Mahkota Dewa (Bagian 1)

Dorongan tulisan ini muncul ketika saya selesai melaksanakan  kegiatan interaktif yang disiarkan RRI Malang pada Hari Rabu, tanggal 20 Oktober 2010, jam 09.00 – 10.00 Wib, dalam acara “PESONA WANITA”.  Melihat fenomena di masyarakat yang sebagian masih belum mengenal lebih dekat tentang mahkota dewa, maka perlu  menyampaikan informasi tentang seluk beluk tanaman ini.

Kalau melihat dimasyarakat sebenarnya banyak sekali tanaman yang bisa dipergunakan, dimanfaatkan untuk kegiatan pengobatan baik secara langsung maupun tidak langsung,  kendala yang paling klasik adalah masyarakat belum mengenal, belum tahu cara menggunakan, belum tahu, dosisnya, belum tahu pasca panennya dan masih banyak lagi kendala yang secara tidak langsung sebenarnya masyarakat sendiri yang kurang menyadari atau masih minim kesadarannya untuk memakai, mengunakan dan memanfaatkan kekayaan alam ini.

Untuk itulah tulisan ini mencoba menterjemahkan satu persatu mulai dari bagian – bagian tanaman, kesesuaian tempat, pemeliharaan, pemanenan, pasca panen hingga  penggunaan / pemanfaatan tanaman itu sendiri.

Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl merupakan tanaman  yang sosoknya berupa tanaman perdu, tajuknya bercabang-cabang, ketinggian tanaman ini bisa mencapai  2,5 meter, namun jika dibiarkan mencapai lima meter, umur tanaman ini mencapai puluhan tahun, tingkat produktivitas bisa sampai 10 hingga 20 tahun.

Tanaman mahkota dewa  terdiri dari akar, batang, daun, bunga serta buah. Akarnya berupa akar tunggang bisa mencapai 100 cm,  batang mahkota dewa kulitnya berwarna cokelat kehijauan, batangnya bergetah sehingga bila dicangkok sering mengalami kegagalan.

Daun mahkota dewa  merupakan daun tunggal, bentuknya lonjong langsing memanjang berunjung lancip, sekilas menyerupai bentuk daun jambu air, tetapi lebih langsing, warnanya hijau, daun tua berwarna lebih gelap daripada daun muda dengan panjang 7 – 10 cm, dengan lebar 3 – 5 cm.

Bunga mahkota dewa merupakan bunga majemuk yang tersusun dalam kelompok 2 – 4 bunga, bentuknya seperti terompet kecil, ketika mulai berbunga aroma baunya harum, ukurannya kira – kira sebesar bunga tanaman cengkeh, bunga ini keluar sepanjang tahun atau tak kenal musim, tetapi paling banyak pada musim penghujan.

Ciri khas buah mahkota dewa bentuknya bulat seperti bola, dari sebesar bola pingpong sampai sebesar apel merah, penampilannya tampak menawan, merah menyala sehingga tampak merangsang  selara untuk memakannya. Namun hati – hati karena memakan berarti harus siap – siap untuk merasakan mabuk atau pusing, karena bila  mengkonsumsi buah ini baik langsung maupun  tidak langsung dengan melebihi dosis maka akan merasakan mabuk. Buah mahkota dewa  terdiri dari  kulit, daging, cangkang dan biji.

Saat masih muda, kulitnya berwarna hijau seiring dengan perjalanan waktu maka buah berwarna merah marun dengan ketebalan sekitar 0,5 – 1 mm dengan daging buah berwarna putih, sedang ketebalan daging bervariasi, tergantung pada ukuran buah. Pengunaan kulit dan daging buah tidak dipisahkan sehingga kulit tidak perlu dikupas dulu seperti tanaman yang lain kalau mau dipakai.  Saat masih muda rasa kulit dan daging ini sepet – sepet agak manis,  jika dimakan akan menimbulkan bengkak dimulut, sariawan, mabuk bahkan keracunan. Buah mahkota dewa yang sudah tua biasanya daging buah mulai banyak berserat, sehingga bila diiris mengalami kesulitan, buah yang paling idial untuk digunakan adalah yang mendekati tua dan tidak terlalu muda.

Buah mahkota dewa yang sudah tua dan berwarna merah akan menyebabkan cangkang buah menjadi keras dan kuat sehingga bila disisir atau di iris mengalami kesulitan.  Cangkang buah yang kuat adalah untuk melingungi biji  dan berwarna putih, ketebalan bisa mencapai 2 mm, rasa cangkang buah sepet – sepet pahit, tetapi lebih pahit daripada kulit dan daging.

Tanaman ini sebenarnya adalah jenis tanaman yang sangat mudah  beradaptasi walaupun berasal dari daratan Papua namun mampu hidup diberbagai kondisi baik dataran rendah sampai dataran tinggi yaitu pada ketinggian 10 – 1.200 meter dpl (dari permukaan laut), namun pertumbuhan paling baik adalah pada ketinggian 10 – 1.000 meter dpl.

Tanaman ini akan tumbuh subur jika ditanam pada lahan yang gembur dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Namun penanaman bisa ditanam di dalam pot  sesuai dengan keingginan atau selera penaman disamping itu bisa digunakan penghias halaman, atau ruangan yang akan memperindah suasana halaman.

Pada prinsipnya perbanyakan tanaman yang paling mudah dan tingkat resikonya kecil adalah dengan perbanyakan generatif, walaupun perbanyakan vegetatif pernah berhasil namun tidak sebaik  yang perbanyakan dengan generatif. Perbanyakan dengan biji perlu melalukan persemaian terlebih dahulu, memperhatikan biji yang akan disemai, media untuk semai, cara merawat persemaian hingga biji mahkota dewa kelihatan muncul tunas baru.

Pemindahan  ke media penanaman setelah berumur dua bulan atau ketinggiannya sudah mencapai 10 – 15 cm, cara memindahkannya jika persemaian dengan melubangi bagian bawah lalu dimasukkan ke lubang tanam, atau bila menaman pada media pot maka yang perlu dipersiapkan adalah media penanaman dulu.

Media penanaman di pot sama dengan penanaman di pekarangan atau kebun yaitu kompos atau pupuk kandang, pasir atau sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Setelah media tanam siap masukkan ke dalam pot yang sudah disiapkan kemudian siram media yang sudah dalam pot sampai basah, tunggu  1 – 2 jam, kemudia buatkan lubang kecil, seukuran polybag persemaian, masukkan benih yang sudah dipisahkan dari polybag, kemudian tekan kiri dan kanan siram dengan air lagi dan yakinkan bahwa tanaman sudah selesai ditanam.

Untuk mendapatkan mahkota dewa yang berkwalitas sebaiknya hindari pemupukan dengan menggunakan pupuk – pupuk anorganik, sebaiknya digunakan pupuk kandang (organik),    bahan yang bisa dipakai untuk pupuk organik  tidaklah sulit karena bahan – bahan itu sebenarnya sudah ada disekitar masyarakat seperti kotoran kambing, sapi, ayam, dan kotoran hewan lainnya serta daun – daun yang sudah kering.

Dalam melakukan pemanenan mahkota dewa, sebaiknya perhatikan dulu bagian apa yang akan dipanen, soalnya cara memanen setiap bagian tanaman mahkota dewa  berbeda – beda sesuai dengan khasiatnya mulai dari penen daun sebaiknya dipilih daun yang masih segar dan tidak kena penyakit, daun dipanen  sebaiknya yang cukup tua, cirinya bentuknya paling besar dibandingkan dengan daun lain. Sedangkan buah yang diambil sebaiknya yang sudah mulai merah  dan tidak memiliki cacat sekecil apapun. Dianjurkan pemanfaatan kulit dan daging buah dengan cara merebusnya terlebih dahulu. Kulit dan daging buah juga termasuk tanaman yang paling sering digunakan untuk pengobatan.

Siapa lagi yang akan melestarikan warisan leluhur kita kalau bukan kita sendiri, siapa yang akan memanfaatkan potensi alam kita kalau bukan kita sendiri.

Bagikan Artikel :