Jember – Kementerian Pertanian terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia pertanian melalui Program Brigade Pangan sebagai upaya mendukung percepatan swasembada pangan nasional. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membekali anggota Brigade Pangan dengan teknologi pemupukan spesifik lokasi dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) guna meningkatkan produktivitas lahan dan Indeks Pertanaman (IP).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa petani muda memiliki peran strategis dalam mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan modern. Menurutnya, generasi muda menjadi motor penggerak inovasi, adopsi teknologi, dan kewirausahaan di sektor pertanian.
“Generasi muda adalah energi baru yang dibutuhkan untuk memastikan keberlanjutan dan kemandirian pangan Indonesia,” ujar Mentan Amran.
Ia menambahkan, kesungguhan dalam mengelola usaha tani akan menjadi modal penting dalam memperkuat perekonomian nasional. “Perubahan besar tidak selalu lahir dari jumlah yang besar, tetapi dari keberanian untuk memulai,” tegasnya.
Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan regenerasi petani merupakan kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya usia petani dan tantangan pemenuhan kebutuhan pangan nasional.
“Petani kita semakin berumur, sementara kebutuhan pangan terus meningkat. Mendorong regenerasi petani adalah langkah penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Nurul Qomariyah, menjelaskan bahwa pelatihan Brigade Pangan dirancang untuk membentuk pelaku utama pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Menurutnya, keberhasilan Brigade Pangan sangat ditentukan oleh kemampuan anggotanya dalam mengambil keputusan budidaya berdasarkan kondisi spesifik lokasi, sehingga penguasaan teknologi pemupukan berimbang dan pengendalian OPT menjadi kompetensi yang harus dimiliki.
Sebagai implementasi upaya tersebut, BBPP Ketindan menyelenggarakan Pelatihan Teknis Brigade Pangan sebanyak dua angkatan di Kabupaten Jember. Angkatan pertama berlangsung pada 22–24 Juni 2026 dan angkatan kedua pada 25–27 Juni 2026. Pelatihan diikuti anggota Brigade Pangan dari berbagai kawasan Optimasi Lahan (Oplah) sebagai bekal dalam mengelola usaha tani padi secara profesional dan berbasis teknologi.
Salah satu materi utama yang diberikan adalah Pemupukan Padi Spesifik Lokasi dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Utama Tanaman Padi yang disampaikan oleh Widyaiswara BBPP Ketindan, Nunung Nurhadi. Materi ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta dalam menentukan rekomendasi pemupukan yang tepat sekaligus menerapkan pengendalian OPT secara terpadu untuk mendukung peningkatan produktivitas padi.
Dalam pemaparannya, Nunung menjelaskan bahwa keberhasilan budidaya padi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pupuk yang diberikan, tetapi juga ketepatan jenis, dosis, waktu, dan cara aplikasi sesuai kondisi lahan. Pendekatan Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi (PHSL) digunakan untuk menyesuaikan kebutuhan hara berdasarkan kondisi tanah dan target hasil sehingga pemupukan menjadi lebih efisien dan efektif.
Peserta juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesuburan tanah melalui penggunaan pupuk organik dan pengembalian jerami ke lahan. Langkah tersebut dinilai mampu mempertahankan kandungan bahan organik serta cadangan unsur hara, khususnya kalium, yang sangat dibutuhkan tanaman padi.
Selain itu, peserta mempelajari penggunaan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) sebagai alat analisis cepat kandungan nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), dan pH tanah. Melalui hasil analisis tersebut, petani dapat menyusun rekomendasi pemupukan yang lebih tepat sesuai kondisi lahan masing-masing.
Pada sesi pengendalian OPT, Nunung menekankan pentingnya penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Ia menjelaskan bahwa meningkatnya serangan hama dan penyakit sering dipicu oleh ketidakseimbangan ekosistem, seperti penggunaan pupuk nitrogen berlebihan, rendahnya kandungan bahan organik tanah, perubahan iklim, penggunaan varietas rentan, hingga aplikasi pestisida yang tidak bijaksana.
Melalui peningkatan kapasitas teknis ini, Brigade Pangan di Kabupaten Jember diharapkan mampu mengoptimalkan pengelolaan lahan, meningkatkan Indeks Pertanaman, serta mendorong peningkatan produksi padi sebagai kontribusi nyata dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. Nurhadi*
Diterbitkan di https://megapolitannews.com/2026/06/27/dibekali-teknologi-pemupukan-spesifik-lokasi-bp-jember-siap-tingkatkan-indeks-pertanaman/


