Telp/Fax 0341-927123 / 429725

|

Manfaatkan Lahan Sempit, Petani Kota Kediri Kembangkan Budidaya Melon Hidroponik

Najia
Dec 05, 2025

Jelang musim panen melon, penyuluh pertanian lapangan (PPL) Kota Kediri, Agus Fatony Tohari lakukan pendampingan intensif kepada salah satu petani binaannya Purwo Widodo. Pendampingan berlangsung di greenhouse milik Purwo yang berlokasi di P4S Langgeng Mazaya, Lingkungan Bance, Kelurahan Pakunden, Kota Kediri.

Dengan memanfaatkan lahan terbatas, Purwo membangun greenhouse sistem fertigasi menggunakan konstruksi berbahan dasar bambu yang dinilai lebih ekonomis namun tetap kokoh dan efektif menjaga stabilitas lingkungan tumbuh tanaman melon. Pemanfaatan bambu sebagai rangka greenhouse menjadi perhatian karena menawarkan biaya pembangunan yang lebih ringan, namun tetap mampu menciptakan lingkungan terkontrol bagi tanaman. Kondisi suhu, kelembapan, hingga intensitas cahaya dapat dikelola lebih optimal dibandingkan budidaya di lahan terbuka.

“Greenhouse berbahan bambu ini terbukti efektif dan sangat cocok untuk petani skala kecil maupun menengah. Biayanya terjangkau, namun manfaatnya besar bagi kualitas dan produktivitas melon,” ujar Fatony, sapaan akrabnya.

Varietas melon yang dibudidayakan oleh Purwo Widodo adalah Inthanon, jenis varietas unggul yang terkenal adaptif terhadap kondisi agroklimat setempat dan memiliki potensi hasil tinggi. Melalui sistem fertigasi, kebutuhan nutrisi tanaman dapat diberikan secara presisi, sehingga menekan risiko gagal panen.

Melon hidroponik juga dikenal memiliki kualitas lebih seragam, rasa lebih manis, dan tingkat kebersihan yang lebih terjamin. Hal ini membuat peminatnya terus meningkat, terutama di pasar modern dan komunitas konsumen sehat.

Purwo Widodo mengungkapkan, hasil panennya sudah terserap pasar melalui jaringan reseller. “Harga awal sekitar Rp19.000 per kilogram, dan di tingkat konsumen akhir bisa mencapai Rp25.000 per kilogram. Angka ini cukup menjanjikan, terlebih di tengah fluktuasi harga hortikultura,” ujarnya.

Fatony, penyuluh pendamping menegaskan, pendampingan teknologi budidaya modern menjadi salah satu fokus utama di lapangan. Menurutnya, petani semakin membutuhkan inovasi untuk bersaing, sekaligus memastikan produksi tetap stabil.

Dukungan terhadap modernisasi pertanian ditegaskan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, yang menyampaikan, modernisasi pertanian termasuk penggunaan mekanisasi, teknologi tepat guna, dan sistem budidaya modern menjadi kunci untuk meningkatkan produksi pangan nasional serta kesejahteraan petani.

“Transformasi dari pertanian tradisional ke modern akan menekan biaya produksi dan meningkatkan hasil,” ujar Mentan Amran.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa keberadaan penyuluh dan peran BPP/P4S dalam mendampingi petani merupakan fondasi penting dan garda terdepan yang memastikan adopsi teknologi dilapangan berjalan efektif, dengan pendampingan yang tepat petani dapat mengoptimalkan produktivitas, memperkuat ketahanan pangan serta implementasi keberhasilan program modernisasi pertanian di tingkat petani.

Dengan pendampingan aktif dari penyuluh, penerapan teknologi sederhana namun efektif seperti greenhouse bambu dan sistem fertigasi serta dukungan kebijakan dari pemerintah pusat, petani hortikultura di Kediri diharapkan mampu meningkatkan hasil panen, memperluas akses pasar serta meningkatkan kesejahteraan petani.

Similar Post