Malang – Regenerasi petani menjadi salah satu tantangan utama pembangunan pertanian nasional di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan transformasi sistem usaha tani modern. Kehadiran generasi muda yang adaptif, inovatif, dan melek digital dinilai menjadi kunci dalam mewujudkan sektor pertanian yang maju, mandiri, modern, dan berdaya saing.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pertanian, Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan berkontribusi dalam Pelatihan Pertanian Presisi Berbasis Digital yang diselenggarakan UPT Pelatihan Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur Senin (18/05/2026).
Kegiatan tersebut diikuti petani muda dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur dengan tujuan meningkatkan kemampuan teknis, manajerial, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan usaha tani. Pada kesempatan itu, widyaiswara BBPP Ketindan, Herdinastiti, hadir sebagai narasumber dalam sejumlah materi strategis terkait pengembangan pertanian berbasis teknologi digital.
Salah satu materi yang diberikan yakni Pencatatan Usaha dan Analisis Kelayakan Agribisnis pada Pertanian Presisi Berbasis Digital. Materi tersebut menekankan pentingnya pencatatan keuangan usaha tani secara rutin sebagai dasar pengambilan keputusan usaha yang lebih tepat, terukur, dan berkelanjutan.
Melalui sesi diskusi, terungkap masih terdapat peserta yang menghadapi kendala dalam membangun kebiasaan pencatatan keuangan harian pada usaha pertanian yang dijalankan. Menanggapi hal tersebut, Herdinastiti mendorong petani muda untuk mulai memanfaatkan aplikasi atau platform pembukuan digital yang kini semakin mudah diakses.
“Pemanfaatan aplikasi pembukuan digital dapat membantu petani muda melakukan pencatatan usaha secara lebih praktis, teratur, dan akurat sehingga kondisi keuangan usaha dapat dipantau dengan baik,” ujar Herdinastiti.
Menurutnya, pencatatan keuangan yang tertib menjadi fondasi penting dalam melakukan analisis kelayakan usaha secara presisi. Melalui analisis tersebut, petani dapat mengetahui kondisi riil usahanya, mulai dari tingkat keuntungan, potensi kerugian, hingga kemampuan finansial untuk pengembangan usaha di masa mendatang.
Selain mendukung pengelolaan usaha yang lebih profesional, kemampuan menyusun laporan keuangan dan analisis usaha juga menjadi nilai tambah bagi petani muda dalam mengakses permodalan, memperoleh dukungan pembiayaan, maupun menyusun proposal usaha kepada lembaga keuangan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam mendorong transformasi pertanian nasional melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi.
“Kalau kita ingin berdaulat pangan, maka kampus dan anak muda harus turun langsung. Jadilah pelopor, bukan penonton,” tegas Amran.
Menurutnya, pertanian masa depan harus berkembang menjadi sektor yang modern, produktif, menguntungkan, serta mampu menarik minat generasi muda agar regenerasi petani terus berlangsung dan ketahanan pangan nasional semakin kuat.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa peningkatan kompetensi SDM pertanian berbasis teknologi menjadi prioritas dalam menghadapi tantangan pertanian modern.
“Pelatihan berbasis teknologi dan digitalisasi harus terus diperkuat untuk mencetak SDM pertanian yang profesional, adaptif, dan mampu bersaing di era modern,” ujar Santi.
Melalui pelatihan ini, diharapkan petani muda mampu meningkatkan kemampuan manajerial, memperkuat literasi digital, serta mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dalam usaha pertanian. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan usaha tani yang lebih efisien, produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan sekaligus mendukung percepatan transformasi menuju pertanian modern di Indonesia. Herdinastiti
Diterbitkan di megapolitannews.com


