Telp/Fax 0341-927123 / 429725

|

Panen PM-AAS di Sambas, Petani Mulai Melihat Pertanian Modern sebagai Pilihan Baru

Nadif
Aug 19, 2026

SAMBAS – Hamparan sawah di Kecamatan Semparuk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, menjadi saksi tumbuhnya kepercayaan petani terhadap teknologi pertanian modern.

Panen padi dengan penerapan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) pada Selasa (18/8/2026) tidak sekadar menandai berakhirnya satu musim tanam, tetapi juga menunjukkan perubahan cara pandang petani terhadap teknologi.

Bagi petani, inovasi tidak cukup dijelaskan. Teknologi harus dibuktikan di lahan, diamati hasilnya, lalu dirasakan manfaatnya. Proses itulah yang kini berlangsung di Semparuk. Salah satu penerapannya terlihat di Kelompok Tani (Poktan) Dare Nandung I yang diketuai Sukiman.

Berdasarkan catatan BRMP Kalimantan Barat, pada Mei 2026 penerapan PM-AAS di Kecamatan Semparuk telah mencakup sekitar 30 hektare. Pada panen kali ini, produktivitas yang dicapai mencapai 9,1 ton per hektare.

Capaian tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran petani dalam melihat langsung penerapan sistem pertanian modern. PM-AAS menggabungkan berbagai pendekatan, mulai dari teknologi budidaya, mekanisasi, pengelolaan air, penggunaan varietas unggul, hingga pengelolaan usaha tani yang lebih efisien.

Pemerintah mendorong penerapan sistem ini sebagai bagian dari transformasi pertanian untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi penggunaan sumber daya dan biaya produksi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa modernisasi pertanian merupakan langkah strategis untuk memperkuat produksi pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

“Pertanian Modern–Advanced Agricultural System merupakan hasil pengembangan yang menggabungkan sistem tanam Arkansas dengan pola tanam jajar legowo. Metode ini mampu meningkatkan populasi tanaman sekaligus mempertahankan kualitas pertumbuhan,” ujar Mentan Amran.

Menurutnya, pola tanam tersebut memungkinkan tanaman memperoleh cahaya matahari lebih optimal sehingga proses fotosintesis berlangsung lebih efektif.

Peningkatan populasi tanaman dan pengelolaan budidaya yang lebih baik diharapkan berdampak pada peningkatan produktivitas.

Penerapan PM-AAS di Semparuk juga disesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi. Teknologi yang diterapkan meliputi budidaya modern Arkansas, pengelolaan air melalui Alternate Wetting and Drying (AWD), pemanfaatan smart farming, serta pengelolaan budidaya yang diarahkan pada efisiensi sumber daya dan peningkatan produktivitas.

Karena itu, panen kali ini penting bukan hanya karena capaian produksi. Panen juga menjadi ruang evaluasi untuk melihat sejauh mana teknologi yang diterapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi petani.

Di balik proses adopsi teknologi tersebut, peran penyuluh sangat penting. Petani membutuhkan pendamping yang mampu menjelaskan teknologi, membantu penerapannya di lapangan, sekaligus menjadi mitra saat menghadapi persoalan selama budidaya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya penguatan kapasitas penyuluh untuk mempercepat penerapan inovasi di tingkat petani.

“Penguatan kapasitas penyuluh harus terus dilakukan agar mampu mendampingi petani dalam menerapkan teknologi budidaya yang efektif, efisien, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Pendampingan tersebut penting karena adopsi teknologi merupakan sebuah proses. Petani tidak serta-merta meninggalkan cara lama hanya karena hadirnya teknologi baru.

Mereka membutuhkan bukti, pengalaman, dan keyakinan bahwa teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi usaha tani.

Di Semparuk, proses itu mulai terlihat. Apa yang sebelumnya hanya menjadi materi sosialisasi mengenai pertanian modern kini telah diuji langsung di lahan petani. Hasil panen kemudian menjadi bahan pertimbangan bagi petani untuk menerapkan teknologi pada musim tanam berikutnya.

Dengan demikian, penyuluh tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai agent of change yang menjembatani inovasi dengan kebutuhan nyata petani.

Ketua Poktan Dare Nandung I, Sukiman, melihat penerapan PM-AAS bukan hanya dari sisi produksi. Peningkatan produktivitas juga membuka peluang memperkuat kemandirian produksi beras di Sambas.

Peluang tersebut bahkan dapat diarahkan untuk mendukung program pemerintah dan memperluas pasar beras, termasuk ke Malaysia.

Perspektif tersebut menunjukkan bahwa modernisasi pertanian tidak berhenti pada proses budidaya dan panen. Teknologi harus terhubung dengan aspek ekonomi, mulai dari efisiensi biaya produksi, peningkatan produktivitas, kualitas hasil, hingga akses pasar.

“Karena itu, keberhasilan PM-AAS di Semparuk tidak semata diukur dari capaian 9,1 ton per hektare pada panen kali ini. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelahnya. Apakah petani semakin yakin menggunakan teknologi, apakah petani lain mulai tertarik mencoba, dan apakah pengalaman dari satu hamparan dapat menyebar ke hamparan lainnya.” ujar Sukirman.

Sukirman menambahkan jika proses tersebut terus berkembang, panen PM-AAS di Semparuk bukan hanya menjadi catatan produksi satu musim tanam, tetapi juga titik awal perubahan cara pandang petani bahwa teknologi pertanian modern bukan sekadar program, melainkan pilihan yang memberikan manfaat nyata bagi usaha tani.

“Dari sawah di Semparuk, proses transformasi itu mulai terlihat: inovasi diperkenalkan, teknologi diuji, hasil diamati, dan kepercayaan petani mulai tumbuh,” tutup Sukiman. Dharma Irawan/ Laila Nuzuliyah*

Diterbitkan di https://megapolitannews.com/2026/08/19/panen-pm-aas-di-sambas-petani-mulai-melihat-pertanian-modern-sebagai-pilihan-baru/

Similar Post