Bondowoso – Upaya modernisasi pertanian tidak selalu bergantung pada teknologi berbiaya tinggi. Inovasi sederhana yang mudah diterapkan dan sesuai dengan kebutuhan petani justru menjadi salah satu langkah strategis dalam mendorong efisiensi budidaya. Hal inilah yang ditunjukkan para penyuluh pertanian Kabupaten Bondowoso melalui pengembangan alat tanam sederhana sebagai bagian dari implementasi Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa transformasi pertanian harus didorong melalui inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi petani.
“Pertanian harus dikelola dengan teknologi dan inovasi. Tidak harus selalu mahal, tetapi harus mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan mudah diterapkan di lapangan sehingga dapat mempercepat terwujudnya swasembada pangan,” tegas Mentan Amran.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan penyuluh memiliki peran penting sebagai penggerak adopsi inovasi di tingkat petani.
“Penyuluh harus menjadi agen perubahan yang mampu menjembatani inovasi dengan kebutuhan petani. Karena itu, peningkatan kompetensi penyuluh harus diikuti praktik langsung agar setiap teknologi yang diperkenalkan benar-benar dapat diterapkan di lapangan,” ujar Santi.
Sebagai implementasi PM-AAS, para penyuluh pertanian Kabupaten Bondowoso melaksanakan praktik pembuatan alat tanam sederhana berbahan pipa PVC (paralon) di Desa Selolembu, Kecamatan Curahdami. Alat tersebut dirancang sebagai teknologi tepat guna yang murah, mudah dibuat, dan dapat direplikasi oleh petani sesuai kondisi wilayahnya.
Proses pembuatan dilakukan secara gotong royong, mulai dari pengukuran, pemotongan bahan, hingga perakitan alat. Para penyuluh juga memberikan berbagai masukan berdasarkan pengalaman mendampingi petani sehingga desain alat semakin sesuai dengan kebutuhan budidaya di lapangan.
Setelah selesai dirakit, alat tanam tersebut langsung diuji coba di lahan pertanian setempat untuk mengukur kemudahan penggunaan, ketepatan penempatan benih, serta efektivitasnya dalam mendukung proses tanam.
Hasil pengujian menunjukkan alat dapat berfungsi dengan baik. Selain membantu menjaga keseragaman jarak tanam, alat ini juga berpotensi meningkatkan efisiensi proses tanam dengan biaya pembuatan yang relatif rendah karena memanfaatkan bahan yang mudah diperoleh.
Salah satu penyuluh yang terlibat, Hardi, berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan agar semakin bermanfaat bagi petani.
“Alat ini masih dapat terus disempurnakan sesuai kondisi lapangan. Harapannya, inovasi sederhana ini mampu membantu petani meningkatkan efisiensi tanam tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar,” ujarnya Selasa (14/7/26).
Selain praktik pembuatan alat, para penyuluh juga melakukan evaluasi terhadap hasil uji coba sebagai dasar penyempurnaan desain agar dapat diterapkan pada berbagai kondisi lahan.
Melalui kegiatan ini, penyuluh tidak hanya meningkatkan kapasitas teknis, tetapi juga memperkuat budaya inovasi dalam mendampingi petani. Implementasi PM-AAS melalui teknologi tepat guna diharapkan mampu mempercepat penerapan budidaya padi yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan sekaligus mendukung percepatan swasembada pangan nasional. Hardi/ Asep Koswara*
Diterbitkan di https://megapolitannews.com/2026/07/15/percepat-implementasi-pm-aas-di-tingkat-petani-penyuluh-bondowoso-ciptakan-alat-tanam-sederhana/


