Skip to main content
x

Ibu Rumah Tangga Ini Sulap Pekarangan Menjadi Lahan Pertanian Potensial

Rawan pangan saat ini telah menjadi isu santer dan bisa menjadi kenyataan bila tidak dicari solusinya. Lahan yang semakin berkurang, degradasi lahan yang terus menurus, serangan hama dan penyakit, pertambahan penduduk, menjadi penyebab permasalahan pangan, ditambah lagi pandemi covid-19 yang masih tinggi.  Pemerintah melalui Kementerian Pertanian tidak berhenti berusaha mengatasi persoalan tersebut. Banyak program yang telah digelontorkan, tetapi seluruh upaya itu harus diikuti konsistensi dan semangat oleh masyarakat.
Lahan pekarangan selama ini menjadi lahan yang seringkali diabaikan. Sebab pertanian tidak selalu identik dengan lahan persawahan atau tegalan. Masih banyak lahan-lahan yang bukan sawah yang memiliki peluang usaha yang menjanjikan, termasuk di sini lahan pekarangan.
Pemerintah telah menganggarkan banyak program dalam rangka pemanfaatan pekarangan untuk pertanian. Program karang kitri, P2KP, KRPL, dan lainnya telah dilakukan. Tetapi dilihat sekilas, program-program pemanfaatan pekarangan ini belum sukses karena kurangnya niat, semangat dan kesungguhan dari masyarakat tani.  Sehingga pendampingan dan pengawalan dari para petugas dan penyuluh harus terus diinsentifkan agar masyarakat lebih semangat dalam pelaksanaan pemanfaatan pekarangan pertanian ini.  
Adalah Istianah (45 tahun), ibu rumah tangga, istri dari Ahmadi di Dusun Tapaklembu Desa Temuasri Kecamatan Sempu Kabupaten  Banyuwangi, merupakan salah satu ibu rumah tangga yang berhasil dalam mengelola pekarangannya. Istianah sukses mengelola pekarangannya menjadi ladang bisnis yang cukup menggiurkan.
Pada tahun 2010, Ahmadi, suami Istianah  diangkat menjadi ketua kelompok tani (Poktan) Tunas Lestari. Hal ini membuat  Istianah sering bertemu dengan penyuluh pertanian, sehingga ia sering berbincang tentang pertanian. Dari diskusi diskusi kecil dengan penyuluh setempat, Istianah kemudian memulai memanfaatkan pekarangannya untuk tanaman sayuran.
Diawal tahun 2010 Istianah memanfaatkan lahan pekarangan seluas 100m2. Lalu di tahun 2018, ia merubah pola usahanya, sehingga yang separuh lahan tetap digunakan untuk tanaman sayur  seluas  ±50 m2, dan sisanya  dibangun green haouse untuk usaha perbenihan sayur mayur (cabai, brokoli, kubis, sledri dan lain lain)
Cara  budidaya yang dilakukan Istianah ini dengan sistem  tanam langsung di lahan dan menggunakan media polybag.  Sepuluh tahun ini dari giat berusaha taninya, tanaman yang dihasilkan semakin beraneka ragam, seperti cabe, terong, bawang prei, kangkung, dan sayur lain, yang dikonsumsi sehari hari.
Saat ini, ibu Istianah menggusahakan tanaman kemangi pada petak guludannya. Pada tiga petakan itu setiap dua hari sekali ia memanennya dengan petakan yang berganti ganti. Selain menjual hasil tanaman untuk konsumsi, Istianah juga membibitkan tanaman sayuran. Setiap bulan tak kurang dari 10 ribu sampai 15 ribu bibit tanaman bisa dijual.
Saat ini jaringan pemasaran sampai ke luar daerah. Sistem penjualannya melalui pemesanan terlebih dahulu dan hanya sedikit menyediakan bibit yang ready untuk dibeli. Dengan sistem pemasaran ini, menghindari resiko tidak terjualnya bibit.  
Dari usaha yang dilakukan Ahmadi dan Istianah, anak pertamanya telah lulus menjadi sarjana dan anak kedua anak lainnya masih menempuh pendidikan di bangku kuliah. Dan di tengan pandemi covid ini keluarga ini tidak terdampak dan tetap melanjutkan usahanya tanpa terpengaruh pandemi seperti pada sektor yang lainnya.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam berbagai kesempatan berpesan, adanya musibah wabah Covid-19 ini tidak boleh membuat aktivitas pertanian berhenti. Pertanian tidak berhenti dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional serta meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia agar lebih baik. “Sektor pertanian memiliki potensi yang sangat besar dalam menumbuhkan ekonomi nasional,” kata Mentan SYL.
Demikian juga Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian yaitu Prof. Dedy Nursyamsi mengatakan, masalah pangan adalah masalah yang sangat utama, hidup matinya suatu bangsa. “Sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm,” pungkas Dedi.

Penulis: Siti Masrurotin

Editor :  Yeniarta