Pemupukan menjadi salah satu kunci dalam menjaga pertumbuhan dan produktivitas tanaman jagung manis. Hal tersebut dipraktikkan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan melalui kegiatan pemeliharaan tanaman di lahan praktik, Rabu (2/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis praktik yang memberikan pengalaman langsung mengenai penerapan teknologi budidaya jagung manis, khususnya pemupukan sesuai kebutuhan tanaman dan fase pertumbuhannya.
Widyaiswara Pengampu Budidaya Pertanian BBPP Ketindan, Tuban, menjelaskan bahwa pemupukan perlu dilakukan secara tepat dengan memperhatikan jenis pupuk, dosis, waktu, serta cara aplikasinya.
“Pemupukan merupakan bagian penting dari pemeliharaan tanaman. Pemberian pupuk harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan fase pertumbuhannya agar unsur hara dapat dimanfaatkan secara efektif,” jelasnya.
Menurutnya, pemupukan tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Pemberian unsur hara yang sesuai akan mendukung pertumbuhan tanaman, sekaligus membantu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk.
Pemeliharaan jagung manis di lahan praktik BBPP Ketindan juga dilakukan secara menyeluruh. Selain pemupukan, kegiatan mencakup penyulaman tanaman yang tidak tumbuh, pengendalian gulma, pengamatan organisme pengganggu tanaman (OPT), pengaturan kelembapan tanah, serta pemantauan pertumbuhan tanaman secara berkala.
Widyaiswara BBPP Ketindan, Nur Diana Septi, mengatakan keberhasilan budidaya jagung manis tidak hanya ditentukan pada tahap penanaman, tetapi juga oleh konsistensi pemeliharaan selama tanaman tumbuh dan berkembang.
“Tanaman harus terus dipantau dan dirawat. Dengan pemeliharaan yang baik dan dilakukan secara rutin, kita dapat mengetahui lebih awal apabila terdapat gangguan pada tanaman, sehingga dapat segera dilakukan tindakan yang tepat,” ungkap Septi.
Penerapan pemupukan tepat dosis dan berimbang tersebut sejalan dengan upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam mendorong penerapan teknologi budidaya yang efisien, produktif, dan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Pemupukan berimbang dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan tanaman, termasuk melalui pemanfaatan pupuk organik maupun anorganik.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman nyata di lapangan bagi generasi muda pertanian. Menurutnya, penguasaan teori perlu diperkuat dengan praktik langsung agar calon petani dan penyuluh memiliki kemampuan menerapkan teknologi pertanian secara tepat.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa pembelajaran pertanian harus mampu menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman praktik di lapangan.
Menurut Idha, Unit Pelaksana Teknis (UPT) pelatihan di bawah BPPSDMP, termasuk BBPP Ketindan, memiliki peran penting dalam menghadirkan pembelajaran yang aplikatif. Melalui praktik lapangan, peserta pelatihan maupun petani dapat memahami penerapan teknologi budidaya secara lebih utuh, mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemupukan, pemeliharaan, hingga panen.
Kegiatan pemeliharaan jagung manis di BBPP Ketindan sekaligus menjadi sarana pembelajaran untuk memperkuat keterampilan teknis peserta dalam mengelola tanaman. Praktik langsung di lahan diharapkan mampu membangun pemahaman bahwa produktivitas tanaman tidak hanya bergantung pada proses penanaman, tetapi juga pada ketepatan dan konsistensi pemeliharaan.
Melalui penerapan pemupukan yang tepat dan pemeliharaan berkelanjutan, tanaman jagung manis di lahan praktik BBPP Ketindan diharapkan tumbuh sehat dan produktif. Praktik tersebut juga menjadi contoh penerapan teknologi budidaya yang dapat diterapkan dan dikembangkan oleh petani sesuai kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.


