53

3.

Subak Gede Padangbulia

Padangbulia

12,5

12,5

56

98,4

43

4.

Subak Pasut Silangjana

Silangjana

12,5

12,5

44,8

89,6

50

5.

Subak Keladian

Gitgit

12,5

12,5

41,6

89,6

53,57

 

Bagikan Artikel :