Pamekasan – Perubahan iklim, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga risiko pembiayaan menjadi tantangan nyata yang dihadapi petani dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian.
Oleh karena itu, penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pertanian menjadi salah satu strategi utama Kementerian Pertanian dalam membangun Brigade Pangan yang tangguh, adaptif, dan mampu mengelola risiko usaha tani secara profesional guna mendukung percepatan swasembada pangan nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan berbagai langkah antisipatif untuk menjaga produksi pangan nasional, termasuk menghadapi potensi dampak perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui program pompanisasi. Tahun lalu telah menjangkau 1,2 juta hektare, dan tahun ini akan ditambah hingga 1 juta hektare agar produksi tetap terjaga,” ujar Mentan Amran.
Selain menjamin ketersediaan air, lanjutnya, pemerintah juga memastikan distribusi pupuk bersubsidi tetap terjaga agar petani dapat memperoleh pupuk dengan lebih mudah dan harga yang terjangkau, sehingga mampu mendukung peningkatan produksi pangan nasional.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan risiko gagal panen akibat fluktuasi suhu, perubahan pola curah hujan, serta kejadian cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi. Karena itu, penguatan kapasitas SDM pertanian menjadi langkah strategis agar petani mampu melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap berbagai risiko yang dihadapi di lapangan.
Sebagai implementasi kebijakan tersebut, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelatihan Kementerian Pertanian menyelenggarakan Pelatihan Teknis Brigade Pangan Angkatan XV di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pademawu, Kabupaten Pamekasan, pada 29–30 Juni 2026.
Kegiatan ini diikuti oleh 30 pengurus Brigade Pangan yang berasal dari tujuh Brigade Pangan, yakni Garuda Nusantara, Tempur Tani Barokah, Sejahtera Bersama, Kompak Sejahtera, Sakerah, Propo, dan Barokah Jaya.
Koordinator Penyuluh Pertanian Kabupaten Pamekasan, Didik Haryono, yang mewakili Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pamekasan saat membuka pelatihan, mengajak seluruh peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meningkatkan kompetensi sebagai pelaku usaha pertanian modern.
Menurutnya, Brigade Pangan tidak hanya dituntut mampu melaksanakan kegiatan budidaya secara optimal, tetapi juga harus memiliki kemampuan dalam mengelola usaha jasa alat dan mesin pertanian (alsintan), memahami manajemen usaha, serta mampu mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi berbagai risiko usaha tani.
Materi mitigasi risiko menjadi salah satu fokus utama dalam pelatihan. Widyaiswara BBPP Ketindan, Nining Hariyani, menjelaskan bahwa risiko usaha tani tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, namun dapat diminimalkan melalui langkah mitigasi dan adaptasi yang tepat.
“Mencegah lebih baik daripada mengobati. Risiko harus dikenali sejak awal agar petani mampu menentukan langkah yang tepat sebelum menimbulkan kerugian yang lebih besar,” jelasnya.
Nining menambahkan bahwa risiko usaha tani dapat berasal dari berbagai faktor, mulai dari perubahan iklim, keterbatasan sumber air, keterlambatan distribusi sarana produksi, kesalahan pengelolaan budidaya, hingga serangan organisme pengganggu tanaman. Sementara itu, dari aspek usaha, lemahnya pengelolaan keuangan juga berpotensi memengaruhi keberlanjutan usaha Brigade Pangan.
Oleh karena itu, peserta dibekali kemampuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menyusun strategi mitigasi risiko sebagai bagian dari tata kelola usaha pertanian yang profesional dan berkelanjutan.
Urgensi materi tersebut juga dirasakan langsung oleh para peserta. Sama’udin, petani asal Kecamatan Pasean, mengaku pernah mengalami kerugian akibat serangan penyakit blas pada tanaman padi. Sementara itu, Moh Sanah dari Kecamatan Proppo pernah kehilangan hasil panen akibat serangan hama tikus, ditambah kondisi lahan tadah hujan yang membatasi intensitas tanam hanya satu hingga dua kali dalam setahun.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tantangan pertanian modern tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis budidaya, tetapi juga kemampuan petani dalam mengantisipasi dan mengelola berbagai risiko yang muncul. Melalui penguatan kompetensi Brigade Pangan, pemerintah berharap lahir SDM pertanian yang lebih adaptif, profesional, dan tangguh dalam menjaga produktivitas usaha tani di tengah dinamika perubahan iklim.
Dengan demikian, Brigade Pangan diharapkan semakin berperan sebagai motor penggerak pertanian modern sekaligus menjadi garda terdepan dalam mendukung percepatan swasembada pangan nasional. Nining Hariyani*
Diterbitkan di https://megapolitannews.com/2026/07/02/hadapi-ancaman-perubahan-iklim-brigade-pangan-dibekali-strategi-mitigasi-risiko-usahatani/


