Skip to main content
x

Tantangan dan Peluang Mekanisme Pertanian

“Fakta mendesak yang harus ditangani setelah saya kunjungi 50 kabupaten di 14 provinsi, yaitu tantangan petani kita menghadapi kondisi yang belum sepenuhnya kondusif, sebab sarana produksi pertanian yang terbilang minim. Tahun ini bantuan berupa traktor dan alsintan lainnya berjumlah sekitar 69 ribu. Jumlah itu merupakan terbanyak dalam sejarah pembagian bantuan alsintan kepada petani” (Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian 2014-2019) Editorial, Mentan  Menyapa.

Mekanisasi pertanian yang tepat, berperan sangat signifikan untuk peningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian serta pengolahannya. Mekanisasi pertanian mencakup keuntungan efisiensi, efektifitas, kualitas dan produktifitas pertanian yang berdampak sistemik pada kesejahteraan petani, pemenuhan kebutuhan pangan, energi dan bahan produksi masyarakat. Berikut beberapa contoh alsintan yang telah dirakit oleh lembaga penelitihan Kementerian Pertanian yang memberikan tingkat efisiensi dalam pekerjaan petani khususnya dalam program swasembada padi. 

Indo Jarwo Prototipe II

Alat tanam ini telah dilakukan perbaikan pada tiga bagian utama menjadikan mesin Indo Jarwo Transplanter 2:1 prototype II yang dibuat pada tahun 2014 mampu beroperasi dengan mudah pada lumpur sawah yang berat dengan kedalaman sampai 60 cm di Kepanjen, Malang, dengan kapasitas kerja mesin mencapai 5 jam/ha atau mampu menggantikan tenaga kerja tanam sebanyak + 25 orang/hektar, kecepatan jalan pada saat operasional mencapai 3 km/jam. Uji coba pada tahun 2014 telah dilakukan di Kebun Percobaan Muara (Bogor), pada lahan sawah petani di Kawunganten (Cilacap, Jawa Tengah) dan lokasi Temu Penas 2014 di Kepanjen Malang. Demo mesin Indo Jarwo Transplanter 2:1 prototipe II di lokasi Penas 2014 ini disaksikan langsung oleh Bapak Presiden beserta Ibu dan rombongan. Prototipe mesin penanam bibit padi (paddy transplanter) mampu beroperasi dengan kapasitas kerja 0,216 ha/jam, dapat dioperasikan oleh 2 orang operator  dan biaya operasi sebesar Rp. 73.716,- /ha (dibanding penanam manual Rp. 300.000,- /ha).

Mico

Mini Combine (Mico) Harvester mempunyai kapasitas kerja mencapai 7-9 jam per hektar dengan lebar kerja 1,2 meter sangat cocok untuk petakan sawah yang sempit. Karena ukurannya yang kecil, Mico mempunyai gaya tekan (ground pressure) mesin ke permukaan tanah hanya sebesar 0,11 kg/cm2, sehingga memperkecil peluang terjadinya mesin terperosok ke dalam tanah. Sedangkan mesin combine harvester yang ada di pasaran rata- rata memiliki gaya tekan (ground pressure) sebesar 0,20 kg/cm2. Mini combine harvester diharapkan dapat mengatasi masalah kelangkaan tenaga kerja disektor pertanian khususnya tenaga panen, mesin ini dioperasikan oleh 1 orang operator dan 2 orang pembantu. Mini combine harvester juga dapat menurunkan kehilangan panen padi, dimana kondisi saat ini, tingkat kehilangan hasil (losses) padi pada waktu musim panen masih sangat tinggi, dikarenakan proses panen yang masih secara manual (gropyokan). Kehilangan hasil terjadi pada proses pemotongan, pengangkutan, perontokan.

Titik kritis kehilangan hasil pada proses pemotongan dan perontokan sebesar 10%. Dengan menggunakan mini combine harvester tingkat kehilangan pada proses pemanenan bisa ditekan sampai dengan kurang dari 2%. Rendahnya tingkat kehilangan panen dengan menggunakan mesin combine harvester, dikarenakan seluruh proses panen, pemotongan, pengangkutan, perontokan dan pengarungan dapat dilakukan dalam satu kali proses. Selain itu, dengan menggunakan mini combine harvester, tingkat kebersihan gabah panen yang dihasilkan mencapai >95%.

Power weeder

Power weeder adalah alat penyiangan bertenaga motor dengan hasil penyiangan tiga kali lebih besar dibandingkan penyiang manual/gasrok, menekan biaya, kemampuan kerja 15 jam/ha untuk satu arah atau 27 jam/ha untuk 2 arah. Alsintan ini ringan berbobot 21 kg, mudah dioperasikan oleh satu operator.

Namun dilapangan aplikasi alsintan tidak semudah membalik telapak tangan, terdapat berbagai faktor penentu keberhasilan aplikasi alsintan. Faktor-faktor tersebut ada yang sudah diatasi dengan baik oleh pemerintah dan ada pula yang masih menjadi tantangan kita bersama, diantaranya:

1. Ekonomi
Ekonomi adalah faktor yang paling diprioritaskan oleh petani dalam memutuskan pengunaan mesin pertanian (Al-Haq, 2009). Petani secara sendiri-sendiri merasa belum mampu dalam investasi alat dan mesin pertanian (jika mereka belum merasa sangat membutuhkannya). Oleh karena itu pemerintah pada periode tahun 2014-2015 memberi bantuan berupa traktor dan alsintan lainnya berjumlah sekitar 69 ribu unit alsintan dan direncanakan akan dilanjutkan pada tahun tahun berikutnya. Pada lokasi yang belum mendapat bantuan, merupakan pekerjaan rumah bersama untuk menguatkan kembali kelembagaan kelompok tani, koperasi, ataupun Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA). Andai saja alsintan dapat dioperasionalkan untuk jangka panjang ketika maka biaya variabel dapat menurun karena efisiensi waktu serta beberapa komponen biaya seperti tenaga kerja, ditambah dengan kenaikan pemasukan hasil penjualan karena produktifitas naik, maka secara otomatis besarnya biaya pokok akan turun dan pendapatan petani akan meningkat. 

2. Teknis 
a. Kondisi lapangan
Untuk kondisi lapangan seperti di daerah pantai utara pulau jawa penerapan mekanisasi tidak akan banyak bermasalah karena luasnya lahan perpetak, dan juga tidak terlalu berteras, akan berbeda halnya pada lahan yang berteras dan umumnya kepemilikan lahan petani Indonesia  hanya 0,2 ha/orang, hal lain  dipersulit lagi dengan ketidakkompakan petani dalam menanam dan masa tanam. Diperlukan perencanaan dan perbaikan lahan (konsolidasi lahan) yang mencakup pengelolaan lahan, pembuatan jalan permanen antar petakan berteras, pengaturan dan manejemen pengairan yang meliputi irigasi dan drainase, serta pembuatan jalan-jalan transportasi, dan masih banyak lagi aspek lainnya yang perlu ditangani secara sungguh-sungguh dan professional, agar penggunaan alsintan akan lebih efektif dan efisien.

b. Fasilitas penunjang
Selain konsolidasi lahan, penerapan alsintan membutuhkan fasilitas penunjang operasi untuk dapat digunakan dengan baik. Fasilitas itu adalah BBM, suku cadang, perbengkelan, operator. Suku cadang merupakan hal yang penting karena seringkali walaupun suku cadang sepele tetapi jika rusak dan tidak bisa dibeli dipasaran maka alsintan tersebut tidak bisa dioperasionalkan. Oleh karena itu penyediaan suku cadang sesuai dengan merek dan spesifikasi alsintan yang beredar dimasyarakat perlu menjadi perhatian. Operator yang berpengalaman juga diperlukan karena keterampilan operator mempengaruhi hasil kerja alsintan, efektifitas bahan bakar dan keawetan mesin.

c. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Jika alsintan akan dikembangkan, maka aspek K3 harus disertakan karena resiko kesehatan dan keselamatan pada saat menggunakan alat mesin lebih besar dibandingkan manual. Pekerjaan yang belum tersentuh aspek kesehatan dan keselamatan adalah pertanian khususnya peruntukkan bagi petani kecil. Berbeda dengan industri non-pertanian yang sangat memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Kalaupun ada, K3 hanya dilakukan pada perusahan pertanian level besar. Sedangkan petani kecil di lahan tidak pernah diprioritaskan menggunakan Standar Opersional Prosedur (SOP) seperti penggunaan sepatu boot ketika ke lahan, menggunakan masker ketika menyemprot pestisida, petani cenderung tidak berpakaian lengkap ketika bekerja. sehingga resiko kecelakaan kerja di lahan sangat besar. 
Hal lain yang berhubungan dengan K3 adalah bahwa alat harus spesifik lokasi, karena tidak semua alsintan dapat dioperasionalkan pada semua lokasi. Sebagai contoh, untuk daerah yang datar diperlukan traktor besar minimal 8 PK, tetapi untuk daerah yang berteras dan sempit diperlukan traktor kecil sekitar 4 PK. Alat yang tidak spesifik lokasi akan meningkatkan resiko kecelakaan kerja. Banyak contoh kasus kecelakaan kerja pada lahan berteras dengan traktor berukuran besar yang berasal dari bantuan. Hal ini juga menjadi catatan bagi pengambil kebijakan dalam pengadaan barang bantuan maupun CPCL dari daerah sehingga lebih sinkron dan spesifik lokasi.

3. Sosial budaya
Di beberapa tempat sudah menjadi budaya, masyarakat yang selalu memegang teguh tradisional dan enggan berganti dengan teknologi baru. Disinilah pentingnya pendekatan sosial kultural untuk mengadaptasikan teknologi. 
Di beberapa tempat sentra padi, seperti karawang dan sekitarnya ada anggapan jika power thresher dan combine harvester beroperasi, masyarakat akan beramai-ramai berdemo dan membakarnya. Ini terjadi karena ada konflik kepentingan antara buruh tani dengan alsintan. Paradigma berfikir masyarakat adalah bahwa alsintan akan mengurangi jatah pekerja tani. Padahal, seharusnya paradigma yang harus disosialisasikan adalah konsep pengalihan tenaga kerja dari on-farm menjadi off-farm. Dengan masuknya alsintan, maka produktivitas akan meningkat dengan waktu yang lebih cepat. Dengan demikian output produksi akan lebih besar dan cepat, sehingga tenaga kerja di off-farm lebih banyak dibutuhkan.

Demikianlah sekelumit peluang dan tantangan dalam aplikasi alsintan, masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita lakukan sehubungan dengan sosialisasi aplikasi alsintan mulai dari kebijakan hingga pemahaman teknis dan sosial di tingkat petani. Semoga pertanian Indonesia semakin maju dan petani semakin sejahtera. 

Ditulis oleh Nunung Nurhadi