Pengembangan agribisnis kopi semakin menunjukkan perannya dalam mendukung pembangunan pertanian Indonesia semakin kuat. Strategi hilirisasi kopi menjadi langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah kopi di era global dan persaingan pasar yang semakin ketat.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat kopi nasional hingga tahun 2026 melalui strategi peningkatan produktivitas, mutu, nilai tambah berbasis hilirisasi. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan daya saing kopi Indonesia di pasar Internasional dan meningkatkan kesejahteraan petani kopi.
“Pengembangan kopi nasional harus memberikan nilai tambah yang nyata bagi pekebun. Kebijakan ke depan difokuskan pada peningkatan produktivitas kebun rakyat, peremajaan tanaman, penguatan penanganan pascapanen, serta percepatan hilirisasi agar kopi Indonesia tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga dalam produk olahan bernilai tambah tinggi,” ujar Mentan Amran.
Menurut Mentan Amran, hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan posisi tawar kopi Indonesia di pasar global termasuk pengembangan industry roasting, produk kopi siap seduh, ekstrak kopi hingga produk turunan lainnya.
Secara terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Idha Widi Arsanti mengatakan, untuk mengembangkan usaha tani perlu ekosistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan terus mengembangkan sinergi dan kolaborasi dalam pengembangan agribisnis kopi salah satunya dengan berpartisipasi aktif dalam mendukung Program Diseminasi Gandrung Tirta yang diinisiasi oleh BIOPS Agrotekno, Agroniaga, Rise Social dan FAM Rural pada Rabu, (11/02/2026). Gandrung Tirta telah menyesaikan programnya dan berhasil membangkitkan agribisnis kopi robusta berkelanjutan di Desa Ketindan, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi bersama masyarakat, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Lawang, Kelompok tani Kopi, Karang Taruna, Ibu Rumah Tangga dan Kelompok PKK Desa.
Pada kesempatan itu, Gandrung Tirta juga memberikan apresiasi kepada petani, wanita dan pemuda penggerak melalui bantuan alsintan agar mereka lebih semangat mengembangkan agribsinis kopi pasca program ini usai. Selama kurun waktu 2024 – 2025, Gandrung Tirta telah mengembangkan model pengembangan agribisnis kopi berkelanjutan yang kontekstual. Di akhir programnya, Gandrung Tirta mampu menggerakkan agribisnis kopi di wilayah Desa Ketindan dan menghasilkan aneka produk seperti pupuk organik, kopi green bean, fine robusta, roasted bean, ground coffee, kopi bubuk, minuman kombucha dan kerajinan tangan berbahan kulit kopi.
Dampak yang diharapkan melalui program ini adalah dapat membangun ekosistem agribisnis kopi yang berkelanjutan dan mensejahterakan keluarga petani dan meningkatkan minat pemuda untuk bekerja di sektor pertanian Setelah program berakhir pada tahun 2026 ini, pihaknya akan melakukan monitoring, keberlanjutan dan scale up.
Kepala Desa Ketindan dalam sambutannya menyampaikan sangat bersyukur bahwa program ini ada di Desa Ketindan. “Pemerintah Desa sangat bersyukur dan berterima kasih terhadap keberadaan Gandrung Tirta, Kami berharap ada pendampingan ke depan kepada Kelompoktani, Kelompok PKK Desa dan Pemuda Tani di desa kami”. Harapannya, agribisnis kopi lebih maju lagi dan menghasilkan produk yang diakui pasar, imbuhnya.
Pada kesempatan lain, Perwakilan Bupati Malang, Budi Widodo dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang mengapresiasi Gandrung Tirta dan stakeholder lainnya yang telah membangun pertanian di Kab.Malang. Ia berharap kopi ini dapat menghasilkan aneka olahan kopi dan dapat dipromosikan melalui media sosial dan even yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Malang. Kopi yang dihasilkan ini dapat meningkatkan nilai tambah dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kab. Malang.


