Skip to main content
x

Semangat Petani Cabai dan Optimisme Di Era Transisi New Normal

Ditengah pandemi Covid-19 dan transisi era new normal, para petani di  Kecamatan Kaliwungu khususnya di Desa Blimbing Kidul, Gamong dan Sidorekso tengah resa. Betapa tidak, wabah ini membuat hasil panen cabai harganya anjlok di tingkat petani. Hingga saat ini harga cabai berada pada kisaran 10.000,00 per kg ditingkat petani dan ditingkat konsumen Rp.12.000,00 - 15.000,00 per Kg. Turunnya harga tersebut seperti yang dijelaskan Muhlisin selaku ketua kelompok tani (Poktan) Rejo Mulyo di Desa Sidorekso karena sulitnya pengiriman cabai ke pasaran luar daerah biasanya pada saat panen cabai, bisa dipasarkan ke beberapa kabupaten lainnya seperti Pemalang, Cirebon, Bandung, dan Jakarta. “Tetapi karena imbas covid-19 ini membuat pengiriman terbatas hanya di daerah Kudus saja, sedangan hasil panen berlimpah. Padahal selama ini melonjaknya harga cabai tak lepas dari tingginya permintaan dari luar daerah,” jelas Muhlisin.

Harga cabai yang saat ini anjlok membuat para petani cabai harus gigit jari. Sebab dengan harga tersebut dianggap hanya setara dengan ongkos panen dan penghasilan yang diperolehnya tidak sepadan dengan biaya tanam dan perawatan yang telah dikeluarkan. ”Namun kami tetap optimis dan semangat dalam melakukan produksi dan panen,” imbuh Turaikhan salah satu anggota Poktan Sumber Rejeki di Desa Gamong.

Luasan panen cabai yang ada di desa tersebut secara berurutan yaitu Desa Blimbing Kidul 2 Ha, Desa Gamong 3 Ha, dan Desa Sidorekso 3 Ha dengan rata-rata produksi 1,2 ton/ Ha. Petani di ketiga desa tersebut melakukan panen seminggu bisa dua kali.

Menteri Pertanian  Syahrul Yasin Limpo (SYL) selalu menegaskan masyarakat untuk tidak perlu khawatir soal pangan, sejumlah 11 komoditas bahan pokok yang salah satunya cabai akan terus dikawal secara intens. Sinergi antara petani dan pihak terkait untuk menjamin mata rantai bisnis di sektor pertanian salah satunya komoditas hortikultura terus dijalin oleh Kementan.

Hal senada juga ditegaskan kembali oleh Sekretaris Jenderal Kementan Momon Rusmono dalam Focus Group Discussion virtual pada hari Rabu 22 April 2020 bertajuk Meraup Untung Bisnis Pangan Petani Milenial di Tengah Pandemi Covid-19 mengatakan bahwa pihaknya menyiapkan tiga strategi dalam menjaga stok pangan. Strategi tersebut meliputi  jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. "Untuk jangka pendek, kalau ada masalah segera selesaikan. Amankan produksi dan ketersediaan kebutuhan pangan minimal sampai Mei-Agustus 2020."

Rasa semangat dan optimisme tersebut bangkit ketika ada kebijakan dari Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Catur Sulistiyanto memberikan arahan agar semua ASN yang ada di lingkungan SKPD untuk membeli produk sayuran terutama cabai dari petani. Catur juga menegaskan bahwa penyuluh di Kabupaten Kudus wajib mendukung dan mengawal petani dalam setiap olah, tanam dan panen, seperti yang tengah terjadi saat ini, bahwa penyuluh harus hadir mendampingi petani.

Selaras dengan arahan Menteri Pertanian, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, mengatakan pangan adalah masalah yang utama dan menentukan hidup matinya suatu bangsa, di mana petani harus tetap semangat tanam, olah, dan panen.

“Hal ini membuktikan pertanian tidak berhenti di tengah wabah Covid-19, kepada para penyuluh pertanian maupun swadaya diharapkan untuk tetap bekerja mendampingi para petani,” papar Dedi.

Alumni Mahasiswa Institut Pertanian Bogor Organisasi Mahasiswa Daerah (Omda) Keluarga Kudus Bogor Menara Kota juga turut membantu mengatasi anjloknya harga cabai ditingkat petani. Omda langsung membeli cabai di tingkat petani yang semula 10.000,00 per kg dibeli dengan harga Rp. 20.000,00 per Kg. Hasil penjualan sebanyak 140 Kg sepenuhnya akan dipergunakan untuk membantu masyarakat yang terkena dampak covid 19 seperti buruh tani, peternak, buruh harian, tukang becak, dan pedagang kecil berupa paket sembako dan bibit tanaman (terong, cabai, pepaya dan kangkung) sesuai dengan arahan dari Kementrian Pertanian yaitu Gerakan Ketahanan Pangan Nasional melalui pemanfaatan pangan dari pekarangan.

Penulis : Ok Setyanto Setyawan

Editor    : Yeniarta Margi Mulya