Identifikasi dan Pengendalian Kepik Penghisap Buah (KPB) Kakao

1. Tingkat Serangan KPB (Helopeltis antonii).
Hama ini merupakan salah satu hama utama tanaman kakao di Indonesia menyerang buah dan tunas-tunas muda. Serangan pada buah muda  menyebabkan buah mati, sedangkan pada buah tua menyebabkan bentuk buah abnormal. Serangan pada buah dapat menurunkan daya hasil 42% (Wardoyo, 1988). Sedangkan serangan berat dan berulang-ulang pada pucuk tanaman dapat menekan produksi kakao 36-75% (Sulistyowati dan Sardjono, 1988). Selain kakao, hama ini dapat menyerang tanaman jambu mete, kina rambutan dan teh. Penyebaran hama meliputi Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Papua.

2. Biologi Helopeltis antonii.
Serangga bertubuh kecil ramping dengan tanda spesifik yaitu adanya tonjolan berbentuk jarum pada mesoskutelum. Species lain yang merusak kakao dan tanaman lainnya yaitu Helopeltis theivora.

Stadium Telur.
Telur diletakkan berkelompok 2-3 butir dalam jaringan tanaman yang lunak seperti bakal buah, tangkai buah, buah muda, ranting muda dan bagian sisi bawah tulang daun. Seekor kepik betina menghasilkan rata-rata 121 butir. Telur-telur tampak pada jaringan tanaman tersebut berupa munculnya lilin agak bengkok yang tidak sama panjangnya pada permukaan jaringan tanaman. Dalam waktu 6-8 hari telur menetas menjadi nimfa.

Stadium Nimfa.
Nimfa mengalami 5 kali ganti kulit selama periode nimfa 11-13 hari. Instar pertama berwarna coklat bening yang berubah coklat. Instar kedua, tubuh berwarna coklat muda, antena coklat tua. Instar ketiga, keempat dan kelima semakin jelas tonjolan pada thorax dan bakal sayapnya.

Stadium Dewasa.
Imago berukuran kecil, 6-7 mm. Abdomen berwarna hitam dan putih, sedangkan thorax berwarna jingga atau hitam. Kepala berwarna hitam. Pada setiap 30 ekor nimfa menghasilkan 24-29 serangga dewasa. Lama hidup serangga betina 10-42 hari dan jantan 8-52 hari.

 Hasil gambar untuk Kepik Helopeltis antonii dewasa       Hasil gambar untuk Kepik Helopeltis antonii dewasa
                       (a)                                                      (b)
Gambar 1. Kepik Helopeltis antonii dewasa (a) dan nimfa (b).

3. Gejala Serangan Helopeltis antonii.
Pucuk yang terserang terutama yang masih lunak dengan daun belum membuka, sehingga daun layu, gugur kemudian ranting layu mengering dan meranggas. Pada buah kakao, kepik menyukai buah muda dan buah mendekati matang. Buah yang terserang menunjukkan bekas tusukan berupa becak-becak cekung berwarna coklat-hitam, berukuran 2-3 mm, pada permukaan buah. Letak becak-becak cenderung pada ujung buah.  Buah yang terserang berat, tampak seluruh permukaan buah dipenuhi bekas tusukan hitam dan kering, dimana kulit buah kering dan retak-retak. Buah muda berukuran kurang dari 5 cm menjadi kering dan rontok apabila terjadi serangan berat.

4. Pengendalian Kepik Penghisap Buah (KPB).

4.1. Pencegahan Serangan Kepik Penghisap Buah.

a. Pemupukan Secara Tepat.
Tanaman yang defisiensi unsur P dan K menjadi peka terhadap serangan hama ini. Dengan demikian pemberian pupuk secara teratur dan tepat dapat meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tanaman kakao terhadap hama ini. Peranan unsur P untuk mempertinggi daya regenerasi tanaman dari kerusakan. Sedangkan unsur K berperan penting pada proses asimilasi bertindak sebagai katalisator, serta memperkuat jaringan tanaman. Sebaliknya pemberian unsur N yang berlebihan dapat meningkatkan serangan, karena jaringan tanaman menjadi lunak.

b. Sanitasi Tanaman Inang Lainnya.
Beberapa jenis tanaman menjadi inang hama ini antara lain kapok, rambutan, dadap, albasia dan beberapa gulma. Pertanaman kakao perlu dibebaskan dari tanaman inang lainnya ini melalui tindakan sanitasi kebun.

c. Pengaturan Pohon Pelindung.
Pohon pelindung perlu dipangkas agar tidak terlalu lebat dan lembab, karena kepik ini tidak tahan angin dan sinar matahari langsung. Populasi kepik menjadi berkurang.

4.2. Langkah Kuratif Terhadap Kepik Penghisap Buah.

a. Pemetikan tunas air (wiwilan).
Tunas air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman kakao dan menjadi tempat peletakan telur hama ini. Pemetikan tunas air setiap 2 minggu dapat mengurangi populasi hama, karena telur yang terdapat pada tunas air akan ikut terbuang.

b. Secara Mekanis.
Secara mekanis dapat dilakukan dengan menangkap hama dengan tangan atau menggunakan bambu yang diberi perekat (getah tanaman) pada ujungnya. Kedua cara ini memerlukan banyak tenaga kerja, lagi pula kurang efektif.
Cara ketiga, dengan membungkus buah yang masih kecil (8-12 cm) menggunakan kantong plastic. Salah satu ujung plastik diikat dengan tali, sedangkan ujung lainnya dibiarkan terbuka. Cara ini untuk mengendalikan hama PBK juga.

c. Secara Hayati.
Semut hitam Dolichoderus thoracicus dan Dolichoderus bituberculatus dapat digunakan dalam pengendalian hama ini secara hayati. Hanya saja sebelum diintrokdusi ke lokasi baru perlu dibebaskan dari semut jenis lain yang menjadi pesaingnya. Disamping itu belalang sembah dan laba-laba dapat berperan sebagai predator. Parasit yang menyerang nimfa yaitu Euphorus helopeltidis.

      Hasil gambar untuk Semut hitam Dolichoderus thoracicus

Gambar 2. Semut hitam Dolichoderus thoracicus

Bagikan Artikel :