Upaya memperkuat swasembada pangan, khususnya komoditas jagung, terus digencarkan melalui pendampingan teknis di tingkat petani. Di Kelurahan Burengan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, kegiatan pendampingan dilakukan oleh penyuluh pertanian kepada anggota Kelompok Tani (Poktan) Tani Makmur Burengan, dengan fokus pada penanganan pascapanen berupa pengeringan benih jagung. Pendampingan dilakukan sejak 19 Februari 2026 lalu dan dilaksanakan selama satu minggu.
Sugiono, anggota Poktan Tani Makmur Burengan yang didampingi oleh penyuluh pada kegiatan pasca panen, memiliki lahan seluas 0,28 hektare. Dari lahan tersebut, hasil panen mencapai 23 sak jagung pipilan dengan berat 50 kilogram per sak, atau setara dengan 1.150 kilogram. Produktivitas ini dinilai mencerminkan pengelolaan budidaya yang baik, termasuk perhatian pada penanganan pascapanen.
Kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh Agus Fatony Tohari, selaku penyuluh Kementerian Pertanian, difokuskan pada penanganan pascapanen, terutama proses pengeringan benih jagung, yang menjadi tahapan krusial dalam menjaga mutu dan viabilitas benih. Kegiatan pendampingan ini merupakan bagian dari strategi penguatan kapasitas petani binaan dalam mendukung swasembada pangan nasional.
Jagung memiliki peran strategis, baik di sektor pertanian maupun dalam perekonomian masyarakat. Karena itu, penanganan pascapanen menjadi faktor penting untuk menjamin kualitas hasil panen. Salah satu risiko utama pada tahap ini adalah tingginya potensi kontaminasi jamur, terutama apabila proses pengeringan tidak dilakukan secara tepat. Oleh karena itu, penanganan pascapanen, terutama pengeringan benih jagung, harus dilakukan dengan benar untuk menghindari risiko kerusakan.
“Pengeringan benih jagung merupakan langkah penting untuk menurunkan kadar air hingga kisaran ideal 9–11%. Dengan kadar air yang sesuai, benih menjadi lebih awet, tidak mudah berjamur, serta tetap terjaga kualitasnya untuk ditanam kembali,” jelas Agus Fatony Tohari di sela kegiatan pendampingan.
Metode tradisional masih banyak diterapkan petani karena relatif mudah dan hemat biaya. Namun, petani tetap perlu memperhatikan aspek kebersihan, sirkulasi udara, serta perlindungan dari hujan untuk mencegah pertumbuhan jamur yang dapat menurunkan mutu benih.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa swasembada jagung bukan sekadar soal peningkatan produksi, tetapi juga bagian dari strategi negara dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi nasional.
“Swasembada jagung adalah strategi negara untuk mencegah kemiskinan, pengangguran, dan kejahatan sejak dari hulu. Hasilnya sudah terlihat nyata,” ujarnya.
Mentan Amran juga menambahkan, kebijakan percepatan tanam dan penguatan produksi jagung menunjukkan capaian signifikan.
“Hasilnya luar biasa. Bapak Presiden memberikan apresiasi. Produksi jagung meningkat hingga 20 persen pada semester pertama 2025, dengan total produksi Januari–Desember mencapai 16,11 juta ton,” kata Andi Amran Sulaiman.
Dengan tren produksi yang terus menguat pada awal 2026, pemerintah mulai menyiapkan langkah strategis, termasuk penguatan serapan oleh Bulog dan pembukaan peluang ekspor. Jagung diposisikan sebagai instrumen penting dalam peningkatan kesejahteraan petani sekaligus menjaga stabilitas pangan nasional.
Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa peran penyuluh sangat vital.
“Penyuluh merupakan ujung tombak pembangunan pertanian. Pendampingan teknis yang tepat akan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian petani,” ujarnya.
Melalui sinergi antara petani, penyuluh, dan pemerintah, diharapkan praktik budidaya serta penanganan pascapanen jagung semakin baik, sehingga target swasembada pangan dapat tercapai secara berkelanjutan sekaligus memperkokoh ketahanan pangan nasional.


