Telp/Fax 0341-927123 / 429725

|

Jangan Tunggu Parah, Petani Jombang Kendalikan Wereng Sejak Tanaman Muda

Najia
Sep 03, 2026

Serangan wereng menjadi salah satu ancaman yang perlu diantisipasi dalam budidaya padi. Karena itu, sebanyak 21 petani anggota Kelompok Tani Keboan, Desa Keboan, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, melakukan Gerakan Pengendalian (Gerdal) wereng secara serentak saat tanaman padi berumur sekitar 20 hari setelah tanam (HST), Rabu (2/9/2026).

Pengendalian sejak fase awal pertumbuhan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi agar populasi hama tidak berkembang dan meluas hingga berpotensi mengganggu pertumbuhan serta produktivitas tanaman.

Kegiatan yang berlangsung langsung di lahan pertanian itu didampingi penyuluh pertanian dan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), serta dihadiri Kepala Desa Keboan, Sofiyudin. Pengendalian diawali dengan pengamatan kondisi tanaman dan keberadaan hama untuk menentukan tindakan yang sesuai dengan kondisi lapangan.

Sofiyudin mengapresiasi kekompakan petani bersama penyuluh dan POPT dalam menjaga tanaman padi sejak dini. Menurutnya, pendampingan petugas sangat membantu petani dalam meningkatkan kewaspadaan sekaligus menentukan langkah pengendalian yang tepat.

“Petani tidak boleh berjalan sendiri. Dengan adanya pendampingan penyuluh dan POPT, kami berharap tanaman padi di Desa Keboan dapat tumbuh sehat dan hasil panennya meningkat. Yang paling penting adalah kebersamaan dan kepedulian untuk menjaga tanaman sejak dini,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan pengendalian secara bersama-sama juga memperkuat gotong royong antara pemerintah desa, kelompok tani, dan petugas pertanian dalam menjaga produktivitas lahan.

Ketua Kelompok Tani Keboan, Hartono, mengatakan kegiatan Gerdal menjadi sarana bagi anggota kelompok untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan hama.

“Kami mengajak seluruh anggota kelompok untuk kompak melakukan pengamatan tanaman. Kalau ada tanda-tanda serangan wereng, jangan menunggu sampai parah. Dengan pendampingan penyuluh dan POPT, kami menjadi lebih paham bagaimana melakukan pengendalian dengan tepat,” katanya.

Hartono berharap kegiatan pengamatan dan pengendalian dapat dilakukan secara berkelanjutan sehingga petani semakin terampil dan mandiri dalam mengenali serta menangani organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian yang mendampingi Kelompok Tani Keboan, Lailis, menjelaskan bahwa pengendalian wereng harus berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, terutama ketika tanaman masih berada pada fase awal pertumbuhan.

“Kegiatan hari ini merupakan bentuk pengendalian secara dini. Tanaman masih berumur sekitar 20 hari, sehingga pengamatan harus terus dilakukan. Pengendalian hendaknya dilakukan berdasarkan hasil pengamatan dan rekomendasi petugas, sehingga efektif dan tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan,” ujarnya.

Lailis mengingatkan petani agar tidak menunggu hingga serangan berkembang luas. Pengamatan tanaman secara rutin dan komunikasi dengan penyuluh serta POPT menjadi bagian penting dalam penerapan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan secara terpadu.

Langkah Kelompok Tani Keboan tersebut sejalan dengan upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam memperkuat perlindungan tanaman melalui pengendalian OPT secara dini, terpadu, dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut penting untuk mencegah potensi kehilangan hasil sekaligus menjaga keberlanjutan produksi padi.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa perlindungan tanaman merupakan bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian dan mendukung percepatan swasembada pangan. Menurutnya, pengendalian OPT perlu dilakukan sedini mungkin agar potensi gangguan terhadap produksi dapat ditekan.

Mentan Amran juga menekankan pentingnya peran penyuluh sebagai ujung tombak pendampingan petani di lapangan.

“Penyuluh adalah penggerak utama di lapangan,” ujar Mentan Amran, seraya menegaskan pentingnya penguatan peran penyuluh dalam mendukung pelaksanaan program pembangunan pertanian.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya kolaborasi antara petani, penyuluh, dan POPT dalam melakukan pencegahan serta pengendalian OPT.

Menurut Idha, sinergi tersebut memungkinkan potensi serangan hama dapat diketahui lebih cepat sehingga tindakan pengendalian dapat dilakukan secara tepat sesuai kondisi lapangan.

Gerdal wereng di Kelompok Tani Keboan menunjukkan bahwa perlindungan tanaman dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni pengamatan rutin dan respons cepat terhadap gejala serangan. Dengan kolaborasi antara petani, penyuluh, POPT, dan pemerintah desa, tanaman padi di Desa Keboan diharapkan tumbuh sehat, produktif, dan mampu menghasilkan panen optimal.

Similar Post