DIKLAT TEKNIS TEMATIK 2017 MENJAWAB TANTANGAN KETAHANAN PANGAN MELALUI BANTUAN BENIH

Program pemerintah Indonesia untuk menyediakan pangan sehat dalam jumlah, mutu dan keberlangsungan/ keterlanjutan merupakan salah satu target dari ketahanan pangan yang diwujudkan dengan strategi peningkatan produksi dan produktivitas yang dikenal sebagai swasembada. Berbagai komoditas pertanian yang sedang dan akan selalu menjadi kebutuhan masyarakat serta ditargetkan bisa swasembada adalah padi, jagung, kedelai, bawang putih, bawang merah, cabai, mangga, jeruk, kopi, kelapa, kakao serta tebu. Tentu durasi waktu dari pencapaian program tersebut berbeda-beda sesuai dengan skala prioritas yang telah dibuat oleh pemerintah cq Kementerian Pertanian.

 Sebagaimana diketahui bahwa program peningkatan produksi dan produktivitas komoditas secara individu tidak akan mampu menjadi penggerak agar ketahanan pangan tercapai, masih harus didampingi dengan strategi peningkatan daya saing produk serta tata niaga yang efisien. Guna mewujudkan strategi tersebut beberapa program aksi telah direkomendasikan seperti manajemen pola tanam, produksi di luar musim, pengembangan sentra komoditas di luar Jawa, penyediaan benih unggul spesifik wilayah, pengelolaan OPT ramah lingkungan, penerapan GAP, penguatan kapasitas/ kompetensi petugas dan petani, peningkatan sarana dan prasarana, penerapan GHP dan GMP, melakukan promosi produk olahan, melakukan sinergi rantai pasok dan distribusi, mengaktivkan pasar alternatif, menguatkan kelembagaan petani, menguatkan sistem informasi serta membuat regulasi penentuan kebijakan harga melalui harga eceran tertinggi misalnya . Program – program aksi tersebut secara simultan dan sinergi akan saling menguatkan agar swasembada dapat tercapai sesuai dengan durasi waktu yang telah ditetapkan.

Salah satu program aksi yang pada saat ini menjadi sorotan dan perhatian banyak pihak adalah  benih/ bibit unggul yang mampu meningkatkan produksi secara maksimal . Kenyataannya di lapangan belum banyak petani selaku produsen dari berbagai komoditas di atas yang menggunakan benih/bibit bermutu serta bersertifikat untuk berusaha tani. Menyadari kesenjangan antara target produksi dan kondisi riil di lapangan, maka pada tahun 2017 Pemerintah cq Kementerian Pertanian melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan ( APBNP) menggelontorkan bantuan benih kepada petani / kelompok tani / gabungan kelompok tani sesuai dengan usulan yang telah disampaikan oleh Dinas Pertanian Kabupaten sebagai lembaga eksekutif di wilayah. Program bantuan benih/ bibit tersebut dikemas secara terpadu  mulai dari hulu sampai hilir seperti pengawalan benih di lapangan, pemberdayaan petani penerima bantuan benih, pendampingan proses produksi dari benih yang diperbantukan ke petani, penyerapan hasil panen serta penetapan harga eceran tertinggi yang diharapkan dapat melindungi kepentingan petani dan menyediakan pangan bagi masyarakat pada waktu , harga , kualitas dan kuantitas yang tepat.

Khusus Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) melalui UPT di Balai Besar Pelatihan Pertanian ( BBPP ) Ketindan yang mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk meningkatkan kualitas / kompetensi pelaku usaha tani baik petugas maupun petani menerima amanah dari program aksi bantuan benih / bibit yang dikemas melalui diklat. Kegiatan di mulai dari penyelenggaraan Training of trainer ( TOT ) benih sebanyak 3 angkatan yang telah dilaksanakan tanggal 14-20 September 2017 dengan jumlah peserta masing-masing kelas 30 orang . Peserta terdiri atas unsur penyuluh pertanian, POPT, PBT , widyaiswara serta praktisi dari BPTP dari masing-masing Propinsi sesuai dengan wilayah kerja BBPP Ketindan yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Daerah Istimewa Yogjakarta, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Penekanan materi untuk kelas I adalah komoditas Kedelai, kelas II adalah hortikultura dan kelas III adalah perkebunan. Keluaran dari TOT  adalah bahan ajar untuk diklat teknis tematik yang akan segera dilaksanakan di bulan Oktober sampai Nopember 2017 serta pembentukan tim fasilitator yang akan mengajar di diklat teknis tematik.

Kegiatan selanjutnya adalah pelaksanaan Rapat Koordinasi per wilayah Propinsi untuk merancang pelaksanaan diklat teknis tematik. Rakor Jatim dilaksanakan tanggal 26-28 September 2017,  Rakor di Nusa Tenggara Barat tanggal 26-28 September 2017, Rakor Jateng tanggal 28-30 September 2017, Rakor di Nusa Tenggara Timur tanggal 4-6 Oktober 2017  dan Rakor di Bali dilaksanakan tanggal 5-7 Oktober 2017. Unsur peserta yang diundang pada kegiatan rapat koordinasi adalah penanggungjawab kegiatan tk kabupaten dalam hal ini diharapkan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten  atau Pejabat yang ditunjuk, pengelola keuangan dari kabupaten yang bersangkutan serta alumni TOT . Keluaran dari rakor adalah rancangan dan proses diklat baik secara teknis maupun keuangan tersamakan persepsi dan mekanismenya.

Bersamaan dengan kegiatan Rakor juga ada proses pertemuan untuk membahas Bimbingan Teknis  ( Bimtek) di 2 lokasi yaitu Nusa tenggara Barat dan Jawa Tengah. Bimtek di Nusa Tenggara Barat ditargetkan untuk dihadiri 552 orang yang dibagi dalam 2 angkatan , sedang di Jawa Tengah 279 orang untuk 1 angkatan. Waktu pelaksanaan Bimtek di Nusa Tenggara barat angkatan I tanggal 2-4 Oktober 2017 dan angkatan ke II tanggal 5-7 oktober 2017 sedangkan untuk Bimtek di Jawa Tengah dilaksanakan tanggal 11-13 Oktober 2017. Keluaran yang diharapkan dari pertemuan Bimtek adalah jadwal pendampingan oleh petugas baik penyuluh, mahasisiwa, POPT, PBT atau P4S terkait, terhadap para petani penerima  bantuan benih/ bibit agar proses produksi sesuai potensi dan spesifik lokasi dan akhirnya produksi serta produktivitasnya menjadi meningkat. Proses pendampingan mulai dilakukan ketika calon penerima sudah teridentifikasi sampai panen dari komoditas bantuan benih yang diterima.

Nah rangkaian selanjutnya adalah menguatkan kapasitas petani penerima bantuan benih melalui diklat teknis tematik yang telah terancang dari hasil Rakor di masing-masing Propinsi. Penetapan bahasan materi yang berbunyi tematik diarahkan kepada mateti spesifik yang menjadi kendala oleh petani di lokasi masing-masing, sehingga bisa terjadi dengan judul komoditas sama materi yang diberikan pada diklat teknis tematik berbeda sesuai dengan kondisi dan masalah riil di lapangan. Kegiatan diklat teknis tematik sendiri berjalan dalam kurun waktu 4 hari yang dimulai dari identifikasi masalah, merancang solusi pemecahan masalah serta teknik produksi sesuai masalah spesifik lapangan. Bulan Oktober 2017 sampai Nopember 2017 adalah waktu pelaksanaan diklat teknis tematik yang harus diselesaikan oleh BBPP Ketindan untuk 82 angkatan ( 2450 orang peserta) yang tersebar di 6 Propinsi wilayah kerja.

Guna lebih menguatkan dan mengantisipasi keberadaan benih yang bermutu dan tersertifikasi di masa depan  maka produsen benih/ bibit sebagai tenaga kerja pertanian harus disertifikasi. Untuk itu rangkaian selanjutnya dari program aksi tersebut adalah membantu melakukan sertifikasi tenaga produsen benih/bibit bagi petani yang selama ini telah berproduksi. Bulan Nopember 2017 menjadi waktu yang dipilih untuk melakukan sertifikasi benih bagi petani sebanyak 30 orang yang ditargetkan dapat memenuhi syarat dan kelak dapat bersaing di dunia global dalam memproduksi benih bermutu.

Bagikan Artikel :