TERTIPU MATA

        Tiba-tiba ingatanku kembali pada kurun waktu 10 tahun yang lalu, di mana seorang teman salah mengambil koper di bandara Jauanda ketika pulang dari tugas di Jakarta. Kopernya sama tapi isinya berbeda karena pemiliknya juga berbeda. Pemilik asli koper yang dibawa teman tersebut berasal dari Bawean, sedangkan pembawa koper salah adalah orang Lawang. Lucunya lagi peristiwa salah koper tersebut baru ketahuan setelah kami sampai di Sidoarjo dengan kondisi lalu lintas macet. Dan inipun terjadi ketika kami menumpang mobil pimpinan salah satu dari instansi Kementan. Terpaksalah mobil balik kucing ke bandara Juanda untuk menukar koper salah. Kami para pelaku salah koper tersebut cuma tersenyum-senyum dan meminta maaf kepada pimpinana salah satu instansi Kementan tempat kami menumpang pulang.

        Adakah yang salah dengan kejadian tersebut? Ataukah gundah karena telah  merepotkan orang lain padahal kami cuma menumpang? Ataukah malu dengan keteledoran kami? Teryata semua itu tidak kami lakukan. Banyak hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa yang sepintas tampak sepele. Beberapa hikmah yang dapat dipetik antara lain :

  1. Penampakan luar bisa menipu mata untuk mengenal isi. Sebagaimana teman yang salah mengambil koper tersebut hanya melihat sisi luar yang sama baik bentuk, warna, ukuran dan lainnya, tetapi ternyata ada ciri khusus yang tidak terdeteksi.
  2. Ketelitian mutlak diperlukan dalam menjalani kehidupan walaupun itu pekerjaan yang dianggap sepele, seperti mengenal milik / barang yang dianggap milik sendiri.
  3. Persepsi dalam otak/ pikiran yang dibangun seharusnya berpola positip, detil, unik dan jelas sehingga tidak mudah terbius oleh sesuatu yang membingungkan/ menipu hasil olah otak seperti seolah-olah/ bias/ fatamorgana/ prasangka yang semua itu tidak benar. Persepsi salah akan menghasilkan keputusan salah dan akibat selanjutnya adalah tindakan melenceng karena tidak sesuai dengan kenyataan.
  4. Penimbang kebenaran sebenarnya berada di nurani. Ketika nurani terasah mengambil, mencontoh dan mengeksekusi dengan sesuatu yang benar dan baik, maka dampaknya adalah benar dan baik, tetapi ketika nurani terbiasa ditutupi perannya dan digantikan dengan hal yang berkawan nafsu maka berbagai kesalahan akan terjadi. Kemampuan melihat isi secara nurani membutuhkan pembiasaan diri berbuat baik dan benar walaupun pahit.
  5. Melihat sisi kemanusiaan yang tidak pernah sempurna karena kesempurnaan hanya milik Alloh SWT. Manusia memang diciptakan sebagai makhluk sempurna di muka bumi dibandingkan makhluk lainnya seperti hewan, binatang, bintang, tumbuhan dan lainnya. Namun sebaik-baiknya manusia yang terbaik hanya Alloh SWT, sesempurna-sempurnanya manusia , pemilik utama dan hakiki cuma Alloh SWT. Kesadaran akan hakikat diri akan melunturkan kesombongan yang mungkin sadar atau tidak telah menemani sisi kemanusiaannya.
  6. Tidak ada secuilpun  peristiwa yang dialami manusia tanpa melewati skenario Alloh SWT. Peristiwa tertukar koper tersebut telah juga menyelamatkan perut kami , karena dengan kembali ke bandara kami sadar bahwa perut keroncongan dan perlu diisi agar fisik dapat terjaga. Inipun bagian dari belajar menjaga amanah apalagi sinyal tubuh telah berdering, maka ada kewajiban untuk memenuhinya. Sementara itu di masa sekarang  manusia makan tanpa memperhatikan kebutuhan tubuh. Di satu sisi manusia menikmati makanan padahal secara hitungan tubuh belum memerlukannya sehingga energi menumpuk dan mengakibatkan obesitas. Kejadian tersebut akan memicu berbagai penyaklit seperti tekanan darah tinggi, diabetes mellitus atau kegemukan itu sendiri dan lainnya. Di sisi lainnya manusia hanya makan sangat terbatas karena yang dimakan mungkin tidak tersedia atau karena diet dengan berbagai niat seperti ingin sehat / cantik/ kurus dan lainnya. Kekurangan energi dalam tubuh juga menyiksa dan tergolong tidak amanah. Porsi tepat sangat dianjurkan agar manusia dapat hidup sehat secara lahir.
  7. Membangun silaturahmi dengan lebih baik antar manusia pada berbagai level. Kesalahan mengambil koper telah memberi kami waktu lebih longgar untuk lebih mengenal masing-masing. Kebersamaan tanpa ditandai dengan level/ derajat ciptaan manusia telah mempererat kasih sayang yang seharusnya memang tidak memerlukan syarat-syarat. Hal ini sebagaimana sifat Alloh SWT tentang Rahman dan RahimNYA yang dinikmati oleh semua makhluk dan hambaNYA. Manusia harus belajar mengimplementasikannya dengan lebih baik.

        Suatu peristiwa sederhana bila diperhatikan/ dipikirkan dan ditelaah ternyata begitu banyak hikmah pembelajaran yang dapat diambil. Apalagi alam semesta yang berada di sekitar kita. Tidak mungkin Alloh SWT menciptakan tanpa pesan/ maksud/ hikmah. Sekarang tinggal manusia yang harus memanfaatkan kemampuan otak dan akal untuk mendapat jawaban. Dan ujung jawabana tertinggi adalah ketika seluruh panca indra mampu mengucap Allohu Akbar (Alloh Maha Besar), Subhanalloh (Maha Suci Alloh) dan Alhamdulillah (Segala puji hanya milik Alloh). Mata melihat, hati/ nurani menimbang, akal/ otak memutuskan lalu tangan/ mulut mengeksekusi adalah hikmah terbesar yang telah memberi kesadaran akan kebesaran Ilahi Robbi. Jangan sampai mata tertipu oleh fatamorgana atau prasangka yang hasilnya hanya ilusi belaka dan itu merupakan kerugian/ kesia-siaan terbesar . Ya Alloh lindungi kami dari menyia-nyiakan waktu dan pancaindra kami. Aamiin.

Bagikan Artikel :