MALANG – Dalam rangka mendukung pengembangan keterampilan dan wawasan kewirausahaan bagi peserta Program P40 Pensiunpreneurship Bank Kaltimtara Tahun 2026, sebanyak 15 peserta bersama tim pendamping dari PT Leadership Nasional Asia (LNA) melaksanakan kunjungan edukasi ke Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan pada Selasa (23/6). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran berbasis praktik yang berorientasi pada pengembangan usaha pertanian bernilai tambah.
Kunjungan ini diselenggarakan sebagai sarana untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam mengenal teknologi pengolahan hasil pertanian, khususnya komoditas akar rimpang yang memiliki potensi ekonomi cukup tinggi. Yang diharapkan memperoleh inspirasi usaha yang dapat dikembangkan pasca masa produktif kerja.
Kedatangan rombongan disambut oleh Ketua Tim Kerja Sertifikasi Profesi, Layanan Konsultasi dan Pengelolaan Inkubator Agribisnis BBPP Ketindan, yang mewakili Kepala BBPP Ketindan BBPP dan kemudian diarahkan menuju fasilitas pelatihan pengolahan hasil pertanian. Pada kesempatan tersebut, peserta memperoleh pengenalan mengenai pentingnya hilirisasi produk pertanian untuk meningkatkan nilai tambah, daya simpan, serta peluang pasar produk olahan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa sektor pertanian saat ini tidak hanya berperan sebagai penyangga ketahanan pangan, tetapi juga menjadi salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Menurutnya, pertanian memiliki potensi besar untuk menciptakan lapangan kerja, membuka peluang usaha, dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pengembangan sumber daya manusia yang kompeten dan inovatif menjadi faktor penting dalam mendorong kemajuan sektor pertanian.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa pembangunan pertanian harus didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten, produktif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Peningkatan kapasitas melalui pelatihan, pendampingan, dan penguatan inovasi menjadi kunci dalam menciptakan pelaku-pelaku agribisnis yang mampu memberikan nilai tambah serta mendukung terwujudnya swasembada pangan yang berkelanjutan.
Materi utama dalam kunjungan edukasi ini adalah Pelatihan Praktik Pengolahan Akar Rimpang yang disampaikan oleh Diana Triswaningsih, Widyaiswara BBPP Ketindan. Dalam penyampaiannya, ia menjelaskan bahwa akar rimpang merupakan salah satu komoditas yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan maupun kesehatan melalui proses pengolahan yang tepat.
Pada sesi praktik, peserta dikenalkan pada teknik pembuatan simplisia dari berbagai jenis rimpang. Simplisia merupakan bahan alam yang telah mengalami proses pengolahan sederhana seperti pencucian, pengirisan, dan pengeringan sehingga siap digunakan sebagai bahan baku produk herbal atau olahan lanjutan. Jenis rimpang yang diperkenalkan antara lain jahe, kunyit, temulawak, dan kencur.
Peserta mempelajari tahapan produksi simplisia mulai dari proses sortasi bahan baku, pencucian untuk menjaga kebersihan dan mutu, pengirisan dengan ukuran seragam, hingga teknik pengeringan yang tepat agar kandungan aktif dalam rimpang tetap terjaga. Penjelasan juga mencakup pentingnya pengemasan dan penyimpanan untuk mempertahankan kualitas produk.
Diana Triswaningsih menyampaikan bahwa pengolahan sederhana seperti pembuatan simplisia dapat menjadi alternatif usaha yang relatif mudah diterapkan dengan investasi yang terjangkau. Melalui penerapan prinsip pengolahan yang baik, produk rimpang dapat memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan penjualan dalam bentuk segar.
Pihak penyelenggara berharap kegiatan kunjungan edukasi ini dapat memberikan manfaat nyata bagi peserta Program P40 Pensiunpreneurship, khususnya dalam membuka wawasan mengenai peluang agribisnis berbasis hasil pertanian dan mendorong lahirnya usaha-usaha baru yang inovatif dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara dunia pelatihan dan pengembangan kewirausahaan, BBPP Ketindan terus berkomitmen menjadi pusat pembelajaran yang menghadirkan praktik-praktik nyata dalam pengolahan hasil pertanian. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi peserta untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal yang mampu memberikan nilai tambah ekonomi di masa mendatang. Rivana Agustin/ Diana Triswaningsih*


