Telp/Fax 0341-927123 / 429725

|

Ubah Limbah Jadi Bernilai, Siswa SMK Pertanian Praktik Budidaya Jagung Manis Menggunakan Janggel

Najia
Aug 28, 2026

Limbah pertanian tidak selalu berakhir sebagai sisa produksi. Dengan pengolahan dan pemanfaatan yang tepat, limbah dapat kembali menjadi bagian dari proses produksi dan memberikan nilai tambah bagi usaha tani.

Prinsip inilah yang dikenalkan kepada siswa SMK Pembangunan Pertanian Kupang melalui praktik budidaya jagung manis dengan memanfaatkan janggel (tongkol) jagung sebagai salah satu komponen media tanam di lahan praktik Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Kamis (27/8/2026).

Praktik tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman bagi siswa untuk mengenal penerapan pertanian yang lebih ramah lingkungan sekaligus mengembangkan kreativitas dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar.

Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar mengenai teknik budidaya jagung manis, tetapi juga diajak melihat persoalan limbah pertanian dari perspektif yang berbeda. Janggel yang selama ini kerap dipandang sebagai sisa produksi dapat diolah menjadi bahan organik dan dimanfaatkan sebagai salah satu komponen media tanam.

Pemanfaatan tersebut sejalan dengan semangat pengembangan pertanian yang efisien dan berkelanjutan. Janggel yang telah dicacah atau melalui proses dekomposisi dapat membantu memperbaiki sifat fisik media, termasuk porositas dan aerasi, apabila digunakan dengan komposisi yang tepat serta dikombinasikan dengan bahan media lainnya.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, terus mendorong transformasi pertanian melalui penerapan teknologi dan inovasi yang mampu meningkatkan efisiensi serta memberikan nilai tambah bagi petani. Penguatan praktik pertanian modern juga perlu dibarengi dengan kemampuan sumber daya manusia dalam mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang tersedia di lapangan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya penyiapan generasi muda pertanian yang memiliki kompetensi, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu melahirkan inovasi sesuai kebutuhan di lapangan.

Pembelajaran yang mengintegrasikan teori dan praktik menjadi salah satu pendekatan penting dalam menyiapkan generasi muda pertanian tersebut. Melalui praktik langsung, siswa memiliki kesempatan untuk mengamati proses budidaya sekaligus memahami konsekuensi dari setiap perlakuan yang diberikan terhadap tanaman dan media tanam.

Salah satu siswa, Revi, mengaku memperoleh pengalaman baru dari pemanfaatan janggel jagung dalam praktik tersebut.

“Saya baru mengetahui bahwa janggel jagung yang biasanya dianggap limbah ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan media tanam. Kegiatan ini membuat saya lebih memahami bahwa dalam pertanian kita harus kreatif memanfaatkan bahan yang ada di sekitar,” ujarnya.

Menurut Revi, praktik secara langsung di lahan membuat materi pembelajaran lebih mudah dipahami. Ia berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama praktik di BBPP Ketindan dapat diterapkan kembali di sekolah maupun di lingkungan sekitar.

Pemanfaatan janggel jagung juga memberikan pembelajaran mengenai pentingnya pengelolaan limbah sejak dari sumbernya. Bahan yang tersedia secara lokal dapat dikembangkan menjadi bagian dari input budidaya sehingga berpotensi mengurangi limbah sekaligus memberikan nilai guna baru.

Namun, penggunaan janggel perlu dilakukan secara tepat. Janggel segar tidak ideal digunakan sebagai media tunggal karena proses penguraiannya masih berlangsung. Bahan tersebut sebaiknya dicacah dan/atau dikomposkan terlebih dahulu serta dikombinasikan dengan tanah, kompos, pupuk organik, atau bahan media lainnya sesuai kebutuhan tanaman.

Pendekatan tersebut sekaligus memperkenalkan kepada siswa prinsip sederhana pertanian sirkular, yaitu mengupayakan agar sumber daya yang dihasilkan dalam sistem pertanian dapat dimanfaatkan kembali sehingga tidak berhenti menjadi limbah.

Bagi siswa SMK Pembangunan Pertanian (SMK PP) Kupang, pengalaman tersebut menjadi ruang untuk mengembangkan keterampilan teknis sekaligus cara berpikir inovatif. Mereka tidak hanya dituntut mampu melakukan budidaya, tetapi juga mampu menemukan peluang pemanfaatan sumber daya lokal untuk menjawab tantangan pertanian.

Similar Post