BBPP Ketindan Siapkan SDM Pengembangan Kopi Arabika

Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang penting di Indonesia karena berperan sebagai penghasil devisa negara dan banyak disukai para penikmat kopi dari kalangan tua dan muda. Selain itu, adanya perkebunan rakyat yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia perlu dikembangkan lebh lanjut agar dapat meningkatkan produksi dan mutu kopi nasional.

Sebagai negara produsen utama ketiga setelah Brazil dan Vietnam, Pemerintah Indonesia terus berbenah melalui program pengembangan kopi. Dalam rangka mendukung upaya tersebut, Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan berperan aktif untuk menyiapkan sumberdaya manusia pertanian yang kompeten melalui diklat tematik kopi arabika yang dilaksanakan di Balai Latihan Kerja Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah mulai tanggal 17 – 20 Oktober 2017. Diklat yang diikuti 60 orang peserta tersebut terdiri dari unsur penyuluh pertanian, pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT), Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) dan petani penerima manfaat peremajaan kopi arabika dan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan yang diwakili oleh Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Drs. Hidayat Sayoko. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pesan dan motivasi penting kepada seluruh peserta bahwa mereka adalah petani pilihan dari 15 kecamatan di Kabupaten Wonosobo, sehingga setelah mengikuti diklat diharapkan mereka mampu menunjukkan kredibilitas dan kompetensinya di bidang perkopian. Sasaran peserta diklat dan luas pengembangan kopi difokuskan pada cluster arabika yang berada di  7 Kelompoktani, 7 Desa dan 5 Kecamatan karena disesuaikan dengan program APBNP 2017 dan potensi wilayah sasaran untuk pengembangan kopi arabika. Adapun peserta diklat berasal dari:

  1. Kelompoktani Ngudi Tuwuh, Desa Slukatan, Kecamatan Mojotengah (20 Ha);
  2. Kelompoktani Murih Rahayu, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar (10 Ha);
  3. Kelompoktani Bina Sejahtera, Desa Tieng, Kecamatan Kejajar (10 Ha);
  4. Kelompoktani Margo Mulyo, Desa Lamuk, Kecamatan Kalikajar (10 Ha);
  5. Kelompoktani Tani Maju, Desa Butuh Kidul, Kecamatan Kalikajar (10 Ha);
  6. Kelompok Wanita Tani Srikandi, Desa Wonoroto, Kecamatan Watumalang (10 Ha);
  7. Kelompoktani Sindoro Makmur, Desa Reco Kecamatan Kertek (10 Ha).  

 Terdapat 4 strategi pengembangan kopi yang harus dilakukan di Kabupaten Wonosobo menurut Drs. Hidayat Sayoko yaitu intensifikasi (aplikasi teknologi budidaya yang baik), diversifikasi (penganekaragaman tanaman dalam areal tanaman kopi), rehabilitasi (peremajaan tanaman kopi) dan ekstensifikasi (perluasan areal kopi), sehingga diharapkan produksi dan mutu kopi semakin meningkat. Dirinya juga menghimbau kepada seluruh komponen baik penyuluh pertanian dan petani untuk bersama-sama mengawal dan mendampingi suksesnya pengembangan kopi arabika melalui bantuan bibit kopi siap tanam dan pupuk organik yang direncanakan akan didrop pada bulan November 2017. Indikator keberhasilan pada kegiatan yaitu pada jumlah bibit yang ditanam dan jumlah bibit yang ditanam tumbuh sehat. Oleh karena itu persiapan lubang tanam harus segera dilakukan. Beliau juga menekankan bila terdapat bibit yang kurang memenuhi persyaratan (rusak/patah) harus segera dilaporkan dan dibuatkan berita acara ke Dinas Pangan, Pertanian dan Perkebunan.

Penyuluh pertanian dan petani tidak sendirian dalam kegiatan pengawalan dan pendampingan di lapangan, imbuhnya. mahasiswa juga dilibatkan dalam kegiatan ini, dimana tiap kelompoktani akan dibantu 2 mahasiswa dari Universitas Negeri Solo (UNS) dan Universitas Tidar Magelang. Mereka akan membantu melakukan persiapan lubang tanam dan penataan tanaman dengan sistem lorong, yaitu integrasi tanaman sayuran/pangan pada areal kopi. Melalui terobosan tersebut diharapkan komoditas kopi akan semakin berkembang dan meningkatkan kesejahteraan petani, tambahnya.

Bagikan Artikel :