Noviana Miming Dwi Wulansari
Di tengah perjuangan meraih dan menjaga ketahanan pangan, upaya Indonesia melepaskan diri dari ketergantungan mutlak pada beras kini semakin berpacu dengan waktu. Terutama dengan ancaman anomali iklim dan lonjakan kebutuhan pangan. Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) hadir sebagai serealia alternatif yang tangguh dan multifungsi, tidak hanya kaya nutrisi sebagai substitusi pangan, tetapi juga strategis untuk menyuplai pakan ternak hingga bahan baku energi hijau bioetanol. Sayangnya, laju realisasi pengembangan untuk membumikan sorgum di tanah air masih terhambat, salah satunya oleh tantangan penyediaan benih bermutu siap tanam.
Kunci utama di hulu pertanian adalah benih dengan daya hidup (viabilitas) tinggi, dengan pengujian mutu fisiologis secara konvensional umumnya mengandalkan parameter daya berkecambah yang memakan waktu hingga berhari-hari. Keterlambatan informasi kelayakan benih ini menciptakan inefisiensi dalam rantai distribusi pertanian.
Menjawab kebuntuan tersebut, dunia sains benih mulai mengadopsi Radicle Emergence (RE) atau kemunculan radikula/ calon akar sebagai indikator fisiologis awal untuk mendeteksi vigor benih secara cepat. Benih yang lebih cepat memunculkan radikula terbukti memiliki metabolisme yang unggul dan lebih siap untuk melanjutkan proses perkecambahan menjadi tanaman normal.
Sebuah kajian yang dilakukan di lingkup UPTD Balai Pengawasan, Sertifikasi Benih Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali pada akhir tahun 2025, membuktikan efektivitas uji cepat pada lima varietas sorgum, Mandau, Super 1, Bioguma 1, Bioguma 2, dan Bioguma 3. Eksperimen ini menguji dua metode perkecambahan pada suhu inkubasi 25±1^∘ C, yaitu Metode Between Paper (BP), di mana benih sorgum dijepit di antara dua lapis kertas CD yang dibasahi lalu digulung dalam plastik. Kemudian Metode Top of Paper (TP), di mana benih diletakkan terbuka di atas permukaan kertas CD lembap di dalam sebuah wadah transparan.
Hasilnya, metode TP terbukti secara signifikan mempercepat deteksi pemunculan radikula, dengan minimal panjang 2 mm, dibandingkan metode BP pada fase awal perkecambahan. Data pengamatan menunjukkan keunggulan metode TP secara nyata pada pengamatan jam ke-33, rata-rata kemunculan radikula pada metode TP telah mencapai angka 59,0%. Pada waktu yang sama, metode BP terbukti lebih lambat dengan angka kemunculan radikula baru menyentuh 35,2%. Akselerasi metode TP terus memimpin hingga jam ke-42 dengan raihan 91,6%, berbanding 84,5% pada metode BP. Ketika memasuki waktu 51 jam ke atas, hasil kedua metode ini mulai konvergen, menunjukkan angka yang hampir setara, TP 94,6% dan BP 94,0%.
Secara biologis, keunggulan kecepatan metode TP dipicu oleh ketersediaan oksigen yang melimpah karena posisi benih berada langsung di permukaan ruang terbuka, sekaligus tetap terjaga kelembapannya untuk proses imbibisi. Keseimbangan oksigen dan air ini merangsang aktivasi metabolisme, respirasi, dan mobilisasi cadangan makanan benih dengan sangat cepat.
Penemuan paling berharga dari kajian ini adalah ditetapkannya waktu 48 jam menggunakan metode TP sebagai titik optimal untuk memprediksi mutu benih sorgum di masa depan. Analisis statistik membuktikan adanya hubungan linier dan positif yang kuat antara nilai RE di jam ke-48 dengan daya berkecambah konvensional akhir. Hal ini dirumuskan dalam persamaan regresi y=1,038x-3,32 dengan nilai koefisien determinasi (R^2) sebesar 0,7474, yang artinya hampir 75% keberhasilan daya berkecambah benih sorgum dapat diprediksi secara akurat hanya dalam waktu dua hari penuh.
Meski metode cepat ini sangat menjanjikan sebagai prosedur skrining di laboratorium maupun industri benih, masih terdapat sisa variasi sekitar 25,3% yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan parameter RE. Sisa persentase ini masih dikendalikan oleh faktor-faktor teknis yang melekat pada benih itu sendiri, di antaranya tingkat kadar air awal benih sebelum diuji, ukuran fisik dan sejarah riwayat penyimpanan lot benih, integritas dan kondisi embrio di dalam benih, karakter kulit benih atau testa, serta kondisi fisiologis bawaan lainnya.
Dengan demikian, metode RE 48 jam memberikan angin segar bagi pengawasan dan peredaran mutu benih nasional. Di era di mana adaptasi perubahan iklim membutuhkan pergerakan distribusi benih yang responsif, memangkas hari pengujian menjadi hanya 48 jam adalah sebuah terobosan penting. Namun, untuk menjadikan persamaan hitungan ini sebagai Standar Operasional Prosedur (SOP) nasional yang baku, keilmuan perbenihan masih menuntut validasi lanjutan yang melibatkan lebih banyak lot benih, rentang kadar air yang bervariasi, serta perlakuan kondisi penyimpanan yang beragam.
Sumber referensi: Diaguna, R., Widajati, E., Permatasari, O. S. I., Suhartanto, M. R., Suwarno, P. M., Budiman, C., Saroza, A. R., & Fuad, H. (2024). Radicle emergence test method for estimating sorghum seeds quality. Journal of Stored Products Research, 105, 102263. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0022474X24000201 International Seed Testing Association. (2021). ISTA rules. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, Kementerian Pertanian.
Editor: Saptini Mukti Rahajeng
Sumber Gambar : www.istockphoto.com


