MOJOKERTO – Kementerian Pertanian terus mendorong penerapan pertanian berkelanjutan melalui pendekatan Climate Smart Agriculture (CSA) dalam budidaya padi. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa inovasi dalam sektor pertanian sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, meningkatkan produktivitas, dan memastikan ketahanan pangan nasional.
Hal ini juga sejalan dengan arahan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widhi Arsanti, yang menekankan pentingnya peningkatan kapasitas petani dan penyuluh dalam menerapkan praktik pertanian ramah lingkungan dan efisien.
Sebagai bagian dari upaya untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, dan memastikan ketahanan pangan, Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan menyelenggarakan kegiatan Temu Teknis Penyuluh Pertanian dengan tujuan Peningkatan Kapasitas dan Kelembagaan Penyuluhan Pertanian dengan Topik Budidaya Padi Cerdas Iklim.
Temu teknis yang diikuti oleh koordinator penyuluh dan penyuluh pertanian dari Kecamatan Jatirejo, Gondang, Pacet, Trowulan dan Dlanggu ini bertujuan untuk membekali peserta dengan teknik budidaya yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, efisien dalam penggunaan sumber daya, serta tetap menjaga hasil panen yang optimal.
Selama kegiatan temu teknis, peserta menerima materi mengenai berbagai teknik budidaya padi cerdas iklim, antara lain penggunaan pupuk organik sebagai alternatif pupuk kimia. Selain itu peserta juga diajarkan tentang pemupukan berimbang menggunakan perangkat uji tanah sawah (PUTS) dan Bagan Warna Daun (BWD). Metode ini membantu menentukan dosis pupuk dasar nitrogen, fosfor, dan kalium (NPK) yang sesuai.
Untuk meningkatkan hasil panen, digunakan sistem budidaya padi jajar legowo, yang memungkinkan peningkatan produktivitas per hektar, memudahkan pengendalian gulma, serta memberikan ruang yang lebih luas bagi tanaman untuk tumbuh dengan baik.
Dalam aspek perlindungan tanaman, peserta diberikan pemahaman tentang penerapan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) terpadu yang mengutamakan penggunaan pestisida alami serta pemanfaatan musuh alami untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis yang dapat merusak keseimbangan ekosistem.
Dan terakhir, pemilihan benih yang tepat juga menjadi perhatian utama. Petani dianjurkan untuk menggunakan varietas unggul spesifik lokasi yang memiliki produksi tinggi, tahan terhadap cekaman lingkungan, dan memiliki emisi yang lebih rendah, sehingga lebih adaptif terhadap kondisi perubahan iklim.
Menurut Nunung Nurhadi, Widyaiswara BBPP Ketindan yang mengajar pada temu teknis, CSA adalah solusi terbaik untuk budidaya padi berkelanjutan karena menggabungkan aspek adaptasi terhadap perubahan iklim, mitigasi dampak lingkungan, dan peningkatan produktivitas pertanian.
“Keberhasilan implementasi CSA sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, penerapan teknologi tepat guna, serta partisipasi aktif petani. Dengan pendekatan ini, petani dapat menyesuaikan pola tanam, mengelola sumber daya secara efisien, dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, seperti emisi gas rumah kaca,”jelas Nurhadi. Nurhadi*
Diterbitkan di lajurpertanian.com dan megapolitannews.com