Telp/Fax 0341-927123 / 429725

|

Kementan Dorong Petani Olah Tomat Ceri Jadi Produk Bernilai Tambah

Najia
Aug 27, 2026

Hasil pertanian tidak harus berhenti sebagai produk segar. Melalui inovasi pengolahan, komoditas hortikultura yang mudah rusak dapat diubah menjadi produk dengan masa simpan lebih panjang sekaligus memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Pesan tersebut menjadi salah satu pembelajaran dalam Bertani on Cloud (BOC) Volume 364 yang diselenggarakan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Kamis (27/8/2026).

Mengusung tema “Manis Produknya, Menarik Usahanya: Olahan Manisan Tomat Ceri”, kegiatan ini membekali peserta dengan pengetahuan pengolahan hasil sekaligus analisis kelayakan usaha.

Sebanyak 380 peserta mengikuti kegiatan melalui Zoom Meeting, sementara peserta lainnya bergabung secara daring melalui siaran langsung YouTube BBPP Ketindan.

Kegiatan dibuka Ketua Kelompok Substansi Penyelenggaraan Pelatihan BBPP Ketindan, Junni Fardiana. Ia menekankan bahwa pembangunan pertanian saat ini tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi. Petani juga perlu mampu mengolah hasil produksi agar memiliki nilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.

“Pertanian tidak hanya berhenti pada bagaimana kita menghasilkan produk. Tantangannya adalah bagaimana hasil pertanian tersebut juga dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi petani,” ujarnya.

Menurut Junni, tomat merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak dimanfaatkan masyarakat, tetapi memiliki karakter mudah rusak. Kondisi tersebut dapat menjadi persoalan ketika produksi meningkat atau memasuki masa panen raya.

Karena itu, pengolahan hasil menjadi salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk memperpanjang masa simpan sekaligus menciptakan produk baru dengan nilai jual lebih tinggi.

Pada sesi pertama, peserta mendapatkan materi “Olahan Manisan Tomat” yang disampaikan Murdani. Peserta diperkenalkan pada tahapan pengolahan tomat ceri menjadi manisan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses pengolahan.

Kualitas bahan baku menjadi salah satu faktor penting. Tomat yang digunakan harus dalam kondisi baik, matang, segar, tidak busuk, serta tidak mengalami kerusakan agar menghasilkan manisan dengan rasa, aroma dan tekstur yang baik.

Pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa komoditas yang memiliki umur simpan relatif pendek dapat diolah menjadi produk yang lebih awet dan memiliki peluang pasar lebih luas.

Tidak berhenti pada teknik pengolahan, peserta juga diajak melihat sisi bisnis dari produk tersebut melalui materi analisis usaha yang disampaikan Herdinastiti.

Dalam simulasi usaha manisan tomat ceri di BBPP Ketindan, sebanyak 4.000 gram bahan baku dapat menghasilkan sekitar 70 kemasan dengan berat kurang lebih 55 gram per kemasan. Produk tersebut dihargai Rp10.000 per kemasan.

Dengan total biaya produksi sekitar Rp284.920, penerimaan dari penjualan mencapai Rp700.000. Berdasarkan perhitungan tersebut, pendapatan yang diperoleh sekitar Rp415.000. Sementara itu, nilai R/C Ratio sebesar 2,46 dan B/C Ratio sebesar 1,46 menunjukkan bahwa usaha tersebut secara perhitungan layak untuk dikembangkan.

Materi tersebut memberikan gambaran bahwa inovasi produk pertanian perlu diikuti kemampuan menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, memperkirakan keuntungan, serta membaca peluang pasar.

Pengolahan tomat ceri menjadi manisan juga menjadi contoh sederhana bagaimana hilirisasi dapat diterapkan mulai dari tingkat petani. Produk yang sebelumnya hanya dijual dalam bentuk segar dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memberikan tambahan nilai ekonomi.

Arah tersebut sejalan dengan dorongan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menempatkan hilirisasi sebagai bagian penting dalam pembangunan pertanian. Hasil pertanian didorong tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga dikembangkan menjadi produk bernilai tambah sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih besar oleh petani dan masyarakat.

Mentan juga terus mendorong sumber daya manusia pertanian untuk tidak hanya menjadi pelaku produksi, tetapi berani mengembangkan potensi pertanian menjadi usaha produktif dan menciptakan lapangan kerja.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti menegaskan pentingnya penguatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan pertanian sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan pertanian dan pencapaian swasembada pangan.

Melalui BOC, pengetahuan dan inovasi tersebut dapat diakses lebih luas oleh masyarakat pertanian. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek teknis budidaya, tetapi juga membuka wawasan mengenai pengolahan hasil, analisis usaha dan peluang pengembangan agribisnis.

BOC Volume 364 diharapkan mendorong peserta untuk tidak berhenti pada kemampuan membuat manisan tomat ceri. Lebih jauh, peserta dapat mengidentifikasi komoditas potensial di wilayah masing-masing, mengembangkan produk olahan, menghitung kelayakan usaha, serta mulai membangun akses pasar.

Dengan demikian, transformasi pertanian tidak hanya diukur dari seberapa banyak produk yang dihasilkan, tetapi juga dari seberapa besar nilai tambah yang mampu diciptakan. Dari hasil panen menjadi produk olahan, dari komoditas menjadi peluang usaha, dan dari produksi menuju peningkatan kesejahteraan petani.

Similar Post