Jombang – Transformasi sektor pertanian menuju pertanian modern membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang kompeten, inovatif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Regenerasi petani pun menjadi salah satu fokus utama pembangunan pertanian nasional guna memastikan keberlanjutan sektor pertanian di masa depan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam pembangunan pertanian. Menurutnya, keberhasilan pembangunan pertanian ke depan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Masa depan pertanian Indonesia ditentukan oleh kualitas karakter dan pola pikir generasi mudanya,” tegas Amran.
Sejalan dengan Mentan Amran, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya penguatan kapasitas generasi muda agar mampu menjadi pelaku utama pembangunan pertanian modern.
“Kami ingin menciptakan generasi muda pertanian yang adaptif, profesional, dan mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian di daerah masing-masing,” ujar Idha.
Sebagai bentuk dukungan terhadap regenerasi petani dan percepatan modernisasi pertanian, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan menyelenggarakan Pelatihan Smart Farming Terapan bagi pemuda tani Kamis (18/6/2026) di Gedung UPT Dinas Pertanian Kabupaten Jombang.
Kepala BBPP Ketindan, Nurul Qomariyah, menyampaikan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian merupakan investasi penting dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan. Melalui berbagai program pelatihan dan pendampingan, BBPP Ketindan terus berupaya mencetak petani muda yang mampu mengadopsi teknologi, berinovasi dalam usaha tani, serta menjadi pelaku utama pembangunan pertanian yang maju, mandiri, dan modern.
Pada kegiatan tersebut, Widyaiswara BBPP Ketindan, Nunung Nurhadi Nurhadi, menyampaikan materi Smart Farming Terapan yang berfokus pada pemanfaatan teknologi digital dalam budidaya tanaman, khususnya melalui penerapan greenhouse dan Internet of Things (IoT). Materi ini mendapat antusiasme tinggi dari para peserta yang ingin memperdalam pemahaman mengenai penerapan teknologi digital dalam usaha tani modern.
Dalam pemaparannya, Nunung Nurhadi menjelaskan bahwa smart farming merupakan konsep pertanian modern yang mengintegrasikan teknologi informasi, sensor digital, otomatisasi, dan pengelolaan data untuk meningkatkan efisiensi proses produksi pertanian. Melalui teknologi tersebut, petani dapat memantau kondisi lingkungan tanaman secara real time sehingga pengambilan keputusan budidaya dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat, dan berbasis data. Teknologi ini juga memungkinkan penghematan penggunaan air, pupuk, tenaga kerja, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi.
Peserta juga mendapatkan materi mengenai pengenalan model Greenhouse Korea yang menjadi salah satu contoh penerapan pertanian modern berbasis teknologi. Peserta memperoleh penjelasan mengenai desain bangunan greenhouse yang dirancang untuk menciptakan kondisi lingkungan tumbuh yang optimal bagi tanaman. Selain aspek bangunan, peserta juga mempelajari penerapan IoT pada greenhouse Korea yang memanfaatkan berbagai sensor untuk memantau suhu udara, kelembapan, intensitas cahaya, serta kondisi media tanam.
Selain itu, diperkenalkan pula Low Cost Greenhouse yang dikembangkan BBPP Ketindan sebagai alternatif greenhouse berbiaya terjangkau tanpa mengurangi fungsi utamanya sebagai sarana budidaya tanaman yang efektif. Pemanfaatan bahan lokal dan desain yang sederhana menjadikan model ini lebih mudah diadopsi oleh petani maupun kelompok tani.
Pada sesi budidaya dalam greenhouse, peserta mendapatkan penjelasan lengkap mengenai tahapan-tahapan budidaya yang harus dilakukan agar memperoleh hasil produksi yang optimal. Dilanjutkan materi berikutnya membahas teknik persemaian dan penanaman. Peserta diajarkan cara menghasilkan bibit yang sehat dan seragam melalui proses persemaian yang baik, mulai dari pemilihan benih hingga perawatan bibit sebelum dipindahkan ke area tanam.
Pengelolaan nutrisi dan fertigasi juga menjadi bagian penting dalam pelatihan ini. Nunung Nurhadi menjelaskan bahwa sistem fertigasi memungkinkan pemberian unsur hara dilakukan bersamaan dengan proses irigasi sehingga kebutuhan nutrisi tanaman dapat terpenuhi secara lebih efisien. Selain itu, peserta juga mendapatkan materi mengenai pemeliharaan tanaman yang meliputi penyiraman, pemangkasan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta monitoring kondisi lingkungan secara berkala. Di bagian akhir pelatihan, peserta memperoleh penjelasan mengenai teknik panen dan penanganan pascapanen yang baik.
Melalui pelatihan ini, para pemuda tani diharapkan semakin memahami pentingnya pemanfaatan teknologi dalam usaha pertanian modern. Penguasaan teknologi greenhouse dan IoT diharapkan mampu melahirkan generasi petani muda yang inovatif, produktif, dan siap menghadapi tantangan pertanian masa depan. Dengan semakin luasnya penerapan smart farming, sektor pertanian Indonesia diharapkan menjadi lebih maju, efisien, berdaya saing, serta mampu memberikan kontribusi yang lebih besar dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Nunung Nurhadi*
Diterbitkan di https://megapolitannews.com/2026/06/19/upt-kementan-siapkan-generasi-pertanian-masa-depan-melalui-smart-farming/


