Malang – Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Pertanian, membagikan strategi sukses membangun jejaring dan kemitraan usaha produk pertanian presisi kepada petani milenial melalui Pelatihan Pertanian Presisi Angkatan II. Kegiatan berlangsung di UPT Pelatihan Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Rabu (13/5/2026).
Pelatihan yang diikuti 30 peserta dari 20 kabupaten/kota di Jawa Timur ini secara khusus membahas penguatan jejaring kerja dan kemitraan dalam pengembangan pertanian presisi sebagai salah satu faktor penting dalam mendukung keberlanjutan usaha pertanian modern.
Penguatan jejaring dan kemitraan dinilai menjadi aspek strategis karena penerapan teknologi pertanian yang canggih tidak akan berkembang optimal tanpa dukungan akses pasar, kolaborasi usaha, serta hubungan bisnis yang kuat.
Dalam pelatihan tersebut dijelaskan bahwa kemitraan dan jejaring usaha memiliki perbedaan mendasar. Kemitraan merupakan bentuk kerja sama formal yang diikat melalui perjanjian atau kontrak terkait hak dan kewajiban masing-masing pihak. Sementara itu, jejaring usaha bersifat lebih luas sebagai hubungan antar pelaku usaha atau organisasi untuk saling mendukung, berbagi informasi, sumber daya, hingga memperluas akses pasar.
Widyaiswara BBPP Ketindan, Nining Hariyani, menjelaskan bahwa pelaku utama maupun pelaku usaha pertanian masih menghadapi berbagai tantangan dalam membangun jejaring usaha. Tantangan tersebut meliputi keterbatasan relasi, kemampuan komunikasi, rendahnya kepercayaan mitra, keterbatasan informasi dan teknologi, persaingan usaha, minimnya keterlibatan dalam komunitas bisnis, keterbatasan modal, hingga hambatan akses pasar.
“Salah satu pola kemitraan yang banyak diterapkan di sektor pertanian adalah sistem kemitraan plasma antara perusahaan dan petani. Model ini dapat memperkuat keberlanjutan usaha jika dijalankan secara sehat dan saling menguntungkan,” jelas Nining.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, sebelumnya juga menyoroti potensi terganggunya sistem kemitraan di sektor sawit akibat pembangunan pabrik pengolahan tanpa kebun inti maupun pembinaan petani plasma. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mengganggu ekosistem kemitraan karena hasil panen petani yang sebelumnya dibina perusahaan tertentu dapat beralih ke pabrik lain tanpa pola pembinaan yang jelas.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Mentan Amran menyebut telah berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian terkait mekanisme penerbitan izin pembangunan pabrik kelapa sawit agar tetap mendukung keberlanjutan kemitraan petani.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa pembangunan sektor pertanian membutuhkan pendekatan berbasis data, kolaborasi lintas sektor, serta sinergi dengan visi Presiden Republik Indonesia dalam mewujudkan swasembada pangan, hilirisasi pertanian, dan program makan bergizi gratis.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu memperkuat jejaring usaha dan membangun kemitraan strategis guna meningkatkan daya saing usaha pertanian presisi di daerah masing-masing.
Salah satu peserta pelatihan asal Madiun, Huzain Fata Mizani, mengaku memperoleh banyak wawasan baru yang bermanfaat. Ia berkomitmen menjalankan rencana tindak lanjut yang telah disusun serta membagikan ilmu yang diperoleh kepada petani milenial di wilayahnya. Nining Hariyani
Diterbitkan di megapolitannews.com


