STATUS GANDA LALAT RIMPANG (Mimegralla coeruleifrons Macquart) PADA TANAMAN JAHE (Zingiber officinale Rosc.)

    Jahe merupakan salah satu tanaman herba berupa rumpun berbatang semu yang sangat populer di kalangan masyarakat, baik digunakan sebagai rempah dapur maupun obat-obatan. Akan tetapi, tanaman jahe ini merupakan jenis rimpang yang paling banyak terserang organisme pengganggu tanaman (OPT) dibanding tanaman rimpang lainnya dan hal ini menjadi kendala yang cukup serius dalam budidaya tanaman. Salah satu diantaranya yang termasuk hama penting dan yang berpotensi menyebabkan kerusakan adalah lalat rimpang (Mimegralla coeruleifrons). Lalat M. coeruleifrons menyerang rimpang jahe di pertanaman dan dapat pula terbawa ke gudang. Selama di penyimpanan biasanya lalat dewasa keluar dari rimpang, akan tetapi lalat tidak dapat berkembang biak dan menyerang rimpang kembali. Serangan M. coeruleifrons lebih umum ditemukan menyerang rimpang jahe dan berasosiasi dengan serangan penyakit.  Berikut adalah taksonomi lalat :

Kingdom   : Animalia
Phylum     : Arthropoda
Class        : Insecta
Ordo         : Diptera
Family       : Micropezidae
Genus       : Mimegralla
Spesies     : Mimegralla coeruleifrons

1. Bioekologi.

    Lalat ini memiliki telur berwarna putih berukuran panjang kira-kira 0,75 dan lebar 0,19 mm. Seekor betina dapat meletakkan telur mencapai 300 butir, rata-rata 136 butir (Balfas et al., 2001). Menurut Balfas et al.,(1997) lalat ini meletakkan telur satu persatu atau dalam kelompok dan secara umum diletakkan dalam tanah kira-kira 0,5 – 2 cm dari permukaan tanah dan pada radius 5 cm (Balfas et al., 2001). Telur dapat pula ditemukan pada serasah, bagian batang bawah, dan rimpang yang membusuk. Larva instar pertama masuk ke dalam rimpang dan berkembang di dalamnya hingga menjadi pupa di dalam rimpang. Lama stadia telur, larva, dan pupa berturut-turut 2-4, 9–13 dan 8-11 hari (Koya, 1989).
    Tubuh lalat M. Coeruleifrons ramping memanjang dengan panjang tubuh ± 14 mm, berwarna gelap/hitam metalik. Tungkai tengah dan belakang jauh lebih panjang dibanding tungkai depan. Sayap belang hitam putih. Gejala serangan terlihat setelah 8 - 10 hari. Tanaman menguning, layu, dan mengering dimulai dari daun sebelah bawah, kemudian diikuti seluruh daun. Rimpang terlihat masih utuh, tetapi bila dibuka di dalamnya lapuk, seperti gumpalan tanah. Serangan berat mengakibatkan rimpang keropos dan kering, karena larva (belatung) memakan seluruh bagian dalam rimpang, kecuali kulit.

                                                                    Gambar 1 : Lalat rimpang M. coeruleifrons (A) dan gejala serangan pada jahe (B)

2. Distribusi dan tanaman inang.
    Lalat ini tersebar di hampir seluruh sentra jahe di Indonesia, yaitu Bengkulu, Jawa Barat, dan Jawa Tengah (Siswanto et al., 2009). Di lapangan, hama ini lebih banyak ditemukan menyerang jahe gajah dari pada jahe emprit (Karmawati et al., 1990). Selain jahe, hama ini menyerang kunyit, kencur, temulawak, dan temu ireng. Berdasarkan observasi di lapangan di daerah Bogor, lalat ini juga ditemukan pada ubi jalar, Amorphophalus companulatus L., Dioscorea alata L., dan Xanthosoma sagittijolium (L.) Schott  juga dilaporkan sebagai tanaman inang dari hama ini (Jacob, 1980).

3. Status Lalat Rimpang Mimegralla coeruleifrons.
    Terdapat perbedaan pendapat tentang status lalat rimpang Mimegralla coeruleifrons dimana (Balfas, 1990) berpendapat bahwa lalat Mimegralla coeruleifrons  Macquart  adalah hama primer pada tanaman jahe. Begitu pula dengan Jacob (1980) yang menyatakan bahwa  larva lalat merusak rimpang dan luka yang ditimbulkan akibat serangan menjadi tempat masuk mikroorganisme lain seperti Fusarium, Phytium, dan Sclerotium serta nematoda yang berasosiasi dengan rimpang yang telah terserang oleh lalat di lapang. Lain halnya dengan Karmawati et al., (1990) yang menyatakan bahwa larva lalat hanya ditemukan pada rimpang jahe yang telah terserang penyakit layu, sedangkan pada contoh rimpang yang sehat tidak ditemukan larva lalat ini.

Tabel 1. Jumlah telur yang diletakan lalat rimpang asal lapangan pada tanaman sehat dan sakit (diinokulasi R. Solanacearum)

Tanaman Jumlah lalat/kurungan Rata-rata jumlah telur/tanaman
Betina Jantan
Sehat 8 10 -
Sakit 7 8 20,20

Sumber : Balfas et al., (1997)

Berdasarkan tabel 1 di atas dapat terlihat bahwa lalat  betina lebih banyak melakukan oviposisi atau meletakan telurnya pada tanaman yang sakit dibandingkan tanaman sehat dan ditandai dengan rata-rata jumlah telur per tanaman yang lebih besar pada tanaman yang sakit.

Tabel 2. Serangan lalat M. coeruleifrons  pada tanaman jahe yang diinokulasi dan tanpa R. solanacearum

Perlakuan Jumlah tanaman sakit/tanaman uji Jumlah tanaman terserang lalat Rata-rata lalat/terserang
T L P T L P
Inokulasi 38/50 15 22 6 9,50 18,40 7,6
Tanpa Inokulasi 6/50 4 4 3 2 1,8 8,7

Keterangan : T : Telur, L : Larva. P : Pupa (Balfas et al.,1997)

    Investasi lalat di lapangan pada tanaman jahe sehat yang diinokulasi dengan R. Solanacearum menunjukan bahwa jumlah tanaman yang terserang dan populasi lalat jauh lebih banyak pada tanaman yang diinokulasi R. Solanacearum daripada tanaman tanpa inokulasi R. Solanacearum (Tabel 2). Serangan lalat ditemukan pula pada tanaman yang tidak diinokulasi, tanaman yang tidak diinokulasi tersebut ternyata ada yang terserang penyakit layu akibat infeksi alami  (ditemukan jamur Fusarium/Rhizoctonia) dan sebagian lain tidak diketahui adaya asosiasi dengan mikroorganisme lain.
Hasil ini menunjukkan bahwa lalat menyukai tanaman yang telah terserang penyakit layu. Hal ini memberikan dugaan bahwa selain dengan penyakit layu, serangan lalat rimpang berasosiasi pula dengan infeksi jamur Fusarium/Rhizoctonia. Hal ini menunjukkan bahwa lalat M. coeruleifrons  berperan sebagai hama apabila tanaman jahe telah terserang penyakit layu atau penyakit lainnya yang berasosiasi dengan jamur lainnya.
Lalat dewasa diduga dapat berperan sebagai vektor dalam menularkan penyakit layu. Hal ini dikarenakan lalat M. coeruleifrons  dapat membawa bakteri pada alat mulutnya, sehingga tidak menutup kemungkinan lalat secara tidak langsung menularkan bakteri ke tanah atau tanaman.Serangan lalat ini terjadi bersamaan dengan serangan penyakit layu. Lalat ini dapat berperan sebagai hama apabila tanaman telah terinfeksi oleh penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan jamur atau oleh sebab lainnya (Balfas, 2002). Pada tanaman yang sehat, tidak ditemukan serangan hama ini. Lalat dewasa M. coeruleifrons seringkali ditemukan pada bagian tanaman yang busuk dan telah terbukti bahwa lalat ini dapat membawa bakteri R. solanacerarum, dan dapat menularkan bakteri tersebut (Balfas et al., 2000). 

4. Strategi Pengendalian Lalat Rimpang 
    Serangan lalat rimpang terjadi pada tanaman-tanaman yang terserang penyakit sehingga pengendalian hama ini tidak terlepas dari pengendalian penyakit. Strategi pengendalian hama ini, adalah dengan mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat, bebas dari serangan penyakit layu bakteri, jamur, maupun sebab lainnya. Strategi pengendalian penyakit layu bakteri dapat dilakukan dengan mengusahakan tanah bebas dari patogen, menggunakan benih sehat, ‘intercropping”, dan rotasi, mengendalikan nematoda, gulma, menggunakan kultivar yang toleran/resisten apabila ada serta perbaikan tanah. Strategi pengendalian terhadap lalat rimpang sendiri dapat dilakukan dengan cara kultur teknis (tumpang sari, sanitasi), biologis (pemanfaatan musuh alami), dan pestisida (nabati dan sintetik).

4.1. Kultur Teknis. 
Tumpang sari merupakan cara untuk menghambat serangga hama menemukan inangnya. Penanaman jahe dan tanaman nilam baik sebagai pembatas maupun ditumpangsarikan dapat menurunkan populasi larva dan pupa M. coeruleifrons serta rumpun yang terserang (Karmawati et al., 1992). Tumpangsari jahe dan kopi dan kedelai serta jagung dapat mengurangi populasi larva dan pupa dalam rimpang jahe (Karmawati et al.,1993).

4.2. Sanitasi. 
Kedua jenis lalat rimpang seringkali bertelur dan larva berkembang dalam sisa tanaman yang melapuk/membusuk. Oleh karena itu, pengumpulan dan pemusnahan sisa tanaman tersebut akan mengurangi populasi lalat di lapang sehingga resiko serangan hama akan berkurang.

4.3. Peningkatan pH. 
Di India, serangan lalat rimpang paling rendah ditemukan pada jahe yang ditanam di tanah hitam dengan pH netral sampai alkalin (Sontaken, 2006). Rendahnya serangan lalat mungkin berhubungan dengan serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri maupun jamur. Serangan lalat ini tidak terjadi apabila tanaman tidak terserang penyakit. Kebanyakan patogen akan tertekan pada pH yang tinggi (Hidayah et al., 2009). Peningkatkan pH tanah melalui pemberian kapur pertanian pada lahan sebelum ditanam jahe dapat menekan penyakit sekaligus menekan lalat rimpang. 

4.4. Musuh alami. 
Sampai saat ini musuh alami Mimegralla coeruleifrons  masih terbatas. Sejenis cocopet (“earwig”/Dermaptera) sering ditemukan pada rimpang jahe di ruang penyimpanan. Kebanyakan serangga ini adalah sebagai predator. Parasitoid dari ordo Hymenoptera juga dilaporkan banyak keluar dari pupa. Di India, musuh alami yang keluar dari pupa M. coeruleifrons adalah Trichopria sp. (Jacob, 1980). Selain itu, jamur Beauveria bassiana dapat menginfeksi larva lalat secara alami di lapangan (Balfas, 2002).     

4.5. Pestisida
Pengendalian lalat rimpang dengan pestisida sintetik dilakukan karena belum tersedianya cara-cara pengendalian lainnya. Penggunaan insektisida sintetik diklorfos yang disemprotkan pada pertanaman jahe dapat mengurangi populasi larva, dan pupa dan rumpun yang terserang (Karmawati et al., 1992). Walaupun demikian, perlakuan insektisida tidak berpengaruh nyata terhadap berat rimpang basah. Target penyemprotan diarahkan pada lalat dewasa yang berada di pertanaman, sehingga lalat yang bertelur berkurang dan akibatnya populasi larva/pupa di dalam rimpang juga berkurang. Penggunaan insektisida sintetik kudasafos, karbosulfan, dan karbofuran yang ditaburkan pada lubang tanam tidak berpengaruh nyata pada populasi larva maupun pupa dalam rimpang. Aplikasi Trichoderma harzianum bersamaan dengan adonan mimba dapat mencegah serangan penyakit. Penyemprotan dengan mimba yang dikombinasikan dengan perlakuan benih dapat menekan serangan lalat rimpang.

 

Kesimpulan 
Lalat rimpang Mimegralla coeruleifrons dapat berstatus ganda, yaitu sebagai hama pada tanaman jahe (apabila tanaman telah terinfeksi bakteri atau jamur) dan sebagai pembawa bakteri layu. Pengendalian lalat rimpang dapat dilakukan dengan mengusahakan tanaman yang sehat, menanam tanaman jahe yang ditumpangsarikan dengan tanaman nilam, dan menggunakan insektisida yang disemprotkan pada tanaman serta menerapkan sanitasi. 

Daftar Pustaka
Balfas, R., M. Iskandar dan Sugandi. 1997. Oviposisi dan perkembangan lalat rimpang Mimegralla coeruleifrons (Micropezidae;Diptera) pada tanaman jahe. Journal Penelitian Tanaman Industri 3: 140-144. 
Balfas, R. Supriadi,N. Karyani dan E.Sugandi. 2000. Serangan Mimegralla coeruleifons Marquart dan peranannya dalam membawa patogen bakteri penyakit layu. Jurnal Penelitian Tanaman Industri 5: 123–127. 
Balfas, R., Siswanto dan M. Iskandar. 2001. Beberapa aspek biologi Mimegralla coeruleifrons (Diptera: Micropezidae). Prosiding Seminar Nasional III. Perhimpunan Entomologi Cabang Bogor. Bogor, 16 November 2001. Hlm. 187- 194. 
Balfas, R. 2002. Status lalat rimpang Mimegralla coeruleifrons Macquart (Diptera: Micropezidae) pada tanaman jahe dan penanggulangannya. Journal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 21: 32 - 37 
Hidayah, N. dan Djajadi. 2009. Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi perkembangan patogen tular tanah pada tanaman tembakau. Perspektif 8: 74–83.
Jacob, S.A. 1980. Pests of ginger and turmeric and their control. Pesticides 14 (11): 36-40.
Karmawati, E., B. Baringbing, M. Iskandar dan T.E. Wahyono. 1990. Observasi lalat rimpang pada pertanaman jahe di K.P. Sukamulya. Media Komunikasi Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri 6: 84–86. 
Karmawati, E., M. Iskandar dan T.E. Wahyono. 1992. Penelitian penanggulangan lalat rimpang jahe di KP Cimanggu, Bogor. Buletin Penelitian Tanaman Industri. 4: 33 -36. 
Karmawati, E. dan N.N. Kristina. 1993. Pengaruh tumpangsari terhada ppopulasi hama rimpang jahe. Media Komunikasi Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. 11:102-104
Koya, K.M.A.1989. Biology of Mimegralla coeruleifrons Macquart (Diptera :Micropezidae) associated with Zingiber officinale Rosc.rhizome. Entomology 14: 81-84 (Abstract).
Siswanto, D. Wahyuno, D. Manohara, Desmawati, S. Ramadhani, D. A. Sianturi, R. Karyatiningsih, dan L. S. Utami. 2009. Sebaran hama dan penyakit tanaman jahe di tiga propinsi di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Pengendalan Terpadu Organisme Pengganggu Tanaman Jahe dan Nilam. Bogor, 4 Nopember 2008.
Sontaken, B.K. 2006. Integrated management of rhizome fly, Mimegralla coeruleifrons , infesting ginger. Indian Journal of Entomology 68:102 – 106 (Abstract)
Steyskal, G.C.1963 . Larvae of Micropezidae (Diptera) including the species that bore ginger root. Annal of the Entomological Society of America 57: 292–296.

Bagikan Artikel :