Skip to main content
x

Petani Madura Mulai Tertarik Padi Hibrida Yang Hasilkan 12 Ton Per Hektar

Penggunaan benih padi hibrida diharapkan mampu meningkatkan hasil produksi beras nasional terutama untuk menjamin ketersediaan beras di masa pandemic Covid-19. Namun pemanfaatan padi hibrida di kalangan petani masih belum optimal. Salah satu alasannya yaitu harga benih padi hibrida yang relatif mahal menjadi kendala besar dalam modal awal yang dibutuhkan petani.
Disinilah peran Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) sebagai pendamping dan pembimbing sangat diperlukan untuk memberikan pencerahan terhadap petani khususnya di Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan, Madura. Padi hibrida memiliki berbagai keunggulan diantaranya potensi hasil panen lebih tinggi sekitar 25-30 % dibandingkan dengan padi inbrida. Jika padi inbrida rata-rata menghasilkan 8-10 ton per hektar, maka padi hibrida bisa mencapai 12 ton lebih per hektar. “Jika hasil produksi padi meningkat maka keuntungan yang diperoleh petani juga meningkat. Hal ini menguntungkan petani karena dengan waktu panen yang sama dan biaya produksi yang hampir sama bias mendapatkan keuntungan hingga 30%,” ungkap Eris Wulandari selaku penyuluh BPP Proppo.

Oleh sebab itu, menurut menurut  Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL),  penyuluh pertanian merupakan inti dari agent of change pembangunan pertanian. Karena itu, jadilah penyuluh pertanian yang hebat. penyuluh harus mampu mengelola pertanian yang ada di masyarakat.
"Kalau begitu, pertanian harus menjadi kekuatan bangsa ini dengan menggunakan teknologi yang lebih baik, memanfaatkan sains dan riset yang lebih kuat sehingga bisa menghadirkan kemampuan-kemampuan kita," tegas Syahrul.

"Tahun 2020 ini adalah era Pertanian, memperbaiki desamu, memperbaiki daerahmu, memperbaiki negara dan bangsa ini hanya bisa baik kalau pertaniannya maju," sebutnya.

Semangat yang terus digaungkan itulah yang membuat penyuluh terus giat mendampingi petani dan mengawalnya. Menurut Eris, harga benih padi hibrida berkisar Rp 80.000,- hingga Rp 150.000,- per kilogram. Sedangkan harga benih padi inbrida hanya sekitar Rp 10.000,- per kilogramnya. Namun, kebutuhan benih padi hibrida lebih sedikit dibandingkan dengan benih padi inbrida. Hal ini dikarenakan cara tanam bibit padi hibrida hanya memerlukan satu bibit padi per lubang tanam, sedangkan bibit padi inbrida memerlukan 2–3 bibit per lubang tanamnya. Jika kebutuhan padi inbrida 25 kilogram per hektar maka kebutuhan benih padi hibrida hanya 15 kilogram per hektarnya.
“Memang lebih mahal di modal awal pembelian benih padi hibridanya, tetapi provitasnya jauh lebih tinggi. Jika dikalikan dengan harga beras yang sama maka lebih menguntungkan padi hibrida”, ungkap Eris.

Petani di Kecamatan Proppo selama dua tahun ini sudah merasakan keuntungan menanam padi hibrida.  Selain produksi gabah yang meningkat, ketahanan terhadap serangan hama penyakit juga lebih kuat bila dibandingkan dengan padi  inbrida. Sehingga, petani rela membeli benih padi hibrida dengan harga berapa pun yang ditawarkan.

Tidak mudah mengajak petani untuk menggunakan benih padi hibrida yang harganya mahal. Selain penyuluhan yang berkelanjutan, penyediaan benih padi hibrida yang sesuai potensi lokal, kemudahan membeli serta pembuatan demplot atau lahan percontohan, menjadi alternatif yang dapat mengenalkan padi hibrida kepada petani sehingga tertarik untuk mencoba”, cerita Eris.

Demplot atau lahan percontohan dibuat di beberapa titik dengan menggunakan varietas padi hibrida. Hal ini dilakukan selain agar petani dapat melihat dan tertarik. Selain itu juga untuk menguji hasil produksi padi diberbagai titik lokasi. Sehingga bisa diketahui kendala, provitas yang dihasilkan serta kesesuaian lokasi. Dari 10 titik lokasi percontohan padi hibrida, dilakukan ubinan dengan metode yang sama, menghasilkan rata-rata 7,6 kilogram atau GKP 12,16 ton.


(Eris Wulandari/Yeniarta)