I Putu Gede Arya Pramana, S.P
Di tengah dinamika iklim dan tantangan ketahanan pangan global, inovasi varietas padi menjadi garda terdepan dalam kebijakan pertanian modern di Indonesia. Bukti ilmiah terbaru mengenai pentingnya inovasi ini datang dari sebuah kegiatan pengenalan varietas padi inbrida tahun 2024 yang dilaksanakan di Subak Gaga, Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Lokasi ini secara ideal mewakili karakteristik pertanian lahan basah Bali yang dikelola melalui manajemen pengairan tradisional subak yang intensif.
Melalui pendekatan evaluasi agronomi deskriptif-komparatif oleh Pengawas Benih Tanaman (PBT), lima varietas padi inbrida unggul diuji kinerjanya secara serempak, yakni Pak Tiwi-2, Inpari 32 HDB, Inpari 48 Blas, Inpari 50 Marem, dan M70D. Hasil pengujian fisik di lapangan menggunakan metode sampling ubinan memperlihatkan diferensiasi klaster produktivitas yang sangat tegas. Varietas Pak Tiwi-2 tampil sebagai primadona dengan mencatatkan produktivitas Gabah Kering Panen (GKP) tertinggi, menembus angka 7.664,0 kg/ha atau setara 7,66 ton/ha. Posisi tersebut disusul sangat ketat oleh varietas Inpari 48 Blas yang mencatatkan produktivitas sebesar 7.555,2 kg/ha atau 7,56 ton/ha. Sementara itu, tiga varietas lainnya, yakni Inpari 32 HDB, M70D, dan Inpari 50 Marem, menunjukkan performa yang cenderung homogen dan stabil, berada pada kisaran 6,81 hingga 6,84 ton/ha.
Apa yang membuat Pak Tiwi-2 dan Inpari 48 Blas mampu menembus angka produktivitas di atas 7,5 ton/ha, melampaui rata-rata varietas yang biasa digunakan petani setempat? Jawabannya dapat dibedah melalui konsep Total Factor Productivity (TFP), sebuah indikator ekonomi-agronomi yang mengukur tingkat efisiensi penggunaan seluruh faktor produksi untuk menghasilkan panen.
Tingginya angka produktivitas kedua varietas tersebut merupakan indikasi kuat atas konvergensi atau interaksi sempurna antara keunggulan mutu genetik benih dengan faktor lingkungan makro yang optimal. Subak Gaga memiliki sistem tata kelola air komunal yang konstan dan teratur. Jaminan pasokan air di lahan beririgasi ideal ini bertindak sebagai penentu utama yang memaksimalkan ekspresi genetik varietas padi modern. Keberhasilan interaksi ekosistem beririgasi ini sejalan dengan temuan studi pada pertanaman di negara bagian Punjab dan Andhra Pradesh, India.
Sejarah mencatat, implementasi awal teknologi Revolusi Hijau kerap dikritik karena varietas modern generasi pertama memiliki kerentanan tinggi terhadap cekaman lingkungan, hama, dan patogen. Hal tersebut sering kali berujung pada risiko kegagalan dan ketidakstabilan hasil panen. Namun, riset faktual jangka panjang membuktikan bahwa adopsi varietas modern justru memicu kestabilan produktivitas asalkan didukung oleh ketersediaan irigasi dan pelepasan varietas yang memiliki sifat ketahanan yang diperbaiki (improved traits).
Fenomena ini tergambar secara nyata pada varietas Inpari 48 Blas di Gianyar. Benih varietas ini diproduksi secara spesifik dengan membawa improved trait berupa ketahanan genetik tingkat tinggi terhadap ras jamur Pyricularia oryzae, patogen mematikan penyebab penyakit blas. Dengan kemampuan mengeliminasi risiko biotik infeksi jamur blas di lapangan, indeks stabilitas hasil panen varietas ini terjaga secara optimal dan menekan volatilitas panen. Pola penekanan risiko ini sangat selaras dengan sejarah penurunan indeks instabilitas panen di wilayah Punjab, dari 14,3% turun ke 6,8%, berkat peremajaan varietas yang memiliki resistensi biologi kuat.
Evaluasi di Subak Gaga ini menegaskan bahwa tugas PBT tidak sebatas sertifikasi benih, melainkan mencakup pengawasan insitu untuk memastikan adaptabilitas varietas unggul baru di tingkat usaha tani. Berdasarkan temuan itu, rekomendasi teknis yang disodorkan adalah perlunya perluasan distribusi benih unggul bersertifikat secara regional, khususnya untuk kedua varietas dominan, yakni Pak Tiwi-2 dan Inpari 48 Blas, guna mendorong produktivitas.
Pada akhirnya, pemilihan dan rekomendasi benih bermutu yang adaptif secara regional adalah langkah taktis dan mendesak. Bukan sekadar urusan mencapai rekor tonase gabah, melainkan strategi nyata dari akar rumput untuk memastikan ketahanan dan stabilisasi pangan di tengah ancaman krisis iklim global.
Sumber Referensi: UPTD Balai Pengawasan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali. 2024. Laporan Kegiatan Pengenalan Varietas Padi Inbrida Tahun 2024 di Subak Gaga, Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Janaiah, A., Hossain, M., & Otsuka, K. 2006. Productivity Impact of the Modern Varieties of Rice in India. The Developing Economies, XLIV-2 (June 2006): 190–207.
Editor: Saptini Mukti Rahajeng Sumber Gambar : https://unsplash.com/s/photos/rice-seeds


