Skip to main content
x

Kostratani Jabon, Bantu Petani Lakukan Gerdal Hama Wereng Tanaman Padi

Sidoarjo, --- Kementerian Pertanian terus mendorong agar pertanian tidak boleh berhenti. Gerakan pengendalian (gerdal) hama wereng sebagai momok petani padi mutlak harus dilakukan untuk memperoleh hasil yang memuaskan serta mengamankan stok pangan.

Hama wereng coklat masih menjadi momok menakutkan bagi seluruh petani padi di pelosok negeri. Wereng coklat (Nilaparvata lugens) merupakan hama utama padi yang sangat merugikan petani. Serangga ini menghisap cairan tanaman padi dan menyebarkan virus yang mengakibatkan tanaman padi terinfeksi penyakit tungro. Bila tidak ditangani secara serius, dapat mengakibatkan penurunan produksi secara signifikan. Demikian halnya yang sering dialami oleh petani padi di Desa Kupang, Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo.

“Guna mengantisipasi terjadinya serangan hama wereng coklat pada musim tanam kali ini, dilakukan gerakan pengendalian (gerdal) untuk meminimalisir kerugian petani agar tidak melebihi ambang ekonomi,”ungkap Sunyoto, penyuluh pertanian setempat.

Kegiatan gerdal melibatkan POPT Kecamatan dan anggota Kelompok Tani (Poktan) Kutama Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. “Gerakan pengendalian ini penting dilakukan agar tidak terjadi penetasan kelompok telur yang akan menghambat pertumbuhan padi dan menyebabkan penurunan produksi,” ujar Askud, POPT Kecamatan Jabon.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL), “Pertanian Tidak Boleh Berhenti.

“Tantangan yang dihadapi pertanian saat ini adalah mencukupi pangan bagi seluruh rakyat indonesia.  Kita harus memastikan ketersediaan pangan di seluruh tanah air. Untuk itu, saya mengajak seluruh penyuluh dan petani untuk tetap sehat di situasi pandemi covid-19. Bisa mendampingi petani untuk genjot produksi, sama-sama turun ke lapangan, sama-sama tanam, olah tanah, panen, mengolah hasil panen, mendistribusikan hasil panen, sehingga petani mendapat penghasilan yang layak,” tutur SYL.

“Gerdal hama wereng coklat dilakukan dengan cara menyemprotkan pestisida APPLAUD 10 WP dengan dosis bahan aktif sebanyak 220 ml/tangki yang difasilitasi oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sidoarjo”, ungkap Askud. Penyemprotan dengan pestisida ini perlu dilakukan karena tanaman sudah akan keluar malai, sehingga dibutuhkan racun dengan daya bunuh yang cepat. “Penyemprotan harus dilakukan dengan tepat yaitu nossle mengarah pada pangkal batang dan mengabut,” tambah Askud lagi.

“Kostratani Jabon berusaha memberikan motivasi kepada seluruh Poktan dan Gapoktan yang ada di wilayah Kecamatan Jabon agar melakukan kegiatan pengamatan OPT secara rutin kepada tanamannya dan jika terjadi gejala serangan hama/penyakit apapun yang menyerang tanamannya segera melaporkan ke BPP Jabon untuk segera di tindak lanjuti penanganannya. Kami sebagai penyuluh pertanian siap mendampingi dan mengawal petani dalam kegiatan usaha taninya. Harapan kami untuk tanam kali ini produktivitas padi yang selama ini mencapai 6,6-6,8 ton/ha dapat ditingkatkan”, imbuh Sunyoto. 

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengapresiasi BPP yang telah melaksanakan dan mendukung program Kostratani.

“Kostratani sebagai pusat data dan informasi, juga pusat gerakan pembangunan pertanian. Kostratani juga menjadi pusat pembelajaran, konsultasi agribisnis, dan pusat pengembangan jejaring kemitraan. guna meningkatkan produktivitas tanaman, tidak lepas dari kontribusi sumberdaya manusia pertaniannya,” tutur   Dedi Nursyamsi.  

 

Penulis : Nining Hariyani

Editor  dan Penyunting : Yeniarta