Telp/Fax 0341-927123 / 429725

|

PM-AAS Kembali Diuji di UPT Pelatihan Kementan, Cara Baru Bertani Mulai Dikenalkan ke Generasi Muda

Nadif
Aug 19, 2026

Malang – Penerapan pertanian modern tidak cukup hanya dipahami melalui teori. Teknologi perlu dipraktikkan, diuji, dan dievaluasi secara langsung agar dapat dipahami secara utuh sekaligus menjadi pengalaman pembelajaran bagi sumber daya manusia pertanian.

Semangat tersebut kembali diwujudkan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan melalui penanaman padi dengan sistem Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di lahan praktik BBPP Ketindan, Selasa (18/8/2026).

Penanaman kali ini menjadi penerapan PM-AAS untuk kedua kalinya di lahan praktik BBPP Ketindan. Kepala BBPP Ketindan, Nurul Qomariyah, turun langsung melakukan penanaman bersama peserta Praktik Kerja Lapangan (PKL), unsur pimpinan, dan Widyaiswara.

Penerapan kedua tersebut dilakukan setelah penggunaan PM-AAS pada musim tanam sebelumnya memberikan hasil panen yang menggembirakan. Pengalaman tersebut menjadi dasar untuk kembali menerapkan sistem yang sama sekaligus menjadikan lahan praktik sebagai ruang pembelajaran pertanian modern.

Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi peserta PKL dan Widyaiswara untuk melihat secara langsung bagaimana konsep pertanian modern diterapkan di lapangan. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dilanjutkan dengan pengalaman praktik yang dapat diamati dan dievaluasi bersama.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa transformasi menuju pertanian modern merupakan langkah strategis untuk mewujudkan swasembada pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

“Pertanian Modern–Advanced Agricultural System merupakan hasil pengembangan yang menggabungkan sistem tanam Arkansas dengan pola tanam jajar legowo. Metode ini mampu meningkatkan populasi tanaman sekaligus mempertahankan kualitas pertumbuhan,” ujar Mentan Amran.

Menurutnya, penerapan PM-AAS memungkinkan tanaman memperoleh cahaya matahari secara lebih optimal sehingga proses fotosintesis berlangsung lebih efektif. Pengaturan tersebut diharapkan mampu meningkatkan populasi tanaman sekaligus mendorong peningkatan produktivitas padi.

Sejalan dengan agenda transformasi pertanian, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian agar mampu mengikuti perkembangan teknologi.

“Penguatan kapasitas penyuluh harus terus dilakukan agar mampu mendampingi petani dalam menerapkan teknologi budidaya yang efektif, efisien, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Di BBPP Ketindan, penerapan PM-AAS tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produksi padi. Lebih dari itu, lahan tersebut dimanfaatkan sebagai media pembelajaran bagi calon sumber daya manusia pertanian agar memahami teknologi melalui pengalaman langsung.

Kepala BBPP Ketindan, Nurul Qomariyah, mengatakan penanaman kedua ini menggunakan alat sederhana yang telah dimodifikasi oleh tim di lapangan. Keterlibatan pimpinan, peserta PKL, dan Widyaiswara menjadi bagian dari upaya memberikan contoh penerapan teknologi secara langsung.

“Alhamdulillah, pagi ini kita kembali melakukan penanaman padi dengan sistem PM-AAS. Ini merupakan penanaman yang kedua setelah sebelumnya memperoleh hasil yang baik. Kegiatan ini kita lakukan bersama anak-anak PKL, unsur pimpinan, dan Widyaiswara agar dapat menjadi pembelajaran dan praktik langsung di lapangan. Mudah-mudahan penerapan PM-AAS ini dapat menjadi motivasi bagi para petani maupun generasi milenial untuk semakin tertarik menanam padi dengan sistem pertanian modern,” ujar Nurul.

Keterlibatan pimpinan dalam kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penerapan teknologi pertanian modern menjadi bagian dari proses pembelajaran yang perlu dibangun melalui praktik nyata. Peserta PKL memperoleh pengalaman langsung mengenai proses budidaya, sementara Widyaiswara memiliki ruang untuk mengintegrasikan materi pembelajaran dengan kondisi lapangan.

Lahan praktik pun tidak sekadar menjadi tempat produksi padi. Lahan tersebut dapat berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran untuk mengenalkan inovasi, menguji penerapan teknologi, serta membangun pemahaman mengenai efisiensi dan produktivitas dalam usaha tani.

Bagi generasi muda pertanian, pengalaman tersebut menjadi penting untuk membangun perspektif bahwa sektor pertanian terus berkembang. Pertanian tidak lagi hanya identik dengan metode konvensional, tetapi dapat dikembangkan melalui teknologi, mekanisasi, inovasi, dan pengelolaan yang lebih modern.

Penerapan PM-AAS secara berkelanjutan di BBPP Ketindan diharapkan dapat memperkuat fungsi lahan praktik sebagai sarana pembelajaran sekaligus menjadi contoh penerapan teknologi yang dapat dipelajari oleh peserta pelatihan, peserta PKL, penyuluh, maupun sumber daya manusia pertanian lainnya.

Dengan demikian, penanaman padi untuk kedua kalinya ini bukan sekadar mengulang kegiatan pada musim sebelumnya. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses membangun budaya pertanian modern melalui praktik, pembelajaran dan pengalaman langsung, sekaligus menyiapkan sumber daya manusia pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan mampu menjadi bagian dari regenerasi petani masa depan. Humas BBPP Ketindan

Diterbitkan di https://megapolitannews.com/2026/08/19/pm-aas-kembali-diuji-di-upt-pelatihan-kementan-cara-baru-bertani-mulai-dikenalkan-ke-generasi-muda/

Similar Post