SEANDAINYA TERSEDIA DAN BOLEH MEMILIH (Contoh patron seorang pemimpin)

Sudah lebih dari 15 abad yang lalu telah lahir seorang laki-laki dari kalangan bangsawan Qurais, beliau bernama Umar bin Khattab. Seorang yang telah mengubur anak perempuannya sendiri sebelum mengenal Islam dan menjadi penjaga Islam ketika hidayah telah menghampirinya. Rahasia hati dan petunjuk hanya milik Alloh SWT, manusia hanya pelaku yang melakonkannya.

        Salah satu  kisah yang sampai sekarang menancap dalam ingatan dan dapat menjadi contoh baik adalah suatu kejadian di mana beliau pada saat itu menjadi khalifah dan berkenaan dengan anak beliau yang ingin menumpang cahaya lampu karena belajar. Sementara Umar bin Khattab pada saat yang sama sedang bekerja terkait dengan tugas kekhalifahan. Ketika Umar bin Khattab sedang bekerja maka dibiarkannya sang anak menumpang cahaya lampu dari fasilitas negara tersebut, namun ketika Umar bin Khattab telah selesai bekerja maka dimatikannya lampu tersebut padahal sang buah hati belum selesai belajar. Maka proteslah sang anak kepada Umar bin Khattab, wahai ayah, anda adalah aamirul mukminin yang memimpin negara ini ,dan aku adalah anakmu yang sedang belajar, kenapa ayah matikan lampu padahal aku belum selesai belajar, bukankah ayah ingin agar aku menjadi pandai?. Umar bin Khattab menjawab, wahai buah hati ayah, sungguh aku menginginkan engkau menjadi pintar dan kelak berguna bagi bangsa dan negaramu, tetapi fasilitas untuk belajar ini adalah milik negara yang diperuntukkan bagi kelangsungan bernegara. Ayah menggunakan lampu tersebut untuk negara sehingga pantas memakai fasilitas ini. Namun engkau bukanlah bekerja untuk negara sehingga tidak layak menggunakan fasilitas ini. Walaupun sekedar cahaya lampu, itu  adalah amanah yang kelak harus ayah pertanggungjawabkan kepada Alloh SWT tentang penggunaannya. Apakah engkau menginginkan ayah malu di hadapan Alloh SWT karena tidak mampu memegang amanah? Maka luruhlah hati sang buah hati dan menyadari kesalahan yang akan menelantarkan ayahnya.

        Betapa indah komunikasi sang anak dan sang khalifah. Seorang pemimpin yang bukan hanya tegas dan ditakuti oleh kaum Qurais sehingga dijuluki macan padang pasir, namun beliau memberi contoh, mengajar dan menunjukkan jalan terbaik untuk generasi muda. Komunikasi yang dibangun dengan kasih sayang serta menyandarkan pada pemahaman makna kebenaran akan hak dan kewajiban, negara dan pribadi, hubungan orang tua dan anak, rakyat dan pemimpin telah tergaris tegas dan sama sekali tidak dibuat samar. Pembelajaran tersebut selayaknya dapat diulang untuk dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari dari pemimpin terendah dalam keluarga sampai pemimpin negara.

        Andai masih tersedia pemimpin dengan karakter yang pandai menempatkan diri dan posisi seperti Umar bin Khattab, maka bolehlah kami para rakyat kecil memilih agar jalan lurus dan  tegas dapat terwujud dalam bermasyarakat dan bernegara, sehingga tidak akan terdengar lagi uang negara dipakai kebutuhan pribadi walaupun kecil atau barang –barang kantor pindah di rumah sendiri walaupun mungkin di kantor aset tersebut tidak / belum tertulis, atau tidak lagi alasan  dan kebutuhan pribadi difasilitasi oleh kantor hanya karena yang bersangkutan seorang pemimpin. Atau kemungkinan-kemungkinan lainnya seperti keistimewaan karena anak kita adalah anak pemimpin sehingga layak difasilitasi dan diperhatikan. Dalam era Umar bin Khattab semua aturan jelas ukurannya, bukan pribadi, bukan suku, bukan karena keturunan, juga bukan kekuatan dan kekuasaan tetapi pada patron yang telah digariskan oleh Muhammad SAW. Keadilan bukan milik Islam saja tetapi memanusiakan manusia apapun agamanya. Kasih sayang adalah untuk semesta dan manusia hanya salah satu unsurnya sehingga hak hewan, tumbuhan dan benda matipun diperhatikan. Kebenaran sifatnya mutlak bukan diotak-atik gatuk. Dan masa Umar bin Khattab adalah salah satu jaman keemasan karena setiap pemimpin mampu menunjukkkan diri sebagai contoh bagi rakyatnya, melayani rakyatnya bukan dilayani, memberi kepada rakyatnya bukan mengambil dan mengayomi bukan mengintimidasi. Era tersebut mengajarkan salah satu contoh bagaimana bersikap ketika manusia terpilih sebagai khalifah / pemimpin. Khalifah hanyalah pakaian maka berpakaianlah yang layak dan bagus dalam arti sebenarnya, khalifah adalah titipan maka buatlah yang menitipkan pada kita tersenyum karena titipannya dijaga dengan baik bukan digerogoti apalagi dihancurkan, khalifah adalah kasih sayang maka tebarkan ke setiap sudut hati makhluk akan kebesaran kasih sayang sehingga alam dunia terwujud, khalifah adalah ilmu maka manajemen kerakyatan yang disandarkan pada  kemakmuran negara dan masyarakat adalah target yang harus dicapai bukan kekayaan pribadi apalagi kelompok tertentu dan khalifah adalah cermin keadilan karena bumi diciptakan untuk ditempati semua makhluk Tuhan baik yang kaya/ miskin, rakyat/ pejabat, kulit hitam/putih/merah/coklat, berTuhan atau atheis karena sifat Rahman Rahim Ilahi.

 

Bagikan Artikel :