Telp/Fax 0341-927123 / 429725

|

Fakta Inpari 32 HDB Merajai Sawah Kota Denpasar, Apa Bahayanya?

Nadif
Oct 16, 2026

Devita Ari Safitri, S.P

Sudah rahasia umum jika Padi (Oryza sativa L.) menjadi komoditas tanaman pangan utama sekaligus tulang punggung stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan nasional di Indonesia. Di Kota Denpasar, sektor pertanian subsisten dan perkotaan kini dihadapkan pada tantangan menyempitnya ketersediaan lahan serta dampak perubahan iklim lokal. Salah satu langkah strategis yang dilakukan ialah mendorong penggunaan benih Varietas Unggul Baru (VUB) inbrida untuk mengoptimalkan produksi dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Namun, ketersediaan varietas unggul padi yang semakin beragam ternyata tidak sejalan dengan kemerataan adopsi di lapangan. Data inventarisasi UPTD BPSBTPHBUN Provinsi Bali mengenai sebaran varietas padi inbrida di Kota Denpasar untuk periode Januari hingga Agustus 2026 mengungkap sebuah ketimpangan yang sangat tajam. Dari 11 varietas yang tercatat ditanam oleh petani, adopsi benih mengalami konsentrasi yang ekstrem. Inpari 32 HDB tampil mendominasi secara mutlak sebagai varietas dominan dengan luas penyebaran mencapai 1.364,25 hektar, atau menguasai 73,80% dari total lahan. Sementara itu, posisi moderat diisi oleh varietas legendaris Ciherang seluas 361,40 hektar atau 19,55% dan Cakrabuana Agritan seluas 110,29 hektar atau 5,97%. Delapan varietas lainnya seperti M 70D, Baroma, Sunggal, Inpari 39 Tadah Hujan Agritan, Lokal, Cisaat, Inpari VTE 13, dan Respati, hanya menjadi varietas minor dengan total akumulasi proporsi kurang dari 1%.

WhatsApp Image 2026-10-16 at 10.12.45.jpeg Sumber: UPTD. BPSBTPHBUN Provinsi Bali (2026)

Mengapa petani di Denpasar seolah fanatik pada varietas Inpari 32 HDB? Pada praktiknya, pemilihan benih tidak terjadi secara acak, melainkan didorong oleh pertimbangan teknis, kesesuaian lahan, dan keunggulan agronomis yang dinilai menguntungkan. Inpari 32 HDB diunggulkan karena memiliki daya hasil tinggi, postur tanaman kokoh yang tahan terhadap rebah, serta rendemen beras giling yang amat disukai oleh pelaku penggilingan maupun pedagang setempat. Lebih dari itu, varietas ini diandalkan atas ketahanannya terhadap Hawar Daun Bakteri (HDB) yang kerap menjadi ancaman mematikan di lahan irigasi.

Di sisi lain, Ciherang, varietas yang telah dirilis sejak tahun 2000, tetap mampu mempertahankan pangsa pasarnya. Hal ini tidak lepas dari jaminan kepastian pasar, rasa nasi yang pulen dan cocok dengan selera konsumen lokal, serta pengalaman budidaya petani yang sudah sangat mengakar.

Ada pula fenomena menarik terkait adopsi varietas Cakrabuana Agritan dan M 70D. Meskipun cakupannya tidak sebesar dua varietas di atas, adopsi keduanya didorong oleh sifat umurnya yang sangat genjah atau cepat panen. Fitur biologis ini dimanfaatkan oleh petani secara cerdas sebagai strategi adaptasi untuk menyiasati ketersediaan air irigasi yang terbatas. Tidak hanya itu, kelebihan ini dimanfaatkan sebagai jalan untuk mempercepat indeks pertanaman. Porsi sangat kecil dari varietas minor lainnya lebih banyak diindikasikan sebagai area skema uji coba adaptasi varietas baru atau sekadar ditanam di lahan marjinal spesifik.

WhatsApp Image 2026-10-16 at 10.13.51.jpeg Sumber: UPTD. BPSBTPHBUN Provinsi Bali (2026)

Dari kacamata sains agronomis, konsentrasi perbenihan yang begitu padat pada satu varietas tunggal hingga menyentuh angka 73,80%, bukanlah sekadar tren, melainkan ancaman ekologis yang nyata. Penanaman Inpari 32 HDB secara masif dan terus-menerus berisiko besar memicu kerentanan lingkungan. Secara biologis, kondisi pola monokultur yang terbentuk berpotensi merusak ketahanan bawaan tanaman terhadap hama dan patogen di masa depan. Resistensi tanaman dapat dengan mudah dipatahkan oleh tekanan seleksi yang melahirkan biotipe atau ras baru hama wereng cokelat maupun patogen penyakit HDB.

Fenomena dominasi benih tersebut harus didorong menjadi landasan perumusan kebijakan perbenihan dan penyuluhan pertanian yang lebih tepat sasaran. Berkaitan dengan upaya pencegahan lahirnya patogen yang kebal dan mencegah ancaman gagal panen di kemudian hari, Pemerintah Kota Denpasar melalui dinas terkait dihimbau untuk segera mengedukasi petani perihal pentingnya pergiliran atau rotasi varietas.

Selain itu, demonstrasi dan promosi terhadap keanekaragaman benih mutlak dilakukan. Penyediaan akses benih dan sosialisasi Varietas Unggul Baru (VUB) alternatif yang tak kalah prospektif, seperti Cakrabuana Agritan atau Respati, harus ditingkatkan agar diversifikasi varietas di lahan sawah benar-benar terwujud. Menggantungkan nasib pangan pada satu varietas unggul layaknya meletakkan seluruh telur dalam satu keranjang yang rapuh.

Editor : Saptini Mukti Rahajeng

Sumber Gambar : https://unsplash.com/s/photos/rice-plant

Similar Post