Tanaman Rimpang Jahe

Perbanyakan Benih Bermutu pada Tanaman Rimpang Jahe (Zingiber officinale L.)

Pengembangan tanaman rimpang sebagai tanaman obat tradisional  di Indonesia masih mempunyai prospek yang sangat cerah untuk masa depan, jika dilihat dari permintaan  pasar baik pasar  domestik maupun pasar ekspor, total pasar domestik obat herbal senilai 4 trilyun dan pasar ekspor US $ 30 – 40 juta pada tahun 2005 (Kimia Farma, 2005). Oleh karenanya perlu ditangani lebih terarah untuk dapat menghasilkan produksi dan mutu hasil yang tinggi serta berkesinambungan.  Untuk maksud tersebut, usaha taninya pun haruslah menggunakan teknologi maju dan dikelola secara profesional, efektif sejalan dengan kaidah Good Agriculture Practicies (GAP), agribisnis dan agroindustri.

Kunci utama keberhasilan dalam upaya peningkatan mutu produk berdasarkan kaidah GAP pada tanaman rimpang terletak pada kebenaran benihnya, baik jenis, varietas maupun mutunya, oleh karena itu perlu adanya penanganan pengadaan benih yang bertanggung jawab.  Sampai saat ini benih rimpang yang digunakan oleh para petani, masih menggunakan benih yang berulang-ulang dari hasil panen musim tanam sebelumnya atau membeli di pasar bahkan dari petani sebagai pengumpul dan penjual yang  tidak jelas asal usul dan mutunya.

Ketidaktahuan atau kekurangtahuan konsumen akan benih bermutu sering dimanfaatkan oleh para produsen/penyalur/pedagang benih untuk mengedarkan benih yang belum tentu kebenarannya. Sementara itu ketersediaan benih khususnya benih tanaman rimpang masih sangat terbatas di pasaran. Hal ini disebabkan karena sistem pengembangan perbenihan tanaman rimpang masih terbatas, tidak seperti komoditas hortikultura lainnya, sertifikasi benih pada beberapa jenis tanaman rimpang masih belum banyak, pelepasan varietas masih terus dikaji oleh lembaga-lembaga penelitian.  

Benih yang berasal atau di produksi oleh pemulia tanaman dari Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah Aromatik (Balitro) terus ditingkatkan agar ketersediaan benih sampai pada benih sebar dapat terpenuhi. Peluang bagi para petani penangkar  benih tanaman rimpang masih terbuka lebar, prospek penangkaran benih rimpang ini cukup baik, karena ketersediaan benih tanaman rimpang masih relatif kecil. Sosialisasi pada petani yang mengusahakan budidaya rimpang tentang penggunaan benih perlu terus dilakukan agar dapat memenuhi standar mutu produk baik untuk kebutuhan domistik maupun ekspor.

Teknik Produksi Benih Rimpang Jahe

1. Penyiapan Benih

Spoiler: Highlight to view

Tanaman jahe diperbanyak secara vegetatif yaitu dengan rimpangnya. Persyaratan rimpang jahe yang baik untuk benih :

  • Berasal dari tanaman/rumpun induk atau varietas/klon yang benar, sehat yang umurnya cukup tua untuk dipanen yaitu pada umur 10 – 12 bulan.

  • Bebas dari serangan hama dan penyakit.

  • Penampakan rimpang bernas, warna kulit rimpang mengkilat.

  • Ukuran rimpang 20 – 40 gram untuk jahe kecil dan 41 – 60 gram untuk jahe besar.

  • Minimal mempunyai 2 mata tunas atau telah ditunaskan selama 1 – 1,5 bulan.

  • Rimpang siap ditanam jika sudah bertunas sepanjang 2 – 3 cm.           

2. Penyiapan Lahan

Spoiler: Highlight to view

Penyiapan Lahan merupakan hal yang harus diperhatikan dalam memproduksi benih salah satunya adalah pemilihan lahan untuk produksi benih. Persyaratan lahan produksi benih antara lain :

  • Bebas penyakit tular tanah dan tular benih serta bersih dari gulma.

  • Untuk menghindari terjadinya penularan penyakit diperlukan isolasi jarak kurang lebih 10 meter.

  • Lahan untuk penanaman jahe sebelumnya diolah dengan kedalaman 30 – 35 cm dari permukaan, sekaligus diberi pupuk dasar 40-50  ton/ha pupuk kandang.

  • Lahan dibiarkan selama 2-3 minggu, agar gas-gas beracun menguap dan sumber penyakit mati terkena sinar matahari.

  • Buat bedengan dengan tinggi 20-30 cm, lebar  80 cm. Panjang sesuai dengan kondisi lapangan, jarak antar bedengan 30 – 50 cm.

  • Buat lubang tanam sedalam 7,5 – 10 cm untuk tempat menanam benih jahe.

  • Benih jahe yang berupa rimpang, baik induk maupun dari rimpang cabang disiapkan untuk penanaman labih lanjut.

3. Penanaman

Spoiler: Highlight to view

Jarak tanam untuk benih yang dianjurkan adalah  60 – 80 cm antar baris dan 30 – 40 dalam baris.

Benih rimpang ditanam dengan arah tunas menghadap ke atas, kedalaman 3 – 7,5 cm.

Benih segera ditimbun dengan tanah gembur yang telah dicampur dengan sekam dan pupuk kandang, tidak perlu dipadatkan.

Setelah benih rimpang ditanam, diberi mulsa agar dapat menekan pertumbuhan gulma, juga melindungi dari sinar matahari dan hujan.

Bahan mulsa yang digunakan adalah jerami padi kering, sekam, daun pisang, atau bahan lain yang tidak menghambat pertumbuhan tunas.

4. Pemeliharaan Tanaman

Spoiler: Highlight to view

Penyulaman dilakukan segera setelah umur tanaman 2- 3 minggu setelah tanam, agar populasi tanaman dapat diketahui per satuan  luas lahan serta pertumbuhan seragam dan waktu panen serempak.

Penyiangan, untuk menghindari tumbuhnya gulma, bisa dilakukan dengan pemulsaan baik mulsa jerami maupun mulsa plastik yang akan memperingan penyiangan.  Pengendalian gulma harus dikendalikan sejak awal tanam hingga umur 90 hari setelah tanam.

Penanaman jahe yang hasilnya untuk benih harus dilakukan roguing (menyeleksi tanaman terhadap tipe simpang  tumbuh abnormal, tumbuh tidak seragam, gulma dan yang terserang hama dan penyakit).

Pembumbunan dilakukan agar peredaran udara dan air dapat berjalan dengan baik.

Pemupukan dilakukan dengan cara :

  • Saat pengolahan tanah, diberi 40 – 50  ton pupuk kandang, ditambah dengan sekam padi sebanyak 30 – 40 ton per hektar.

  • Saat tanam diberi pupuk sekitar 250 kg ZA/ha yang ditaburkan diatas benih yang ditanam di dalam barisan.

  • Pada umur 2 – 3 bulan setelah tanam masing-masing dipupuk dengan pupuk kandang 7,5 ton dan 2,5 ton/ha, pupuk ZA masing-masing 125 kg/ha dan KCl masing-masing 125 kg/ha, dan terakhir pada umur 5 bulan setelah tanam diberi pupuk NPK sebanyak 100 kg/ha.

Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang menyerang tanaman jahe

  • Penyakit Layu  Bakteri

  • Penyakit Busuk Rimpang

  • Penyakit bercak Daun

Cara pengendaliannya untuk penyakit layu bakteri yaitu dengan tidak menanam jahe pada areal yang terserang penyakit selama  ± 3 – 5 tahun. Untuk penyakit busuk rimpang dengan memilih benih yang sehat, cukup umur dan tidak terdapat luka-luka. Sebelum ditanam benih direndam dengan larutan fungisida. Untuk penyakit bercak daun dengan menjaga sanitasi dan kebersihan kebun secara baik.

5. Panen Rimpang Jahe

Spoiler: Highlight to view

Pemanenan jahe sebaiknya dilakukan setelah mengalami periode senessen (menggugurkan daun) pada umur 9 – 10 bulan, dimana batang semua sudah layu atau mati, warna daun berubah dari hijau menjadi kuning.

Gunakan garpu tanah untuk menggali rimpang, dibenamkan sekitar rumpun untuk menghindari pelukaan kulit rimpang

Bersihkan rimpang yang telah dipanen kemudian masukkan kedalam keranjang bambu atau kotak kayu yang memiliki rongga udara.

Prosesing Benih Sortasi rimpang untuk memperoleh benih rimpang jahe yang baik dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  • Kadar serat dan pati tinggi, yaitu apabila dipotong melintang terlihat warna merah.

  • Kulit rimpang licin, mengkilat dan keras tidak mudah terkelupas.

  • Ukuran rimpang sedang dan bernas.

  • Bebas dari hama dan penyakit, kulit tidak berkerut, dan keropos dan nampak basah.

Cara penyimpanan dilakukan digudang penyimpanan yang memenuhi syarat (ada ventilasi, sanitasi, tidak bocor, dan tidak mudah menyerap panas).  

6. Persyaratan Mutu Benih Rimpang

Spoiler: Highlight to view

Persyaratan mutu benih rimpang yang siap tanam sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah sebagai berikut :

No Jenis Spesifikasi Satuan Persyaratan
BP BR
1 Berat Rimpang      
  - Jahe putih besar g 40 - 60 40 - 60
  - Jahe putih kecil g 15 - 30 15 - 30
  - Jahe merah g 15 - 30 15 - 30
2 Kadar Air % 70 70
3 Benih Murni % 98 97
4 Jumlah mata tunas buah 2 2
5 Daya berkecambah % 80 80
6 Kotoran benih % 2 3

Sumber :

  • Badan Standarisasi Nasional, SNI 01-7153-2006, Benih Jahe Kelas Benih Pokok (BP) dan Kelas Benih Sebar (BS)  

  • Dirjen Bina Produksi Hortikultura, 2004.  Pedoman Perbanyakan Benih  Tanaman Biofarmaka

  • Badan Standarisasi Nasional, 2006.  SNI Benih Jahe untuk Kelas Benih Pokok (BP) dan Benih Sebar (BS). SNI  01-7153-2006

  • Kimia Farma, 2005

Bagikan Artikel :