Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan terus berupaya dalam rangka optimasi lahan untuk meningkatkan hasil pertanian Indonesia dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan berkelanjutan. BBPP Ketindan memiliki fasilitas berupa greenhouse smart farming sebanyak 12 unit dan lahan praktIk seluas 1,1 Ha. Fasilitas tersebut ditanami beberapa komoditas strategis baik tanaman pangan seperti padi, ubi kayu dan ubi jalar dan hortikultura seperti: kacang tanah, kacang panjang, kangkung, selada, selada, terong, pakchoy dan lain-lain.
Selain berfungsi sebagai lahan praktek bagi peserta pelatihan, budidaya pertanian yang dilakukan dapat berdampak terhadap peningkatan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berasal dari sarana produksi yang di kelola oleh UPT Pelatihan Pertanian. Guna memberikan hasil yang optimal, maka perlu memperhatikan aspek budidaya pertanian.
Adanya implementasi teknologi budidaya yang tepat dan dilakukan secara intensif dapat meningkatkan hasil panen dan pendapatan. Petani perlu memahami bahwa lahan merupakan suatu sistem yang tersusun atas komponen struktural yang memiliki karakteristik lahan dan komponen fungsional yang berkaitan dengan kualitas lahan. Kedua komponen tersebut yang menentukan tingkat kesesuaian terhadap penanaman suatu komoditas pertanian.
Selanjutnya, pemanfaatan lahan ini tidak hanya didasarkan pada aspek budidaya saja, namun juga memperhatikan aspek pasar dimana komoditas pertanian yang dibudidayakan harus sesuai dengan kebutuhan pasar. Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan saat ini berupaya untuk menjadi role model dalam mengelola dan memanfaatkan lahan secara optimal.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa cetak sawah dan optimasi lahan merupakan solusi konkret dalam mengantisipasi alih fungsi lahan, krisis pangan global dan dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian nasional.
“Cetak sawah dan optimasi lahan adalah kunci untuk menjamin ketersediaan pangan nasional dan kesejahteraan petani. Kita tidak boleh bekerja biasa-biasa saja,” tegas Mentan Amran.
Secara terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Idha Widi Arsanti mengatakan bahwa untuk mengembangkan usahatani perlu ekosistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Oleh karena itu sangat tepat jika BBPP Ketindan ke depan juga mengembangkan hilirisasi pertanian melalui inovasi pengolahan hasil pertanian agar dapat meningkatkan nilai tambah.


