WIDYAISWARA YANG KOMPETEN

Widyaiswara Yang Hebat

Menjadi hebat bukanlah hadiah tetapi sesuatu yang harus diusahakan. Menurut Di Kamp dalam bukunya The Excellent Trainer setidaknya ada empat keyakinan yang melekat pada widyaiswara sehingga mereka menjadi hebat. Keyakinan ini merupakan konsep ataupun philosopihal guidelines yang menjadi dasar dalam menjalankan peran sebagai widyaiswawa. Pertama, mereka mempunyai keyakinan terhadap dirinya sendiri; kedua, keyakinan tentang pembelajar; ketiga, keyakinan tentang informasi yang muncul dalam kehidupannya dan; keempat, keyakinan tentang bagaimana dunia ini bekerja atau beroperasi.

Keyakinan terhadap diri sendiri.

Widyaiswara harus bersifat fleksibel baik terhadap diri sendiri dan orang lain, tidak memaksakan diri untuk menguasai semua ilmu, serta melakukan hal yang tidak membebani batin maupun fisiknya. Widyaiswara harus bersifat toleran terhadap perbedaan pendapat. Jika bersifat kaku dan hanya meyakini bahwa pendapat dan keadaannya yang baik, maka ia tidak akan pernah mencapai kebahagiaan. Sifat ingin tahu membuatnya awet muda, setiap buah yang matang pasti busuk,  ilmupun begitu, ilmu selalu baru dan segar, sifat ingin tahunya  membuatnya selalu tertarik dengan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang lain.

Widyaiswara harus menghindari sikap judmental, yaitu menghakimi diri sendiri atau orang lain menyakiti diri sendiri. Sifat ini mengarah untuk menghukum diri dan orang lain secara mental. Rela untuk mengambil resiko dan hidup selalu ada resiko. Setiap pikiran dan tindakan  pasti membawa resiko. Yang ia perlu persiapkan adalah bagaimana mengatasi resiko jika terjadi. Widyaiswara harus memiliki antusias yang tinggi. Antusiasme adalah virus positif baginya dan orang lain. Bila ia berantusias melakukan pekerjaannya setiap saat, maka ia akan menjadi pribadi yang bahagia dan bersemangat. Sikap lainnya mau membantu, tidak pelit dengan ilmu dan tenaga yang ia miliki. Kadang kalau perlu ia memberikan bantuan dana yang mungkin diperlukan untuk pengembangan diri dan orang lain di sekelilingnya serta membimbing orang lain secara konstruktif.

Widyaiswara mampu berkomunikasi dengan baik dalam level yang berbeda-beda, mampu berkomunikasi dengan orang dengan berbagai latar belakang. Latar belakang peserta yang menjadi acuan model ia berkomunikasi bukan latar belakang yang ia miliki. Dengan demikian ia akan lebih mudah menyampaikan ilmu dan ide dan dapat dimengerti oleh peserta mereka. Baginya belajar itu fun. Dengan demikia ia tidak khawatir dengan kesalahan. Kesalahan adalah bagian dari pembelajaran. Selanjutnya ia selalu ingin mencari umpan balik dari orang lain dan peserta didik bagaimana pembelajaran yang ia berikan. Ia melihat kritikan sebagai hal yang positif dan selalu dinantikan serta selalu menunjukkan rasa hormat kepada siapapun sekaligus mencari nilai positif dari orang yang ia temui.

Keyakinan tentang pembelajar.

Manusia adalah makhluk yang ingin belajar, mereka belajar setiap saat ingin mengembangkan potensinya  dan membuat pilihan yang terbaik yang ada pada waktu yang mereka anggap tepat. Manusia akan belajar bila cara yang ditawarkan sesuai serta memilih dan menentukan cara yang terbaik. Ia percaya kalau orang belajar melalui praktek tidak hanya dengan ceramah atau belajar untuk berdiskusi . Ia percaya orang berani mengambil resiko jika mereka merasa aman untuk melakukannya. Ia meyakini bahwa orang selalu mengetahui lebih banyak dibandingkan yang mereka pikirkan. Ia juga meyakini bahwa orang mempunyai kekhususan tersendiri. Tidak semua orang sama.

Keyakinan terhadap informasi di sekeliling.

Setiap hari kita dibombastis dengan informasi dengan kadar yang berbeda-beda. Perbedaan lain lagi adalah bagaimana kita menanggapi dan memberi arti terhadap informasi yang diterima. Informasi akan bernilai bila membantu untuk kemajuan. Bagi widyaiswara yang hebat, ia memberikan informasi kepada orang lain dengan mempertimbangkan bahasa yang dapat membuat orang mengerti dan informasi yang relevan dengan konteks atau situasi peserta mereka. Selanjutnya,  ia juga mempertimbangkan apakah informasi yang diberikan itu dapat membuat perbedaan terhadap orang yang mereka hadapi.

Keyakinan tentang bagaimana dunia ini beroperasi.

Ahmad Albar berujar ”dunia ini adalah panggung sandiwara dan setiap orang memerankan peranan masing-masing”. Shakespeare, pengarang novel Inggris yang terkenal, berpuluh tahun yang lalu juga telah mengatakan hal senada. Widyaiswara hebat selalu menyadari bahwa ia memainkan beragam peran dan tujuan. Kadang peran sungguhan, kadang juga peran yang dirancang. Panggung widyaiswara tidak hanya dalam kelas. Ia memiliki panggung yang cukup luas. Oleh sebab itu, widyaiswara hebat  selalu meyakini bahwa:

Setiap prilakunya adalah komunikasi, setiap kegagalannya adalah kesempatan untuk maju lebih baik,  yang menciptakan cerita untuk kehidupannya  sendiri, dan memahami bahwa ia adalah gabungan otak, tubuh dan semangat yang bekerja dengan sangat prima bila mereka bekerja bersama-sama.

Perjalanan menuju kesempurnaan tidak pernah berakhir, jadi ia tidak cepat lelah. Ia tetap bersemangat untuk menuju hebat. Dunia ini melimpah ruah dengan banyak hal. Ia yakin hanya ia  mampu menciptakan manfaat dari apa yang ada.

Integritas akan membuahkan penghargaan untuk dirinya, Ia yakin dan selalu mempunyai pilihan. Sulit/mudah, senang/sedih, sendiri/ramai adalah contoh pilihan hidup yang dapat ia lakukan. Ia adalah pencipta bukan korban. Jadi, ia tidak percaya dengan kata diwidyaiswarakan yang terkesan ia menjadi korban sistem birokrasi yang zolim.

Setelah membaca, mendengar tentang dan  mengamati widyaiswara-widyaiswara yang hebat dan belajar menjadi widyaiwara hebat saya semakin yakin bahwa perjalanan panjang untuk menjadi widyaiswara yang hebat itu tidak akan pernah berakhir. Mungkin ada ups and downs. Tapi saya tahu bahwa saya tidak sendiri. Fisik saya mungkin semakin mengkerut tapi hati saya selalu ingin segar dengan pengalaman baru yang siap untuk saya share  dengan sesama kolega seperjuangan.

Referensi .

Anonimous, 1995. Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi kedua, jakaarta: Balai Pustaka, 1995.

Anonimous, 2008. Peraturan Kepala Lembaga Admninstrasi Negara Nomor 5 tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Widyaiswara.

Anonimous, 2009. Peraturan Kepala LAN nomor 26 tahun 2015, tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara dan angka Kreditnya.

Anonimous, 2015. Pearturan Bersama Kepala Lembaga Administrasi Negara dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 1 tahun 2015 dan 8 tahun 2015, tentang ketentuan pendaygunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi nomor 22 tahun 2014, tentang Pedoman penilaian Angka Kreditn jabatan fungsional widyaiswara.

Buyung Ahmad Syafei, Kompeten dan Kompetensi, Internet, 2010.

Riyanto, Astin, 2003. Proses Belajar Mengajar efektif di Perguruna Tinggi, Bandung: Yapemdo,

Bagikan Artikel :