Skip to main content
x

Serial Piwulang dan Ungkapan Budaya Jawa “OJO DUMEH”

Jangan sok atau jangan mentang-mentang selalu dikonotasikan dengan sifat sombong, sewenang-wenang, mementingkan diri sendiri, lupa diri, mabuk kekuasaan atau kondisi kejiwaan lainnya yang kurang baik. Dalam budaya jawa banyak nasihat agar kita menghindari dari ucapan atau cap “ojo dumeh” di lingkungan kita.

Ojo dumeh yang umum dikenal dan diucapkan orang-orang jawa dalam kegiatan sehari-hari atau mengomentari suatu kejadian ada beberapa, seperti:

  1. Ojo dumeh kuwasa, tumindake daksura lan daksia marang sapada-pada; Arti bebasnya dalam bahasa Indonesia yaitu jangan mentang-mentang kuasa, untuk tindak tanduk yang pongah, congkak dan sewenang-wenang terhadap sesama.
  2. Ojo dumeh pinter, tumindake keblinger; Arti bebasnya dalam bahasa Indonesia adalah jangan mentang-mentang pandai, maka tindak tanduknya menyimpang dari aturan yang seharusnya.
  3. Ojo dumeh sugih, tumindake lali karo wong ringkih; Arti bebasnya dalam bahasa Indonesia adalah jangan mentang-mentang kaya maka tindak tanduknya melupakan kepada mereka yang lemah secara ekonomi.
  4. Ojo dumeh menang, tumindake sewenang-wenang; Artinya jangan mentang-mentang menang maka tindak tanduknya sewenang-wenang terhadap yang dikalahkan.

Ungkapan tersebut, mengisyaratkan bahwa orang-orang jawa diajarkan untuk menghindari kesombongan yang merupakan salah satu sifat utama syetan. Bukankah kerena sombong maka syetan tidak mau diajak sujud/ hormat kepada Adam a.s yang diciptakan dari tanah. Syetan merasa lebih baik/ lebih mulya karena diciptakan dari api.

Sifat sombong juga merupakan pintu masuk bagi ketidak-adilan/ kesewenang-wenangan, memandang rendah orang lain/ makhluk lain dan lupa bahwa kehidupan laksana roda berputar. Ada kalanya diatas, kadang di samping, sekali waktu ada di bawah. Perputaran kehidupan seharusnya mengajarkan manusia untuk bisa menghargai sesamanya. Pada dasarnya tidak ada seorangpun yang bisa hidup sendiri.

Orang disebut pandai karena ada yang bodoh, orang dikatakan kaya karena ada yang miskin, orang dipanggil pejabat karena ada rakyat, orang dapat memenangkan sesuatu karena ada yang dikalahkan. Maka sifat “Dumeh” yang terkadang menempel, baik secara sengaja atau tidak sengaja, sudah seharusnya dikikis habis dari hati manusia. Sesungguhnya yang berhak mempunyai sifat sombong hanya Allah SWT, karena Dia pemilik seluruh jagad raya dan isinya, baik yang tampak atau tersembunyi, tidak luput dari pengawasan dan pemeliharaan-Nya. Sebagaimana tercantum dalam dalam Ayat Kursi (Al-Baqarah : 255) yang artinya Allah, tiada Tuhan melainkan Dia yang hidup kekal, terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan bumi. Siapakah yang memberi syafaat disisi Allah tanpa ijin-Nya? Allah mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Allah merasa tidak berat memelihara keduanya dan Allah maha tinggi lagi maha besar.

Ditulis oleh Nur Hidayah