Pengaruh Digitalisasi dan Perubahan Pola Pikir Untuk Kemajuan Pertanian

Perputaran roda zaman melingkupi seluruh aspek kehidupan termasuk di dalamnya aktivitas di dunia pertanian. Beberapa pergeseran budaya, perilaku dan teknologi turut pula mempercepat arus perubahan yang berkembang sangat cepat.

Terutama dalam era digitalisasi dewasa ini. Pertanian turut pula menghiasi fenomena dalam berbagai atraksi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Melihat situasi yang demikian, pola, metode dan strategi pembangunan pertanian haruslah mampu menjangkau arus deras didepan tanpa meninggalkan kearifan yang menjadi warisan budaya.

Seiring dengan paradigma di dunia pertanian tersebut, telah pula dirancang berbagai program unggulan yang secara prinsip ada dua kepentingan yang menjadi mimpi yaitu ketersediaan pangan dalam jumlah, kualitas dan keberlanjutannya serta peningkatan kesejahteraan petani/ pelaku usaha yang menjadi tulang punggung produksi dan produktivitas komoditas pertanian.

Tujuan dari mimpi tersebut telah pula dijabarkan dalam berbagai aksi seperti pengutamaan pendidikan dan pelatihan vokasi serta penyiapan tenaga kerja dan pekerja yang kompeten dengan distandarisasinya tingkat kemampuan melalui sertifikasi  di berbagai jenis profesi  bidang pertanian.

Di sisi lainnya gambaran umum tentang petani kumuh, kotor, miskin, dekil telah pula menjadi trade mark yang selama ini melekat di profesi tersebut sehingga keinginan untuk mengubah image menjadi pula isu strategis dalam rangka menjadikan kembali pertanian berjaya dan diminati sebagai jenis profesi yang menjanjikan. Sebutan petani ke depan disosialisasikan istilah baru menjadi pelaku usaha pertanian atau wirausaha pertanian atau UMKM pertanian sehingga nilai tukar dan daya jualnya meningkat.

Tentu hal tersebut bukan cuma sebutan yang berubah namun pola pikir dan cara kerja serta kompetensinya juga berubah. Selain itu tak dapat disangkal bahwa dengan semakin tinggi persaingan usaha dan maraknya media sosial sebagai wahana berusaha turut pula menjadikan peluang usaha besar melalui digitalisasi teknologi dan pemasaran.

Perpaduan yang manis antara media sosial dengan tehnologi terbarukan terutama dengan mekanisasi/penggunaan alat dan mesin pertanian menjadikan usaha pertanian lebih efektif, efisien dan murah serta menyingkat waktu. Modifikasi teknologi terapan tersebut telah menginspirasi beberapa anak muda dari Jawa Tengah menciptakan teknologi pemupukan/ penyebaran benih atau penyemprotan pestisida dengan menggunakan drone sebagai alat dengan model remote control atau GPS. Hanya butuh seorang yang hobi bermain aeromodelling untuk dapat mengaplikasikan berbagai jenis pekerjaan di dunia pertanian (memupuk/menyemprot pestisida/menyebar benih) di tempat teduh dalam waktu singkat dan luas wilayah lebih besar seluruh tahap pekerjaan tersebut dapat terselesaikan.

Murah, gaya, modern dan tidak kumuh. Ini menarik bukan ? Semua item tersebut sebenarnya disemangati oleh pembelajaran yang telah diterima baik langsung atau tidak langsung dari Menteri pertanian, Andi Amran Sulaiman yang telah diadopsi oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Momon Rusmono dan disebarkan ke jajaran staf dan pelaku usaha pertanian di pusat (Jakarta) atau di daerah termasuk  Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan.

Empat poin yang menjadi andalan adalah ekerja harus memberikan yang terbaik, bekerja harus fokus, bekerja harus cepat terutama dalam mengambil keputusan karena kesempatan/momen hanya datang sekali, begitu kesempatan terlepas maka akan susah untuk mendapatkan kembali, bekerja/ beraktivitas berorientasi pada hasil. Keempat hal tersebutlah akhirnya melandasi mimpi SDM pertanian kedepan yang diarahkan menjadi SDM profesional, mandiri dan berdaya saing.

 

Bagikan Artikel :