Telp/Fax 0341-927123 / 429725

|

Dorong Produktivitas Padi, UPT Pelatihan Kementan Intensifkan Pengawalan PM-AAS di Kota Malang

Najia
Sep 01, 2026

Kementerian Pertanian terus memperkuat transformasi pertanian melalui penerapan sistem budidaya yang modern, produktif, dan efisien. Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui pengawalan implementasi Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kota Malang, Jawa Timur.

Pengawalan dilakukan melalui kolaborasi Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, penyuluh pertanian lapangan (PPL), Babinsa, dan kelompok tani melalui kegiatan Monitoring Pertanaman dan Koordinasi Pemantapan Kegiatan PM-AAS Mendukung Program Strategis Kementerian Pertanian, Senin (31/8/2026), di Kelompok Tani (Poktan) Tani Sejahtera, Kelurahan Arjowinangun, Kota Malang.

Monitoring diawali dengan peninjauan pertanaman PM-AAS pada lahan demplot seluas 0,5 hektare. Pertanaman menggunakan varietas Inpari 47 dan saat monitoring telah memasuki umur 21 hari setelah tanam (HST).

Tim melakukan pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman, kondisi lahan dan ketersediaan air, keseragaman pertanaman, serta potensi serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Hasil pengamatan kemudian menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah pemeliharaan dan tindak lanjut bersama petani serta penyuluh.

Penerapan PM-AAS di Kota Malang saat ini telah terealisasi pada lima lokasi dengan total luasan 1,6 hektare. Lokasi tersebut berada di Kelurahan Buring seluas 0,1 hektare, Kelurahan Arjowinangun 0,5 hektare, Kelurahan Bandungrejosari 0,4 hektare, Kelurahan Tunggulwulung 0,5 hektare, dan Kelurahan Pandanwangi 0,1 hektare.

Usai monitoring, kegiatan dilanjutkan dengan koordinasi dan diskusi bersama petani. Saptini Mukti Rahajeng dari BBPP Ketindan bersama PPL memberikan penguatan teknis mengenai pengelolaan pertanaman, pemeliharaan tanaman, efisiensi penggunaan input, serta langkah antisipasi terhadap berbagai kendala yang dapat memengaruhi produktivitas.

PM-AAS merupakan pendekatan budidaya yang mengintegrasikan pengelolaan tanaman, efisiensi sumber daya, mekanisasi, intensifikasi produksi, dan pemanfaatan teknologi adaptif. Penerapannya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan PM-AAS menjadi salah satu strategi Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produktivitas padi melalui intensifikasi lahan yang telah tersedia.

“Setelah dua tahun kami melakukan penelitian dan pengujian di lapangan, metode ini mampu meningkatkan produksi secara signifikan. Targetnya minimal 10 ton per hektare, bahkan hasil uji lapangan sudah mencapai 12,4 ton per hektare,” ujar Mentan Amran.

Menurutnya, modernisasi pertanian tidak semata-mata mengejar peningkatan produksi, tetapi juga harus memberikan efisiensi dan meningkatkan pendapatan petani. Karena itu, penerapan inovasi dan teknologi perlu dikawal secara konsisten agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh petani.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan pentingnya peran penyuluh dalam menerjemahkan kebijakan dan inovasi pertanian menjadi praktik yang dapat diterapkan petani.

“Penyuluh memiliki peran vital dalam memastikan setiap program pembangunan pertanian berjalan efektif melalui pendampingan intensif kepada petani serta penguatan kelembagaan pertanian di lapangan,” kata Santi.

Ia mendorong penyuluh untuk terus mengoptimalkan pendampingan terhadap program strategis Kementan. Menurutnya, penyuluh memiliki pemahaman langsung mengenai kondisi petani dan karakteristik wilayah sehingga pengawalan program perlu dilakukan secara adaptif sesuai kebutuhan lapangan.

Pengawalan PM-AAS di Kota Malang juga diperkuat melalui keterlibatan Babinsa Kelurahan Arjowinangun. Sinergi lintas sektor tersebut menjadi bagian dari kolaborasi kewilayahan untuk menjaga komunikasi, mendukung kelancaran kegiatan pertanian, dan memberikan motivasi kepada petani.

Bagi BBPP Ketindan, kegiatan monitoring tidak hanya menjadi bagian dari pengawalan program, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi Widyaiswara dalam memastikan inovasi pertanian dapat diterjemahkan menjadi praktik budidaya yang aplikatif. Pendampingan juga diarahkan untuk meningkatkan pemahaman petani terhadap efisiensi usaha tani dan penguatan kelembagaan.

Dengan penerapan PM-AAS seluas 1,6 hektare di lima lokasi, pengawalan akan terus dilakukan pada setiap tahapan pertumbuhan tanaman hingga evaluasi hasil. Upaya tersebut diharapkan menghasilkan praktik baik yang dapat dikembangkan dan direplikasi untuk memperkuat penerapan pertanian modern, termasuk di kawasan perkotaan.

Similar Post