Skip to main content
x

Getah Tembakau Tegalpao Desa Curah Temu Kabupaten Probolinggo Tidak Sepekat Harga Jual

Berkat getah tembakau di lahan kering, penduduk dusun Tegalpao yang selama ini bergantung pada tanaman yang satu ini harus berkutat dengan naik turunnya harga jual, membuat mereka sangat sulit untuk beralih ke tanaman lain sekalipun pahit yang harus dirasakan

Ketika seorang petani tembakau beralih untuk menanam jenis komoditi lain seperti jagung, ataupun padi, maka yang terjadi tanaman tersebut tidak akan pernah mereka rasakan hasilnya hingga panen. Hal ini sudah menjadi hukum alam di kalangan petani karena komoditas yang berbeda ini akan menjadi makanan empuk bagi burung. Sedangkan bila jenis tanaman hortikultura yang dipilih seperti sayuran ataupun melon dan semangka, maka hama pengganggunya adalah manusia. Memang sulit situasi ini utuk masyarakat setempat mengambil keputusan bertani.

Bapak Sil…seorang petani tembakau sekaligus sebagai seorang ustad mengaku bahwa sulit rasanya beralih ke tanaman lain karena sudah sejak turun temurun mereka menanam tembakau sebagai usaha pokok penopang hidup selain memelihara sapi sebagai sampingan. Betapa tidak, ketika kualitas getah tanaman yang satu ini baik, akan memberikan keuntungan yang sungguh luar biasa.
Dapat dibayangkan jika memiliki lahan 1 ha, mereka mampu meraup keuntungan hingga 40 juta dengan catatan harga per kilogramnya empat puluh ribu rupiah.

Kondisi ini terjadi sejak tahun 1999 hingga 2008.  Mulai merangkak turun secara perlahan tahun 2009 diawali dengan 30.000 per kilo gram, menjadi 20.000 ribu rupiah tahun 2011, merangkak lagi hingga saat ini yang tertinggi maksimal 18.000 ribu rupiah minimal 11.000 rupiah seperti teman-teman di Tegalpao alami.

Gambar 1. Tanaman Tembakau berkualitas sesuai ungkapan petani tegalpao

Gambar 2. Performance tanaman tembakau di tegal pao tertanggal 25 oktober 2015.

Didukung dengan cuaca panas memberikan dorongan bagi mereka untuk mengiris secepat mungkin daun  tembakau agar diperoleh kualitas baik. Persoalan yang dihadapi bahwa semua jenis peralatan pengirisan dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu yang lama serta kualitas irisan menjadi persoalan tersendiri.

Gambar 3.  Hasil irisan tembakau yang dikeringkan

Sambil menjaga pengeringan hasil, irisan daun tembakau lainnya dilipat dengan masing-masing ukuran agar dalam proses pengirisan dapat secara mudah dikerjakan. Di sisi lain terdapat peralatan pengirisan elektrik yang mangkrak dan tidak digunakan oleh mereka karena tidak efisien dan efektif menurut salah seorang petani yang saat diwawancarai.

Gambar 4. Lipatan tembakau dengan salah seorang petani tembakau

Gambar 5. Irisan manual inilah yang diakui memiliki kualitas lebih baik dibandingkan menggunakan alat pengirisan elektrik

Gambar 6. Bentuk lipatan tembakau yang siap diiris bersamaan dengan pesanan para pembeli saat pelelangan.

Mungkinkah dedaunan nikotin ini terus menjadi mata pencaharian pokok masyarakat Tegalpao, oleh karena hampir seluruh dari merek saat ini mengalami kerugian yang cukup besar?   Saat pertanyaan ini dilontarkan, mereka dengan  tegas menjawab bahwa kami tidak punya pilihan dan terus saja akan berkutat dengan keinginan alam serta budaya bertanam tembakau karena ini sudah merupakan kegiatan turun temurun sejak nenek moyang mereka sekalipun harus dibayar dengan kerugian. Kami akan coba bertahan karena kami yakin bahwa suatu saat pasti badai harga akan berlalu. Ha, ha, ha, salut abis dehhh petani yang malang hanya dengan sisa ketekunannya menghadapi masalah ini. Bravo Petani ku.

Ditulis oleh Nurlela