Skip to main content
x

KWT Dilatih Berbagai Olahan Cabai Yang Kaya Manfaat

Pasti semua tahu dengan tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.). Cabai komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dibudidayakan oleh petani di dataran rendah sampai dataran tinggi. Penanamannya dapat dilakukan di lahan sawah maupun lahan kering. Nilai gizi yang terkandung dalam cabai pun tinggi, selain mengandung vitamin A, vitamin C dan vitamin D, cabai juga mengandung senyawa aktif capsaicin. Capsaicin secara alami banyak ditemukan pada biji buah cabai dan zat ini sering digunakan untuk mengurangi nyeri karena khasiatnya sebagai antinyeri.

Dengan manfaatnya yang beragam dan seiring kebutuhan akan cabai juga terus meningkat sejalan dengan tingginya permintaan masyarakat. Balai Penelitian Tanaman Sayuran melaporkan, prediksi kebutuhan dalam negeri akan cabai merah sebesar 720.00 – 840.000 ton/ha, sedangkan produksi nasional dengan luas panen 126.790 ha sebanyak 1.061.428 ton/ha. Akan tetapi, tanaman cabai memiliki masa kesegaran yang pendek dan mudah mengalami kebusukan. Untuk itu, diperlukan cara penanganan panen cabai yang baik hingga proses pengolahan hasil cabai sehingga cabai tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk segar, akan tetapi berupa produk olahan yang memiliki masa simpan panjang, nilai tambah dan daya saing.

Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kota Batu menyelenggarakan “Pelatihan Tematik Pengolahan Hasil Cabai” yang diikuti 30 anggota kelompok wanita tani (KWT) dari Kecamatan Bumiaji, Pujon dan Kota Batu. Melalui metode Focus Disscusign Group (FGD) dan berdasarkan hasil skala prioritas masalah yang teridentifikasi menunjukkan teknologi pengolahan cabai menjadi alternatif pemecahan masalah cabai yang awet, memiliki nilai tambah dan nilai jual yang tinggi.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang  mengatakan bahwa dalam menghadapi wabah Covid-19, pertanian tidak berhenti dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional serta meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia agar lebih baik. “Sektor pertanian memiliki potensi yang sangat besar dalam menumbuhkan ekonomi nasional," ujar SYL

Lina Novi Ariani, widyaiswara BBPP Ketindan yang turut mendampingi dan melatih peserta mengatakan, “Olahan berbahan dasar cabai saat ini sangat diminati oleh banyak masyarakat. Hal ini terutama pada kecintaan masyarakat dengan aneka sambal. Wajar jika teknologi pengolahan cabai menjadi alternatif pemecahan masalah cabai terutama disaat harga anjlok.”

Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan olahan cabai, pada hari kedua peserta melakukan praktek pembuatan bubuk, saos, pasta dan keripik cabai di Gapoktan Mitra Arjuna Kacamatan Bumiaji Kota Batu. Dimulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan sampai pengemasan, menjadi titik kritis keberhasilan produk, jelas Luki Budiarti dan Joni fasilitator Gapoktan Mitra Arjuna.

Dengan menggunakan prinsip pengeringan, cabai segar dikeringkan menggunakan food dehydrator menjadi simplisia cabai. Prinsip pengeringan ini efektif untuk memperpanjang daya simpan karena kandungan air dalam cabai teruapkan oleh suhu panas dan menghasilkan simplisia dengan masa simpan yang lama yaitu satu tahun. Hal ini tentunya, dapat mengantisipasi turunnya harga cabai selama panen raya dan menjamin permintaan masyarakat tentang kebutuhan cabai.

Simplisia cabai yang sudah dikeringkan selanjutnya dapat ditepungkan menjadi bubuk cabai yang bisa langsung dikonsumsi dalam campuran makanan maupun menjadi produk yang masih dapat diolah. Jika ditambah aneka bumbu, maka nilainya tambahnya meningkat menjadi bon cabai. Dengan pengemasan yang menarik, tujuan diversifikasi pangan dan ketersediaan pangan tercapai dan bisa menambah penghasilan petani dari kegiatan off farm.

Tidak hanya belajar mengenai aneka olahan produk cabai, para peserta dapat belajar secara nyata dengan kasus riil di lapangan beserta solusinya, dan diharapkan ditindaklanjuti dengan jejaring kerjasama pemasaran antar KWT Kota Batu untuk memperkokoh kelembagaan dan kemitraan, ungkap Sumardi Noor, Kepala BBPP Ketindan.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan bahwa pangan adalah masalah yang sangat utama. “Masalah pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa. Sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm, terutama pasca panen dan olahannya. Banyak yang bisa dikerjakan untuk menaikkan nilai pertanian, khususnya pasca panen,” tegas Dedi.

Penulis : Lina Novi Ariani

Editor  :  Yeniarta